JawaPos.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengajak 1.600 pelajar SMA di Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah. Langkah itu diambil untuk membentengi dan mencegah paparan konten kekerasan di ruang digital.
Kepala BNPT Eddy Hartono menyinggung pentingnya perhatian bersama terhadap ruang digital yang diakses oleh anak dan remaja. Berdasar data BNPT, ada 782 anak di 18 provinsi terpapar konten kekerasan melalui berbagai grup digital, termasuk True Crime Community (TCC).
Grup itu pula yang membahas berbagai kasus kriminal dan insiden kekerasan hingga menginspirasi beberapa pelajar melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Baik kasus di Jakarta maupun Sumatera Barat (Sumbar). Menurut Eddy, bahaya paparan konten kekerasan di ruang digital harus menjadi pengingat semua.
Para pelajar diharapkan mampu menumbuhkan sikap saling menghargai, menjaga persatuan di tengah perbedaan, serta membangun ruang digital yang sehat dan bebas dari ujaran kebencian. Eddy mengajak para pelajar menerapkan prinsip 3T. Yakni tahan, telusuri, dan timbang.
”Jangan sampai terpapar oleh info-info kekerasan, ujaran kebencian. Jadi, teman-teman harus menerapkan 3T. Pertama Tahan, tahan dulu, lihat dulu informasinya. Kedua Telusuri, jangan langsung bagikan, telusuri dulu. Ketiga Timbang, pertimbangkan ini perlu tidak di-share,” kata Eddy pada Selasa (20/10).
Pesan itu disampaikan oleh Eddy dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinekaan di Tengah Perbedaan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur (Jaktim). Kegiatan itu diikuti oleh pelajar dari 58 sekolah.
”Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini saya harap teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing, ini ada 58 sekolah. Kemarin saya juga sudah deklarasi dengan komite sekolah. Komite sekolah ada tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua,” lanjutnya.
Eddy menekankan bahwa bahwa pendampingan terhadap anak di ruang digital perlu diperkuat melalui kolaborasi orang tua, tenaga pendidik, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Upaya perlindungan tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan, melainkan juga dengan membekali generasi muda.
Selain itu, kemampuan berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab dalam menggunakan media digital juga penting. Menurut dia, generasi muda memiliki peran penting dalam merawat persatuan, termasuk melalui perilaku sehari-hari dan aktivitas di ruang digital.