Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Apresiasi Transformasi Pertanian Mentan Amran, Wakil Ketua Komisi IV DPR Soroti Mekanisasi hingga Harga Gabah

Hanan A Rozak menyoroti peran mekanisasi, pupuk bersubsidi, irigasi, dan kebijakan harga dalam mendukung produksi serta swasembada pangan.

Liputan 6 3 menit baca 0 komentar
Apresiasi Transformasi Pertanian Mentan Amran, Wakil Ketua Komisi IV DPR Soroti Mekanisasi hingga Harga Gabah
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A Rozak memberikan apresiasi kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman atas transformasi sektor pertanian selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Perhatian terhadap mekanisasi, penguatan sarana produksi, hingga kepastian harga dinilai mampu meningkatkan semangat petani dalam berproduksi sekaligus memperkuat fondasi keberlanjutan swasembada pangan nasional.

Dalam diskusi publik Agripulse bertema Dua Tahun Transformasi Pertanian Era Prabowo di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Hanan menilai langkah Mentan Amran dalam mendorong mekanisasi pertanian sebagai terobosan penting. Upaya tersebut dinilai menjawab persoalan mendasar sektor pertanian, terutama keterbatasan tenaga kerja dan kebutuhan meningkatkan efisiensi usaha tani.

“Pak Menteri kita ini luar biasa. Dari tahun 2014 memberi perhatian kepada mekanisasi. Wajar kita sebut sebagai Bapak Modernisasi Pertanian. Saya beri apresiasi kepada beliau,” kata Hanan.

Menurut Hanan, perubahan di sektor pertanian tidak terlepas dari keberanian pemerintah memperkuat intervensi di berbagai lini produksi. Kebijakan tersebut mencakup perluasan areal tanam, perbaikan irigasi, penyediaan benih dan pupuk, hingga pengembangan mekanisasi pertanian. Seluruh langkah itu diarahkan untuk menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan produksi petani secara berkelanjutan.

Ia juga menilai salah satu capaian penting Mentan Amran adalah keberhasilannya meyakinkan Presiden Prabowo untuk meningkatkan dukungan terhadap sektor pertanian, terutama dari sisi anggaran. Dukungan tersebut sejalan dengan agenda kedaulatan pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita.

Mekanisasi, Irigasi, dan Pupuk Perkuat Produktivitas Petani

Dukungan tersebut, lanjutnya, diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan petani. Peningkatan luas panen padi dari sekitar 10 juta hektare pada 2024 menjadi 11 juta hektare pada 2025, misalnya, didukung program perbaikan irigasi dan penyediaan sarana produksi. Intervensi pemerintah pada jaringan irigasi, termasuk saluran tersier yang berdekatan dengan lahan petani, dinilai penting untuk memastikan ketersediaan air bagi kegiatan budidaya.

Ia secara khusus mengapresiasi pembenahan tata kelola pupuk yang membuat petani lebih mudah memperoleh pupuk bersubsidi dengan harga terjangkau, tepat waktu, dan tepat jumlah. Penyederhanaan regulasi dinilai telah mengurangi hambatan distribusi yang selama ini menyulitkan petani.

“Luar biasa ini. Ini baru terjadi. Pupuk mudah diperoleh dengan penyederhanaan regulasi. Bisa diperoleh tepat waktu, tepat jumlah, harga terjangkau oleh masyarakat,” ungkapnya.

Selain sarana produksi, Hanan menyoroti peran mekanisasi dalam menjawab persoalan tenaga kerja pertanian. Dengan rata-rata usia petani yang semakin tinggi dan tenaga kerja yang terbatas, penggunaan alat mesin pertanian menjadi kebutuhan untuk menjaga efisiensi budidaya sekaligus menarik minat generasi muda.

## Kepastian Harga Dorong Semangat Petani Berproduksi

Hanan juga menilai kebijakan pemerintah dalam menjaga harga gabah dan beras berperan penting dalam memperkuat semangat produksi. Penetapan harga pembelian pemerintah (HPP), penyerapan gabah oleh Perum Bulog, serta penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan pangan bagi konsumen.

Ia menyebut kebijakan tersebut membuat petani memiliki kepastian harga dan pasar, sehingga keputusan untuk menanam semakin didorong oleh pertimbangan ekonomi yang menguntungkan.

“Petani tidak perlu diperintah-perintah. Harga diperbaiki, kemudian sarana dan prasarana tersedia. Harga jualnya bagus, mereka akan tanam,” tutur Hanan.

Hanan menegaskan, keberhasilan meningkatkan produksi dan mencapai swasembada pangan harus diikuti konsistensi kebijakan. Perbaikan irigasi, ketersediaan pupuk, mekanisasi, dan penguatan kelembagaan petani perlu terus dijaga agar capaian produksi tidak kembali melemah.

“Kita sudah swasembada pangan. Jangan sampai kendor lagi, harus kencang,” tegasnya.

Ia berharap transformasi pertanian yang telah berjalan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo tetap berada pada jalurnya dan dilanjutkan secara konsisten demi menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.