Sofia -
Iliana Yotova memenangkan pilpres Bulgaria dan berjanji menjadi "presiden perdamaian." Namun, kampanye justru memperlihatkan polarisasi masyarakat akibat perang Ukraina dan serangan pesawat nirawak di Laut Hitam.
Lanjutkan dari posisi terakhir
Iliana Yotova memenangkan pilpres Bulgaria dan berjanji menjadi "presiden perdamaian".
Sofia -
Iliana Yotova memenangkan pilpres Bulgaria dan berjanji menjadi "presiden perdamaian." Namun, kampanye justru memperlihatkan polarisasi masyarakat akibat perang Ukraina dan serangan pesawat nirawak di Laut Hitam.
"Kita sedang memilih antara perang dan perdamaian," kata Perdana Menteri Bulgaria Rumen Radev kepada para pemilih menjelang putaran kedua pemilihan presiden di hari Minggu (1/11) antara Presiden petahana Iliana Yotova, yang menolak bantuan militer kepada Ukraina dan mendukung dialog dengan Rusia, serta mantan Perdana Menteri sementara Andrey Gyurov, sosok yang dianggap pro-Eropa dan pro-Ukraina.
Ucapan tersebut seolah menegaskan bahwa pemilu akan menjadi penentu kebijakan luar negeri dan sikap Bulgaria terhadap perang di Ukraina.
Kini, setelah hasil pemilu resmi diumumkan, Iliana Yotova unggul dan memenangkan pemilu dengan perolehan 57,6% berbanding 39,5% Gyurov.
Sang PM pun menyatakan bahwa rakyat Bulgaria telah memilih perdamaian.
Tapi, apakah sesederhana itu?
Ketika kampanye pemilihan presiden dimulai di Bulgaria pada 25 September, tampaknya tidak ada keraguan publik akan hasilnya: Iliana Yotova memimpin jajak pendapat sementara dengan 44,5% jauh di depan pesaingnya, Gyurov, yang tertinggal di belakang dengan perolehan 26,1%.
Yotova didukung oleh perdana menteri dan partai pimpinannya yang sedang berada di tampuk kekuasaan, Partai Bulgaria Progresif. Partai tersebut meraih mayoritas mutlak dalam pemilihan parlemen pada 19 April lalu.
Namun, putaran pertama ternyata berjalan alot.
Yotova meraih 34,8% suara pada putaran pertama, Gyurov tidak jauh di belakangnya dengan 31,95%. Hasil ini mendorong pemilu putaran kedua.
Meskipun Yotova memenangkan putaran kedua dengan meyakinkan, baik kampanye maupun hasil pemilu telah menunjukkan adanya perpecahan.
Pemisahan ini bersifat generasional dan geografis, jelas Dimitar Ganev, sosiolog dan ilmuwan politik di lembaga riset pasar dan pemilu Trend.
"Para pemilih muda, mereka yang berusia antara 18 dan 40 tahun, lebih mendukung Gyurov. Mereka yang berusia di atas 40 tahun cenderung lebih memilih Yotova," kata Ganev kepada DW. "Tampaknya Gyurov juga mendominasi suara di ibu kota, Sofia. Di kota-kota regional yang lebih kecil, kota-kota lain, dan desa-desa, Yotova mendominasi dengan meyakinkan," ujarnya.
Perpecahan ini juga terlihat jelas selama masa kampanye. Sementara Andrey Gyurov lebih banyak mengandalkan media sosial untuk berkampanye, Yotova memilih untuk berbicara terutama kepada para pendukungnya di acara-acara tertutup.
Di acara-acara tersebut, perang di Ukraina selalu menjadi topik utama.
"Selama saya menjabat sebagai presiden, dan jika Anda menaruh kepercayaan pada saya, tidak akan ada satu pun tentara Bulgaria yang dikirim ke Ukraina," tegas Yotova dalam sebuah kampanye pada 6 Oktober. Meskipun menurut Konstitusi Bulgaria, hanya parlemen (bukan presiden) yang memiliki kewenangan untuk mengirim pasukan ke luar negeri atau menyatakan perang.
Sepanjang kampanye, ia menyebut lawan-lawannya sebagai "penghasut perang" dan menggambarkan dirinya sebagai "presiden perdamaian."
"Kami menang karena kami berbicara kepada masyarakat tentang penghasilan masyarakat dan tentang perdamaian," kata Yotova setelah pemilu.
Terkait Perang Rusia-Ukraina, ia senada dengan Perdana Menteri Rumen Radev.
Terkait Ukraina, Radev secara rutin berbicara tentang perlunya perdamaian dan menghindari menyebut Rusia sebagai pihak penyerang. Baik Radev maupun Yotova menentang bantuan militer kepada Ukraina dan mengkritik para pemimpin Eropa karena tidak cukup berusaha untuk berinteraksi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sebaliknya, Gyurov secara tajam mengkritik agresi Rusia di Ukraina.
Ditunjuk sebagai perdana menteri sementara oleh Yotova pada Februari, Gyurov menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dengan Ukraina pada bulan Maret, yang memicu pertentangan baik dari Yotova maupun Radev.
Beberapa minggu jelang pemilu, beberapa kapal di Laut Hitam terkena serangan pesawat nirawak di lepas pantai Bulgaria.
Dewan Eropa mengkritik Rusia dan Parlemen Eropa menyerukan kepada Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk mempertimbangkan pengerahan operasi angkatan laut Uni Eropa di sana. Namun, Perdana Menteri Radev memanggil duta besar Rusia dan memberikan pernyataan ambigu, menyatakan bahwa serangan di Laut Hitam menguntungkan Rusia.
Hanya beberapa hari sebelum putaran kedua pemilihan, Radev mengetahui dua kapal terkena serangan dan tenggelam di perairan teritorial Rumania. Rumania menuduh Rusia bertanggung jawab atas serangan di Laut Hitam. "Banyak orang berpikir saat pelaku agresi teridentifikasi, serangan akan berhenti," ujar PM tersebut seolah mengecilkan tanggung jawab Kremlin. Pernyataan tersebut pun menuai kritik dari para politisi dan media di Rumania.
Yotova juga tidak menyebut Rusia sebagai pelaku serangan, sebaliknya ia mengatakan selama kampanye bahwa ia tidak ingin melihat bendera asing berkibar di Bulgaria, merujuk bendera Ukraina, yang telah dikibarkan di luar beberapa lembaga di Bulgaria sebagai tanda solidaritas dengan negara yang dilanda perang tersebut.
Sebagian besar partai oposisi, termasuk partai konservatif sayap kanan GERB yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Boyko Borisov yang telah lama menjabat, menolak mencalonkan kandidat dalam pemilihan presiden. Ini menjadi salah satu alasan mengapa tingkat partisipasi pada pemilu di hari Minggu kurang dari 30%.
Pada putaran pertama, kandidat pro-Rusia Kostadin Kostadinov dari partai nasionalis Vazrazhdane (Revival) menempati posisi ketiga dengan perolehan 12,5% suara. Menurut Dimitar Ganev, sekitar 70% pemilih Vazrazhdane mendukung Yotova pada putaran kedua.
Untuk mengamankan dukungan mereka, Yotova menargetkan para pemilih pro-Rusia.
"Rusia sama sekali bukan musuh Bulgaria," katanya dalam wawancara siniar dua hari sebelum pemilu putaran kedua berlangsung, seraya menambahkan, "Rusia adalah bagian dari sejarah kami, dan saya berharap Rusia akan menjadi pemain utama arsitektur keamanan masa depan Eropa, termasuk bagi kami."
Beberapa hari menjelang pemungutan suara, sejumlah pendukungnya mulai mengklaim bahwa pihak oposisi sedang mempersiapkan sebuah "Maidan," merujuk pada revolusi Ukraina tahun 2014 yang berujung pada penggulingan Presiden Viktor Yanukovych, yang memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
"Semua pengikut Gyurov berbicara secara terbuka tentang protes yang tak terelakkan. Mereka memanfaatkan siaran utama untuk memicu Maidan. Setiap orang di antara mereka," tulis Sonya Momchilova, yang ditunjuk oleh Radev sebagai anggota badan pengelola media, di Facebook pada hari Minggu.
Klaim serupa juga dilontarkan oleh mantan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan mantan Presiden Serbia Aleksandar Vucic menjelang pemilihan umum tahun ini di negaranya.
"Klaim bahwa Yotova akan menjadi presiden yang menjunjung perdamaian ini terkait dengan upaya memicu ketakutan akan perang," kata mantan Menteri Pertahanan Todor Tagarev, yang merupakan ikut ambil bagian dalam komite pencalonan Andrey Gyurov sebagai presiden.
"Di bawah kepemimpinannya, Bulgaria akan berada dalam posisi yang jauh lebih buruk di Eropa dan juga NATO," katanya dalam sebuah wawancara televisi.
Di sisi lain, Dimitar Ganev tidak melihat adanya ancaman terhadap komitmen Bulgaria terhadap Uni Eropa dan NATO. "Lebih dari dua pertiga warga Bulgaria tidak mempertanyakan orientasi geopolitik negaranya, dan sekitar dua pertiga di antaranya memiliki sikap positif terhadap Uni Eropa," katanya kepada DW.
Namun, sikap Radev dan Yotova, yang oleh banyak pihak dianggap membingungkan, telah memobilisasi kubu pro-Eropa dan juga pemilih yang skeptis terhadap Uni Eropa.
Menurut Perdana Menteri Rumen Radev dan Presiden Iliana Yotova, rakyat Bulgaria telah memilih perdamaian dalam pemilihan presiden. Meskipun demikian, perang masih akan terus berlanjut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Ayu Purwaningsih
(nvc/nvc)
Memuat komentar…
Komentar gagal dimuat.
Tidak ada berita yang cocok dengan “”.
Terlalu banyak pencarian. Coba lagi dalam satu menit.
Kata kunci maksimal 100 karakter.
Pencarian gagal. Periksa koneksi lalu coba lagi.
Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari.