Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat memadati area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Sebagian massa aksi masih tertahan di depan Gedung UOB.
Salah satu yang menjadi sorotan dalam aksi di Bundaran HI maupun depan Gedung UOB yaitu para mahasiswa kompak tidak mengenakan almamater masing-masing kampus. Mereka hanya mengenakan baju bebas, meski tetap membawa simbol-simbol atau bendera organisasi.
Rafif Luqmanul Aziz, mahasiswa Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta sekaligus perwakilan Amnesty International Chapter UPN Veteran Jakarta, menilai aksi tanpa mengenakan almamater menjadi simbol gerakan organik. Mahasiswa dapat melebur bersama masyarakat untuk menyuaran tuntutan yang sama.
"Tentu itu memiliki alasan gitu. Masyarakat atau mahasiswa ingin melebur bersama masyarakat, melebur bersama rakyat, rakyat pinggir kota, melebur bersama rakyat-rakyat pekerja yang ada di Bundaran HI," kata Rafif di Bundaran HI, Rabu (28/10/2026).
Rafif berharap, dengan meleburnya mahasiswa, masyarakat khususnya para pekerja di kawasan Bundaran HI dapat bergabung ke dalam aksi untuk menyuaran keresahan yang sama. Dengan demikian, aksi tersebut akan menjadi organik dan inklusif untuk semua.
"Harapannya ketika teman-teman yang sudah selesai melakukan kewajiban dalam bekerjanya, itu tuh bisa bergabung dengan gerakan tersebut, bisa melebur bersama gerakan tersebut," kata Rafif.
"Gerakan tersebut terlihat lebih organik, gerakan tersebut terlihat lebih inklusif daripada biasanya," sambungnya.
Â
Demo 20 Oktober Tanpa Almamater
Gerakan tanpa mengenakan almamater juga terjadi saat aksi di kawasan Tugu Tani, Selasa (20/10/2026).
Wakil Ketua BEM UI 2026 Fathimah Azzahra mengatakan, keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa menguji model aksi yang berbeda dari demonstrasi sebelumnya. Pendekatan ini juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi provokasi di antara peserta aksi.
"Nah, sebenarnya itu memang sebuah tantangan. Tapi kita sudah menyiapkan mekanisme sih supaya kita bisa terhindar dari provokasi di antara kita," kata Fathimah.
Dia menjelaskan, aksi kali ini dirancang lebih cair dengan mengurangi pola komando terpusat. Massa dari masing-masing elemen mahasiswa juga diminta datang langsung ke lokasi aksi agar lebih mudah berkumpul tanpa bergantung pada satu jalur koordinasi.
Menurut Fathimah, pendekatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji pelaksanaan aksi tanpa almamater dan rangkaian orasi yang mendominasi kegiatan.
"Ini memang salah satu bentuk kita untuk mencoba juga bagaimana sih kalau seandainya tidak memakai almamater, nggak ada orasi dan sebagainya," ujar Fathimah.
Selain pendekatan yang berbeda, jumlah peserta aksi kali ini juga tidak sebanyak demonstrasi sebelumnya. Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan mahasiswa dalam menerapkan model aksi tersebut.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6