Jakarta -
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya secara pribadi sedang berupaya memfasilitasi pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza.
Saat perang kedua negara hampir memasuki bulan kedelapan dan kenaikan harga bahan bakar mulai membebani pemilu sela AS, Trump melontarkan kemungkinan adanya tindakan militer lebih lanjut, jika Iran tidak menyepakati penyelesaian konflik melalui negosiasi.
Sementara itu, Netanyahu mengakui dirinya tengah melakukan diskusi dengan sejumlah negara yang mungkin bersedia menampung warga Gaza.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (24/10/2026):
- Trump Isyaratkan Operasi Militer Baru AS terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran, saat perang kedua negara hampir memasuki bulan kedelapan dan kenaikan harga bahan bakar mulai membebani pemilu sela AS.
Hal itu, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Sabtu (24/10/2026), disampaikan Trump saat membahas perang Iran dalam kampanye pemilu sela AS untuk Partai Republik di Florida pada Jumat (23/10) waktu setempat.
Dalam pidatonya pada kampanye itu, Trump menyinggung soal "Operation Midnight Hammer" dan "Operation Epic Fury", dua operasi militer AS terhadap Iran, yang diklaim olehnya telah merusak parah kemampuan nuklir Teheran.
- AS Disebut Bisa Serang Iran pada Akhir Pekan Ini
Amerika Serikat (AS) disebut dapat melancarkan serangan terbaru terhadap Iran paling cepat pada akhir pekan ini. Perkembangan situasi terbaru ini menyusul meningkatnya ancaman dari Washington maupun Israel.
Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, yang juga menangani urusan AS di Suriah, seperti dilansir AFP, Sabtu (24/10/2026), melontarkan kerangka waktu "akhir pekan ini" saat berbicara dalam wawancara dengan host podcast Mario Nawfal pada Jumat (23/10) waktu setempat.
"Apakah mungkin ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja," kata Barrack, yang sebenarnya tidak memiliki peran langsung terkait urusan Iran.
- Iran Perintahkan Pasukan Siap Tempur di Tengah Potensi Serangan AS
Pasukan militer Iran diminta untuk menjaga tingkat kesiapan tempur pada level tertinggi, di tengah potensi serangan terbaru Amerika Serikat (AS).
Perintah tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Sabtu (24/10/2026), disampaikan oleh Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi.
Dalam perintahnya, Jahanshahi juga memperingatkan pasukannya bahwa kelalaian dalam masa perang dapat berakibat serius.
- Netanyahu Akui Sedang Lobi Negara-negara untuk Tampung Warga Gaza
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya secara pribadi sedang berupaya memfasilitasi pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza. Netanyahu mengakui dirinya tengah melakukan diskusi dengan sejumlah negara yang mungkin bersedia menampung warga Gaza.
Dalam wawancara dengan media sayap kanan Israel, Channel 7, seperti dilansir Middle East Monitor, Sabtu (24/10/2026), Netanyahu mengatakan bahwa pemerintahannya sedang secara aktif menjajaki pengaturan agar warga Palestina dapat meninggalkan Jalur Gaza.
"Setiap warga Palestina di Gaza seharusnya memiliki kebebasan untuk pergi," kata Netanyahu dalam wawancara yang dilakukan menjelang pemilu legislatif Israel pada 27 Oktober mendatang.
- Perluas Penyelidikan Karhutla RI, Singapura Periksa 10 Perusahaan Lokal
Pemerintah Singapura memperluas penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Terbaru, otoritas Singapura meminta keterangan dari 10 perusahaan lokal, yang berbasis di negara tersebut, mengenai upaya mereka dalam menangani karhutla yang menjadi penyebab kabut asap beracun menyelimuti kawasan ini.
Otoritas Singapura, seperti dilansir AFP, Sabtu (24/10/2026), telah meningkatkan langkah-langkah untuk menanggulangi karhutla yang berlangsung selama berbulan-bulan, dan bertekad menempuh jalur hukum terhadap perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas karhutla yang menyebabkan kualitas udara di kawasan menjadi salah satu yang terburuk di dunia.
(nvc/nvc)