Liputan6.com, Jakarta - Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencapai 61,4 persen. Namun, tingkat kepuasan terhadap kinerja keduanya secara individu menunjukkan angka yang berbeda.
Berdasarkan Survei Nasional Arus Survei Indonesia (ASI) periode 23–29 Juli 2026, sebanyak 61,4 persen responden menyatakan sangat percaya atau cukup percaya terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Sementara itu, 35,9 persen menyatakan kurang percaya atau sangat tidak percaya, sedangkan 2,7 persen lainnya tidak menjawab.
Untuk kepuasan terhadap kinerja individu, Presiden Prabowo memperoleh angka 57,6 persen. Adapun kepuasan terhadap kinerja Wakil Presiden Gibran berada di angka 40,1 persen, sementara 54,4 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Gibran.
Temuan tersebut disampaikan Arus Survei Indonesia dalam kegiatan Diskusi dan Refleksi bertema “Capaian dan Tantangan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Hotel Alia Cikini, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Direktur Eksekutif ASI Ali Rif'an menjelaskan, survei dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Penelitian menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
“Survei dilakukan sudah agak lama, tanggal 23–29 Juli 2026. Survei melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan metode tatap muka,” ujar Ali.
Menurut Ali, tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan periode 100 hari pertama pemerintahan. Meski demikian, ia menilai tingkat kepercayaan yang masih berada di atas 60 persen dapat menjadi modal bagi pemerintah untuk memperbaiki kinerjanya.
“Kalau bicara approval rating, memang kalau kita komparasi dengan 100 hari pemerintahan ada tren menurun. Tetapi saya melihat ini masih ada nuansa optimistik karena tingkat kepercayaan itu masih 60 persen. Sehingga ini modalitas pemerintahan Prabowo untuk kemudian rebound kembali,” kata Ali.
Dia menjelaskan, tingkat kepercayaan dan kepuasan merupakan dua indikator berbeda dalam menilai pemerintahan. Menurut dia, masyarakat masih dapat memiliki kepercayaan terhadap pemerintah meskipun tidak puas terhadap kinerja atau kebijakan tertentu.
“Kecewa hari itu, tapi apakah dengan kecewa dia enggak percaya? Tetap percaya. Nah, itu analogi yang ada dalam data ini,” jelasnya.
Mayoritas Responden Setuju Reshuffle Kabinet
Survei ASI juga mengukur pandangan masyarakat mengenai kemungkinan perombakan atau reshuffle kabinet. Sebanyak 75,1 persen responden menyatakan setuju apabila Presiden Prabowo kembali melakukan perombakan kabinet.
Ali menilai temuan tersebut menunjukkan adanya harapan masyarakat agar kinerja para menteri dan pembantu presiden diperbaiki. Menurut dia, ketidakpuasan terhadap jalannya pemerintahan tidak selalu ditujukan kepada presiden secara langsung.
“Sebenarnya apa yang dilakukan Pak Prabowo itu bagi publik positif karena rupanya kekesalan terhadap pemerintah ini tidak dialamatkan hanya ke seorang presiden saja, tapi juga dialamatkan kepada para pembantunya,” ungkap Ali.
Meski tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan masih mencapai 61,4 persen, Ali menyebut sejumlah persoalan tetap perlu menjadi perhatian. Di antaranya adalah persoalan ekonomi mikro, seperti tingginya harga kebutuhan pokok dan terbatasnya lapangan kerja.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu memperbaiki strategi komunikasi publik agar informasi mengenai program-program strategis tersampaikan secara akurat dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6