JAKARTA, iNews.id - Pengamat politik, Boni Hargens menyoroti munculnya gelombang oposisi jalanan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, gerakan tersebut muncul karena terbatasnya ruang bagi suara kritis di parlemen.
"Di akar rumput muncur gelombang opisisi jalanan. Kalau tidak dicari titik temu akan menjadi terus bola liar. Opisisi jalanan itu mengacu pada gerakan opisisi nonparlemen di media sosial maupun dunia riil," kata Boni dalam program Rakyat Bersuara bertajuk "730 Hari Pemerintahan, Suara dan Harapan" yang disiarkan iNews, Selasa (20/10/2026).
Boni menilai, situasi politik saat ini berada di antara optimisme dan pesimisme yang turut memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di satu sisi, dia mengapresiasi kemampuan pemerintah dalam menghadapi berbagai gejolak politik selama dua tahun terakhir. Menurutnya, pengelolaan hubungan politik di parlemen berjalan efektif sehingga proses legislasi berlangsung relatif cepat.
"Optimistik pemerintah lihai mengatasi berbagai gejolak politik dalam dua tahun ini. Manajemen parlemen berlangsung sangat efektif dan efisien. Peran tokoh gerindra seperti Dasco signifikan. Legislasi berlangsung cepat dan lancar seperti RUU perampasan aset. Desember nanti jadi uu," ujarnya.
Meski demikian, Boni menilai konsentrasi kekuatan politik yang besar di parlemen menyisakan persoalan terkait ruang bagi kelompok oposisi. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi membuat aspirasi kritis masyarakat tidak tersalurkan melalui jalur politik formal.
"Hanya beberapa catatan aspek politik penguasaan big kelompok power terlalu besar di parlemen menyisakan opisisi sedikit konsekuensinya suara kritis aspirasi ga tertampung di parlemen bergerak oposisi jalanan," tutup Boni.
Editor: Rizky Agustian