JawaPos.com - Sebanyak 11 mahasiswa yang merupakan anak mitra pengemudi dan mitra pedagang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dalam waktu empat tahun. Mayoritas di antara mereka meraih predikat cum laude di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN), termasuk Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Sriwijaya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga tidak harus menjadi penghalang untuk menyelesaikan pendidikan tinggi dengan prestasi akademik yang baik. Dengan dukungan pembiayaan dan kemauan untuk terus belajar, mahasiswa dapat menuntaskan kuliah sekaligus membangun bekal untuk memasuki dunia kerja.
Sebelas mahasiswa itu merupakan lulusan angkatan pertama penerima beasiswa perguruan tinggi GrabScholar. Mereka memulai studi pada 2022 dan berhasil lulus tepat waktu pada 2026. Para lulusan berasal dari delapan wilayah, yakni DKI Jakarta, Bantul, Klaten, Pontianak, Bandung, Bekasi, Cilegon, dan Bontang.
Salah satunya adalah Dyandra Nadine Zahira, putri seorang mitra pengemudi GrabCar yang menyelesaikan studi Sistem Informasi di Universitas Indonesia. Selama kuliah, Nadine tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan kampus dan memperoleh pengalaman kerja melalui program magang.
Dukungan Biaya Kuliah Bantu Mahasiswa Fokus Belajar
Bagi mahasiswa dari keluarga pekerja, biaya pendidikan tinggi dapat menjadi tantangan tersendiri. Selain uang kuliah, kebutuhan akomodasi, perangkat pembelajaran, dan biaya hidup juga perlu diperhitungkan selama masa studi.
Nadine mengaku dukungan beasiswa membantunya melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban finansial kedua orang tuanya. Bantuan tersebut sekaligus memotivasinya untuk mempertahankan beasiswa hingga lulus.
“GrabScholar memberikan ruang bagi aku untuk lebih fokus pada pendidikan. Di sisi lain, aku juga termotivasi untuk mempertahankan beasiswa ini sampai akhir dan lulus tepat waktu,” ungkap Nadine.
Beasiswa yang diterimanya mencakup biaya kuliah, biaya akomodasi, serta perangkat laptop untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Dukungan itu memberikan ruang bagi Nadine untuk menjalani perkuliahan dan mengembangkan kemampuan di luar kelas.
Pengalaman Nadine menggambarkan bahwa dukungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membayar biaya kuliah. Kesempatan untuk belajar dengan lebih tenang dan mengembangkan keterampilan juga berperan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tahap berikutnya.