Canberra -
Anggota parlemen Australia Helen Haines kehilangan kedua kakinya setelah ditabrak mobil, awal pekan ini.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Politisi independen Australia Helen Haines kehilangan dua kakinya setelah ditabrak sebuah mobil.
Canberra -
Anggota parlemen Australia Helen Haines kehilangan kedua kakinya setelah ditabrak mobil, awal pekan ini.
Helen, yang berusia 65 tahun, merupakan anggota parlemen independen, atau tidak tergabung dalam partai politik.
Senin lalu (19/10), ia ditabrak Toyota LandCruiser di depan kantornya di Wangaratta, negara bagian Victoria.
Helen dilaporkan ditabrak ketika sedang mengambil barang dari bagasi mobilnya.
Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke mengatakan pengemudi LandCruiser tersebut diduga "menabraknya" sebanyak dua kali.
Akibatnya, suami Helen, Phil Haines, mengatakan kedua kaki Helen harus diamputasi.
Sehari setelah kejadian, dokter berusaha menyelamatkan kaki kanannya setelah kaki kirinya diamputasi. Namun, pada akhirnya keduanya harus diamputasi karena tingkat keparahan lukanya.
Hingga Jumat sore waktu Melbourne (23/10), Helen masih dinyatakan masih dalam kritis di rumah sakit.
Helen diduga ditabrak oleh pria bernama Brendan Nugent, yang sudah menjalani sidang pertama di pengadilan Rabu lalu (21/10).
Pada tahun 2019, pria berusia 43 tahun tersebut pernah memuji Helen di media sosial, sebagai "politisi yang serius menanggapi masalah perubahan iklim."
Menurut ABC NEWS Verify, Brendan nampak seperti pegiat lingkungan yang sering mengunggah konten di media sosial ketika ikut serta dalam berbagai aksi protes.Ia juga diketahui pernah menjadi anggota aktif kelompok 'Save Our Strathbogie Forest.'
Ketua kelompok tersebut, Bertram Lobert, mengatakan kepada ABC Brendan sempat menjadi anggota aktif selama sekitar dua tahun sebelum pandemi COVID-19, namun sejak saat itu, ia tidak lagi mendengar kabar darinya.
Brendan dikenakan sejumah dakwaan, termasuk mengemudi secara berbahaya hingga menyebabkan cedera serius, sampai melukai pejabat publik federal.
Hukuman maksimal atas dakwaan melukai pejabat publik federal adalah 10 tahun penjara.
Brendan juga menghadapi dakwaan terkait kepemilikan dan penanaman ganja.
Kepolisian Victoria mengatakan pihaknya menduga insiden tersebut ditargetkan.
Dalam konferensi pers kemarin (22/10), Kepala Komisaris Kepolisian Victoria, Mike Bush, mengatakan dakwaan serius lainnya terkait dugaan penyerangan terhadap Helen sedang dipertimbangkan.
Kepala Komisaris tersebut secara khusus ditanya mengenai dakwaan percobaan pembunuhan.
"Hal itu selalu menjadi pertimbangan. Tentu saja kami harus menemukan dan menelusuri bukti-bukti yang ada," ujar Mike.
Polisi belum memastikan motif dari insiden ini.
Pengacara Brendan menyampaikan kepada hakim kliennya memiliki masalah kesehatan mental dan ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam tahanan.
"Klien saya menderita idiopathic transverse myelitis. Ini adalah kelainan neurologis, dan ia juga mengalami gegar otak," ujar pengacaranya.
Ia menambahkan saat ini Brendan tidak sedang mengonsumsi obat, dan belum jelas apakah ia sudah ke dokter sejak penangkapannya.
Idiopathic transverse myelitis adalah kondisi pada sumsum tulang belakang yang gejalanya dapat berupa kelumpuhan, mati rasa, sensasi kesemutan, serta nyeri yang tajam.
Dalam pernyataannya Selasa lalu (20/10), ayah Brendan, Rod Nugent dan pasangannya Christine Cunningham mengatakan Helen sudah menjadi sahabat mereka selama lebih dari 20 tahun.
"Kami ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada anggota masyarakat setempat dan pihak kepolisian yang datang membantu Helen kemarin setelah kejahatan yang mengejutkan dan mengerikan itu terjadi," bunyi pernyataan tersebut.
"Kami akan membantu Kepolisian Victoria dengan segala cara yang kami bisa."
Mereka mengatakan kejadian pada hari Senin itu "memilukan dan sulit dipahami."
Helen dilaporkan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit The Alfred, Melbourne.
Staf kesehatan akan menyampaikan informasi terkini mengenai kondisinya sore ini (23/10).
Rabu lalu (21/10), suaminya, Phil Haines, mengatakan pemulihan istrinya akan berlangsung lama dan sulit.
"Namun, kami tahu ia adalah pejuang. Ia pribadi yang bertekad kuat untuk melakukan yang terbaik, dengan dukungan dan kasih sayang kami, agar bisa pulih kembali," ujarnya.
"Dan itulah yang kami harapkan."
Insiden yang menimpa Helen memicu perdebatan tentang kekerasan di kalangan politisi Australia.
Jumlah ancaman terhadap anggota parlemen meningkat empat kali lipat sejak tahun 2020.
Menurut AFP, dalam satu tahun terakhir, 41 orang telah didakwa melakukan tindak pidana terkait ancaman terhadap anggota parlemen.
Ancaman terhadap para kandidat selama pemilihan umum 2025 juga tercatat 17 persen lebih tinggi dibandingkan masa kampanye sebelumnya.
Peneliti Lowy Institute, Lydia Khalil, mengatakan serangan terhadap Helen merupakan peristiwa yang "sangat tragis namun tidak mengejutkan", mengingat iklim politik saat ini di Australia.
Menurut Lydia, misinformasi dan runtuhnya kepercayaan yang "mengkhawatirkan" memicu kritik tajam terhadap kepemimpinan.
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.