Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Asia Tenggara Darurat Kabut Asap, Singapura Catat Polusi Ekstrem

Karhutla RI memicu krisis kabut asap di Asia Tenggara. Polusi PM2.5 di Singapura mencapai 288 mikrogram per meter kubik, sementara Timor-Leste menutup sekolah.

Detik 4 menit baca 0 komentar
Asia Tenggara Darurat Kabut Asap, Singapura Catat Polusi Ekstrem
Foto: Detik

Singapura -

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memicu krisis polusi udara di Asia Tenggara. Pada hari Rabu (14/10), kualitas udara di wilayah barat Singapura mencapai kategori tertinggi dalam klasifikasi nasional. Sementara itu, Timor Leste memutuskan menutup sekolah selama tiga hari untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga pengajar.

Badan Lingkungan Nasional Singapura mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 288 mikrogram per meter kubik di wilayah barat negara tersebut. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah. Angka tersebut jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk paparan rata-rata tahunan, yakni lima mikrogram per meter kubik.

Kebakaran yang melanda kawasan hutan dan perkebunan di Sumatra dan Kalimantan telah menghanguskan ratusan ribu hektare lahan. Asapnya menyebar ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Timor-Leste, bahkan mencapai Filipina.

Kebakaran gambut hanguskan ratusan rumah

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra, kebakaran menghanguskan hampir 300 rumah dan memaksa sekitar 1.000 warga mengungsi. Warga awalnya berusaha memadamkan api menggunakan pompa air portabel, tetapi api masih membara di bawah permukaan lahan gambut. Ketika arah angin berubah, kobaran api kembali menyebar ke permukiman.

"Mereka mengira api sudah berhasil dipadamkan. Namun, ini lahan gambut dan masih ada api yang membara di bawah permukaan," kata Wali Kota Riza Herdavid kepada AFP.

Bagi warga, kebakaran itu menghancurkan rumah dan harta benda mereka. "Rumah saya sudah tidak ada," kata Leni, 55 tahun, yang kini tinggal di tempat penampungan bersama keluarganya.

"Tidak ada yang tersisa. Saya hanya bisa menyelamatkan diri dan membawa anak-anak saya. Saya panik dan tidak punya waktu untuk mengambil apa pun," ujarnya.

Penyintas lainnya, Haryanti, 50 tahun, mengatakan angin kencang mempercepat penyebaran api yang melalap rumah-rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu. "Tidak satu pun barang saya yang selamat. Hanya pakaian yang melekat di tubuh saya," katanya.

Menurut Riza, desa tersebut berdiri di atas lahan gambut yang sebelumnya merupakan kawasan lindung. Lahan itu dialihfungsikan menjadi kompleks perumahan pada tahun lalu.

Pembukaan lahan memperparah kebakaran

Indonesia secara rutin menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Tahun ini, kekeringan akibat fenomena El Nio turut memperparah kondisi kebakaran.

Para ahli juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut dinilai telah mengubah bentang alam Sumatra dan Kalimantan yang secara alami lebih tahan terhadap kebakaran.

Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan itu telah memicu kabut asap tebal dan puluhan ribu kasus gangguan pernapasan di Indonesia. Menurut laporan Reuters, kebakaran hutan dan lahan tahun ini merupakan yang paling intens di Indonesia dalam 11 tahun terakhir.

Di sejumlah wilayah Kalimantan, asap bahkan menghambat upaya pemadaman. Badan penanggulangan bencana melaporkan bahwa pesawat yang digunakan untuk pengeboman air tidak dapat beroperasi akibat buruknya jarak pandang.

Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/10) memerintahkan pemerintah mengerahkan upaya maksimal untuk menangani kebakaran. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan lebih dari 60.000 personel telah dikerahkan untuk memadamkan api di lapangan.

Meski demikian, upaya pemadaman, termasuk rekayasa cuaca dan pengeboman air, sejauh ini belum memberikan hasil yang memadai di sejumlah lokasi.

Kabut asap ganggu penerbangan dan picu respons ASEAN

Dampak kabut asap meluas ke sektor transportasi dan pendidikan. Maskapai Malaysia, Firefly, memperpanjang pembatalan penerbangan Kuala Lumpur–Singapura hingga Rabu (14/10) sebagai langkah pencegahan demi keselamatan penerbangan.

Di Singapura, pemerintah mengaktifkan subsidi perawatan medis bagi warga terdampak kabut asap dan mulai membagikan masker N95 kepada warga yang memenuhi syarat. Namun, sejumlah pekerja lapangan mengaku kesulitan menggunakan masker saat bekerja.

"Dengan masker, saya harus bernapas lebih berat," kata Daniel, pengemudi layanan pengantaran berusia 27 tahun, kepada AFP.

Sementara itu, Timor-Leste menutup sekolah di seluruh negeri selama tiga hari mulai Kamis (15/10) untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga pengajar.

Krisis ini juga mendorong Malaysia meminta pembahasan di tingkat regional. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan para menteri luar negeri ASEAN akan membahas kabut asap menjelang KTT ASEAN ke-49 di Manila bulan depan.

Mohamad mengatakan ASEAN telah memiliki mekanisme untuk menangani bencana seperti banjir dan letusan gunung berapi, tetapi kabut asap belum tercakup di dalamnya. Malaysia sebelumnya juga menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memadamkan kebakaran, meski upaya di sejumlah wilayah terkendala jarak pandang buruk, akses yang sulit, dan kondisi yang tidak mendukung rekayasa cuaca.

Kabut asap lintas batas kembali menjadi tantangan regional karena dampaknya meluas pada kesehatan masyarakat, pendidikan, dan transportasi di Asia Tenggara.

Editor: Ayu Purwaningsih

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.