Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Banyuwangi Gelar Rembug Santri untuk Jaring Aspirasi Generasi Pesantren

Pemkab Banyuwangi gelar Rembug Santri untuk jaring aspirasi santri. Forum bertujuan memperluas kesempatan karier dan mengembangkan potensi lulusan pesantren.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Banyuwangi Gelar Rembug Santri untuk Jaring Aspirasi Generasi Pesantren
Foto: Detik

Jakarta -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus berupaya menghadirkan pembangunan yang inklusif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam pengambilan kebijakan. Pemkab menggelar forum musyawarah bertajuk Rembug Santri di aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berharap forum yang baru pertama kali digelar ini mampu menjembatani aspirasi santri dengan para pemangku kepentingan. Forum tersebut juga diharapkan mendorong lahirnya langkah konkret untuk memperluas kesempatan berkarier dan mengembangkan potensi lulusan pesantren.

"Kami melihat bahwa selama ini belum banyak santri yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas. Jumlah santri yang mampu meniti karier di bidang strategis juga masih terbatas. Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak-up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka. Sehingga, pemerintah daerah tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya," kata Ipuk dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

Ipuk mengatakan itu di aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Selasa (20/10).

Forum ini menjadi wadah bagi para santri untuk menyampaikan gagasan, kebutuhan, dan harapan secara langsung kepada pemerintah daerah. Aspirasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan ke depan.

Sebanyak 50 santri dari 15 pondok pesantren di Banyuwangi mengikuti forum tersebut. Mereka mendiskusikan berbagai isu sosial, mulai dari fenomena sound horeg, bahaya narkoba, perundungan dan kekerasan di lingkungan pondok pesantren, hingga harapan mengenai sosok santri ideal pada masa depan.

Dalam forum tersebut, sejumlah santri turut menyampaikan usulan. Salah satunya, Elsya Putri Natalia Saputro, yang mengusulkan pendampingan keterampilan nonteknis (soft skill) berbasis digital untuk membantu santri mengembangkan kompetensi, terutama di era digital.

"Santri kerap dinilai ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Maka, kami berharap agar pemkab memberikan pendampingan dan pelatihan softskill berbasis digital bagi para santri. Karena di zaman yang serba digital ini, skill tersebut sangat kita butuhkan," ujar Elsya, santri Pondok Pesantren Adz-Dzikra yang tengah menempuh kuliah di Universitas Cordoba Banyuwangi.

Usulan lainnya disampaikan M. Ibrahim Al Hafidi yang menyoroti fenomena sound horeg yang tengah menjadi perbincangan di masyarakat. Ia berharap ada ketentuan hukum dan aturan yang jelas agar fenomena tersebut tidak menimbulkan gangguan, tetapi tetap dapat menjadi hiburan yang mendidik sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga.

"Harus ada ketentuan hukun dan aturan yang jelas. Sehingga adanya fenomena ini tidak mengganggu, melainkan bisa menjadi ajang hiburan yang mendidik, serta memberikan dampak ekonomi bagi warga," ujarnya.

Selain itu, para santri menyampaikan harapan terkait pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan pondok pesantren. Mereka menilai peran pengasuh dan pendamping santri penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan memberikan dukungan emosional bagi para santri yang tinggal jauh dari orang tua.

"Peran kyai harus bisa menggantikan sosok ayah di rumah. Pendamping kamar juga harus bisa merangkul dan mengayomi sehingga santri merasa aman dan mendapatkan kasih sayang penuh meski jauh dari orang tua," ujarnya.

Para santri menilai kurangnya perhatian dan kasih sayang dapat menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi perilaku perundungan. Karena itu, kehadiran sosok pengganti orang tua yang dapat menjadi teladan dan memberikan perhatian diharapkan mampu menekan potensi terjadinya perundungan.

Ipuk menegaskan, Pemkab Banyuwangi berupaya melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan agar program pembangunan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan warga.

Menurut Ipuk, selain Rembug Santri, Pemkab Banyuwangi rutin menjaring aspirasi masyarakat setiap tahun melalui forum Rembug Lansia, Rembug Anak, Rembug Disabilitas, dan Rembug Perempuan.

"Semua rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut, akan menjadi atensi dan bahan pertimbangan kami dalam pengambilan kebijakan daerah," tegas Ipuk.

Forum Rembug Santri tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Endi Fadlullah dari Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Ning Atina Balqis Iskandar dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, serta Ustaz Ghifari Miqdad Al-Ghifari dari Pondok Pesantren Daar Al Ihsan Mabadiul Ihsan Karangdoro.

(ega/ega)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.