Paris -
Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Gedung sekolah rusak, kurangnya guru, serta kelas-kelas melebihi kapasitas jadi alasan para remaja di Prancis turun ke jalan. Aksi tersebut disertai kekerasan.
Paris -
Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu menuduh partai populis kiri La France Insoumise (LFI) berada di balik kekerasan tersebut. Gerakan protes ini merupakan "manuver terorganisir dari LFI dan sekutu-sekutu sayap kiri ekstremnya," demikian pernyataan yang dikeluarkan Kantor Perdana Menteri, mengutip informasi dari badan intelijen dalam negeri Prancis.
Koordinator LFI, Manuel Bompard, membantah tuduhan tersebut. Menurutnya, ini adalah "gerakan protes spontan merespons kondisi dunia pendidikan yang tidak layak". Pemimpin LFI, Jean-Luc Melenchon, sebelumnya menuduh pemerintah Prancis tengah melakukan represi. Partainya telah menyerukan perjuangan tanpa kekerasan, kata politisi tersebut.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis, 1.949 orang telah ditangkap terkait kerusuhan. Sebanyak 305 polisi dan polisi militer terluka. Namun, sekitar 170 siswa serta 65 petugas di bidang pendidikan juga terluka, sejak protes dimulai pekan lalu.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut "kekerasan tidak terkendali". Situasi telah memburuk dan "tidak lagi berkaitan dengan penyampaian tuntutan dari siswa secara sah," kata Nunez. Petasan dilontarkan ke arah petugas keamanan, gedung-gedung publik dibakar, dan toko-toko dijarah.
Menurut Kementerian Dalam Negeri, pada hari Kamis (01/10), 1.027 dari sekitar 3.700 sekolah menengah di seluruh negeri terdampak dari aksi protes, hampir sepertiga dari total jumlah sekolah di Prancis.
Di ibu kota, Paris, menurut data pihak berwenang, bentrokan atau kerusakan properti terjadi di sekitar 50 sekolah.
Di kota metropolitan Nantes di Prancis barat, aula masuk sebuah sekolah terbakar habis, sementara di kota pelabuhan Marseille di Prancis selatan, beberapa bus dan satu mobil pemadam kebakaran dibakar.
Di depan sekolah-sekolah di Lille, Brest, dan Strasbourg, tempat sampah ikut dibakar.
Di beberapa tempat, kepala sekolah diserang secara verbal maupun fisik. Beberapa di antaranya mengalami luka ringan, misalnya akibat petasan.
Di Marseille, seorang kepala sekolah dan wakilnya disiram bensin. Petugas pemadam kebakaran diserang saat bertugas, seorang di antaranya mengalami patah tulang hidung. Seorang jurnalis dari stasiun TV M6 juga terluka, dan kameranya hancur.
"Kami memprotes kelas yang terlampau penuh dan pemerintah yang menghabiskan jutaan Euro untuk menyita ponsel, tetapi tidak menyediakan pemanas ruangan, AC, dan gaji guru," kata Maelle (16) dari Caen kepada kantor berita AFP. "Para remaja membuat kerusuhan karena itu satu-satunya cara agar suara mereka didengar," tegas Lola, seorang siswi dari Rennes.
Akibat kerusuhan tersebut, sekitar 400 sekolah ditutup pada hari Jumat(2/10). Sebagai gantinya ditawarkan pembelajaran jarak jauh, jelas Menteri Pendidikan Edouard Geffray.
Pemicu protes adalah berbagai masalah di sekolah-sekolah menengah. Di antaranya adalah bangunan yang bobrok, kurangnya guru, kurangnya materi pembelajaran, dan jam sekolah yang terlalu panjang.
Mahasiswa ikut bergabung dalam gelombang protes pada hari Kamis(1/10), memblokade sekitar 30 universitas.
Rancangan anggaran yang diumumkan pada hari Kamis menjadi sumber konflik tambahan. Pemerintah Prancis berencana menghemat 43 miliar euro (Rp 872 triliun) dalam APBN tahun mendatang. Rencananya akan diberlakukan biaya kuliah baru yang harus dibayarkan mahasiswa untuk memperoleh gelar tertentu atau untuk kelas persiapan.
Perwakilan serikat pekerja menuduh pengumuman penghematan anggaran tersebut kian menyulut protes yang tengah berlangsung.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.