Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Bagaimana Proyek Minyak di Falkland Panaskan Tensi Argentina-Inggris?

Argentina dan Inggris kembali bersitegang soal kepulauan Falkland. Tensi dipicu rencana proyek minyak multimiliar dollar AS di ladang Sea Lion.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Bagaimana Proyek Minyak di Falkland Panaskan Tensi Argentina-Inggris?
Foto: Detik

Buenos Aires -

Berpenduduk kurang dari 4.000 jiwa, terletak di sudut sunyi Samudra Atlantik Selatan, Kepulauan Falkland hampir tak pernah menjadi bagian dari percakapan bisnis dunia.

Namun minyak mengubah banyak hal. Sebuah proyek eksplorasi minyak Inggris-Israel di perairan kepulauan itu kembali menghangatkan sengketa yang telah lama membayang antara Falkland dan Argentina.

Pemerintah di Buenos Aires telah mengklaim kepulauan yang hanya sekitar 500 kilometer dari pesisirnya itu selama dua abad. Di Argentina, pulau itu disebut Las Malvinas. Sengketa yang berumur dua ratus tahun ini pernah berubah menjadi perang pada 1982. Ketika itu Argentina menginvasi kepulauan tersebut, tetapi invasi sepihak itu segera dipukul mundur oleh armada Inggris.

Dalam referendum kedaulatan pada 2013, sebanyak 99,8 persen warga Falkland memilih tetap terikat dengan Inggris sebagai Wilayah Seberang Laut yang memiliki pemerintahan sendiri. Kini, proyek ladang minyak Sea Lion kembali mengangkat persoalan itu ke permukaan.

Bulan lalu, Presiden Argentina Javier Milei mengancam akan mengajukan gugatan hukum internasional terhadap Inggris jika proyek tersebut tidak dihentikan dalam dua pekan.

Proyek minyak itu dioperasikan perusahaan Israel Navitas Petroleum dan perusahaan Inggris Rockhopper Exploration. Proyek tersebut mendapat dukungan penuh Majelis Legislatif Kepulauan Falkland, yang telah mengupayakannya sejak 2010. Kedua perusahaan berencana mulai mengekstraksi minyak dari ladang Sea Lion pada awal 2028.

Milei menyebut proyek tersebut sebagai "penjarahan ilegal atas sumber daya kami" dan mengatakan akan membawa persoalan itu ke Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut, badan peradilan independen yang bertanggung jawab menerapkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut.

Meraih dukungan lewat sentimen nasional?

Stacy Bragger, anggota majelis yang beranggotakan 12 orang di Kepulauan Falkland, mengatakan kepada DW bahwa sengketa itu "bukan hal baru" dan Argentina menggunakan proyek minyak tersebut sebagai "sarana untuk mengejar klaim kedaulatan mereka."

Menurutnya, Milei mungkin meningkatkan retorikanya menjelang pemilu Argentina pada 2027.

"Ketika pemilu semakin dekat, Falkland adalah alat yang sangat nyaman untuk digunakan guna menyatukan masyarakat sekaligus mengalihkan perhatian mereka dari persoalan dalam negeri," katanya.

Henry Ziemer, analis Program Amerika di Center for Strategic and International Studies di Washington, mengatakan Falkland merupakan "titik rawan yang terus muncul dalam politik Argentina". Sejak 1980-an, berbagai pemerintahan mengangkat isu tersebut untuk meraih dukungan dan "mengobarkan api nasionalisme."

Menurut Ziemer, langkah Milei patut dicermati karena sebelumnya dia terbuka terhadap hubungan yang lebih baik dengan Inggris dalam persoalan tersebut. Dia sependapat bahwa langkah itu mungkin merupakan strategi untuk "mendongkrak tingkat dukungan pada saat pemerintah menghadapi tekanan domestik yang kuat."

Berpotensi mengubah Falkland secara signifikan

Sekalipun Milei melihat keuntungan politik dari persoalan ini, kemungkinan proyek Sea Lion berhasil akan meningkatkan secara signifikan taruhan ekonomi bagi semua pihak.

Proyek tersebut memiliki anggaran US$1,8 miliar atau sekitar Rp32,3 triliun dan berpotensi menghasilkan pendapatan lebih dari dua kali lipat bagi Kepulauan Falkland. Perusahaan berharap ladang itu pada puncak produksinya mampu menghasilkan hingga 50.000 barel per hari dan beroperasi selama 35 tahun.

Hal itu akan meningkatkan secara substansial produk domestik bruto tahunan Falkland, yang saat ini hampir sepenuhnya bergantung pada sektor perikanan yang bergejolak dan pariwisata. Pemerintah Falkland bahkan sedang mempertimbangkan kemungkinan membentuk dana kekayaan negara jika proyek minyak tersebut berhasil.

"Ini proyek yang sangat penting bagi kami dan memiliki potensi besar bagi masa depan kami," kata Bragger. "Upaya untuk mencapai titik ini sangat besar dan, dengan asumsi semuanya berjalan sesuai rencana, kami ingin mempertahankan nilai sebesar mungkin."

Namun, selain memanfaatkannya untuk kepentingan politik domestik, Milei mungkin juga melihat peluang bagi Argentina untuk memosisikan diri sebagai pemain energi di tengah perang di Iran dan persoalan di Selat Hormuz.

Sektor minyak domestik Argentina sendiri terus berkembang, dengan produksi melonjak di Vaca Muerta, Patagonia, salah satu pengembangan serpih terbesar di dunia. Jika upaya hukum Milei berhasil, ada potensi keuntungan lebih lanjut.

"Ketika sumber daya alam bertumpang tindih dengan sengketa wilayah dan permusuhan yang sudah ada, hal itu cenderung memperbesar banyak konflik," kata Ziemer.

Namun, Bragger membantah. Menurut dia, Milei dan Argentina tidak memiliki klaim yang sah, baik atas Falkland maupun atas kekayaan minyak yang mungkin diekstraksi dalam beberapa tahun mendatang.

"Mereka tidak menghormati hak kami untuk menentukan nasib sendiri," katanya. "Mereka tidak menghormati hak kami untuk mengembangkan sumber daya kami sendiri. Mereka hanya ingin menjajah kami."

Tekanan ekonomi Argentina bertambah

Milei berencana menekan Falkland dengan meningkatkan sanksi ekonomi yang sudah ada. Andrea Clausen, kepala eksekutif Falkland sejak 2025, baru-baru ini menyebut kampanye tersebut sebagai "perang ekonomi."

Banyak pemasok dan perusahaan pelayaran internasional sudah menolak memasok Falkland karena khawatir membuat Argentina marah. Kini, pemerintah Milei menjatuhkan sanksi terhadap 60 orang yang terlibat dalam proyek Sea Lion.

Dalam pidato yang disiarkan televisi bulan lalu, Milei juga berjanji menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut. Langkah itu dapat menimbulkan keraguan atas kelangsungan proyek, yang sebelumnya terhenti pada 2014 dan 2020 akibat masalah pembiayaan, lemahnya harga minyak, dan penundaan yang disebabkan sanksi.

Pekan ini Navitas mengonfirmasi bahwa dua kontraktor telah menarik diri dari proyek tersebut karena kekhawatiran terkait sanksi dan perusahaan itu sedang mencari penggantinya. Ada pula kekhawatiran bahwa Milei akan berupaya menghimpun dukungan internasional untuk memperkuat posisinya. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengatakan dukungan Amerika Serikat terhadap status quo di kepulauan tersebut "sedang ditinjau."

Bragger mengecilkan kekhawatiran itu dengan menunjuk pernyataan terbaru Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio yang menegaskan dukungan terhadap Falkland. Ziemer mengatakan akan "sangat mengejutkan" jika Amerika Serikat berpihak kepada Argentina.

Di tengah ketidakpastian apakah proyek minyak tersebut pada akhirnya akan berjalan atau tidak, kecil kemungkinan sengketa itu kembali memicu konflik bersenjata seperti pada 1982.

"Itu sudah terlalu jauh, dan situasinya harus memburuk secara dramatis sebelum kita melihat kemungkinan terjadinya konflik militer," kata Ziemer.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Ayu Purwaningsih

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.