Mahakam Ulu -
Musim kemarau membuat harga beras di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, ini tembus Rp 1 juta per kg akibat sungai surut pada musim kemarau. Pasalnya, masyarakat di wilayah itu mengandalkan jalur sungai untuk transportasi dan logistik.
Dir Binmas Polda Kaltim Kombes Arman mengungkapkan ada tiga kampung di bagian hulu Kecamatan Long Apari yang sebelumnya tidak bisa dijangkau melalui jalur darat. Untuk sampai ke sana, petugas harus menggunakan perahu bermesin dan melewati riam dengan arus deras serta bebatuan, dengan waktu perjalanan mencapai beberapa jam.
"Di atas ibu kota ini ada tiga kampung lagi. Tiga kampung ini ke atas itu tidak bisa dilewati darat, jadi harus dilewati sungai, perahu yang bermesin di belakang itu. Nah, ke sana itu banyak riam yang harus dilewati, air deras yang berbatu. Itu butuh 2 sampai 3 jam," ujar Arman, dilansir detikKalimantan, Selasa (27/10/2026).
Jalur air yang selama ini menjadi akses menuju kampung-kampung pedalaman tidak selalu bisa digunakan, sedangkan jalan darat baru kembali bisa dilalui setelah dilakukan perbaikan.
"(Sungai) surut sekali. Dalam waktu kurang lebih dua minggu inilah jalan daratnya baru bisa ditembus," katanya.
Arman menyebut sebelum akses darat kembali terbuka, kendaraan hanya bisa mencapai wilayah tertentu dan bantuan harus dilanjutkan menggunakan perahu kecil. Jalan yang sebelumnya rusak itu juga tidak bisa dilalui sepeda motor karena jembatan kayu hancur saat musim hujan dan badan jalan ditumbuhi tanaman.
"Dulu tidak ada perawatan, jadi pas hujan itu jembatannya hancur. Tidak bisa dilewati, jalannya hancur, habis itu tumbuhan tumbuh di jalan. Jadi tidak bisa akses darat, untuk pakai motor pun tidak bisa," jelasnya.
Terbatasnya akses transportasi berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat. Arman mengatakan harga beras ukuran 25 kilogram di Kampung Long Apari mencapai sekitar Rp 1 juta.
"Kalau beras di atas (Kampung Mahulu) itu kurang lebih, yang 25 kilo itu saja Rp 1 juta. Kalau gas di ibu kota kecamatan Rp 750.000 yang 12 kilo, untuk gas yang 3 kilo itu sampai Rp 300 ribu. (Dibeli) mau tak mau mereka tetap membeli meski mahal, sisanya untuk meringankan mereka mengandalkan hasil ladang," ungkap Arman.
Baca selengkapnya di sini
(idh/dhn)