Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Cegah Perubahan Iklim, Badan Geologi Petakan Lokasi Penyimpanan Karbon

Akuifer salin di bawah permukaan bumi berpotensi menjadi lokasi penyimpanan karbon untuk mendukung teknologi CCS.

Liputan 6 3 menit baca 0 komentar
Cegah Perubahan Iklim, Badan Geologi Petakan Lokasi Penyimpanan Karbon
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan potensi formasi akuifer salin di bawah permukaan bumi sebagai lokasi penyimpanan karbon. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menekan emisi gas rumah kaca dan memitigasi perubahan iklim.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, upaya tersebut diselaraskan dengan komitmen Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050), yang mencakup strategi pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon di Indonesia.

"Badan Geologi senantiasa menyelaraskan langkah dengan komitmen. Salah satu strategi penting dalam dokumen LTS-LCCR 2050 tersebut adalah pengimplementasian teknologi Carbon Capture and Storage di Indonesia," kata Lana ketika dikonfirmasi mengenai target prioritas Badan Geologi pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjawab tantangan perubahan iklim, dilansir Antara, Rabu (28/10/2026).

Untuk mendukung pengembangan CCS, Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi memfokuskan penyelidikan pada cekungan sedimen dan wilayah greenfield guna mengidentifikasi formasi geologi yang berpotensi menjadi tempat penyimpanan karbon secara aman.

Berdasarkan hasil pemetaan dan penyaringan regional hingga 2025, Badan Geologi mencatat potensi kapasitas teoretis penyimpanan karbon sekitar 6.435 gigaton (Gt) CO2 yang tersebar di 41 area akuifer salin.

Akuifer salin merupakan formasi batuan bawah permukaan bumi yang mengandung air dengan tingkat salinitas tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi. Formasi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan karbon dioksida (CO2) melalui teknologi CCS, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik geologi dan aspek keselamatannya.

"Secara spesifik, prioritas kerja kami dititikberatkan pada cekungan-cekungan sedimen yang belum berproduksi migas atau area frontier. Optimalisasi formasi akuifer salin atau saline aquifer sebagai media penyimpanan karbon yang berbasis survei geologi dan skrining regional," kata Lana.

 

Potensi Penyimpanan Karbon

Dia memaparkan, potensi penyimpanan karbon di 41 area tersebut tersebar di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra. Kalimantan memiliki potensi terbesar, yakni 4.824 Gt CO2e yang tersebar di 12 area, termasuk Bengkayang, Entikong, Tabang, dan Puruk Cahu.

Sementara itu, Pulau Jawa memiliki potensi penyimpanan sebesar 1.225 Gt CO2e di 15 area, meliputi Sragen, Banyumas, Kediri, hingga Bogor.

Adapun di Sumatra, potensi penyimpanan karbon tercatat sebesar 386 Gt CO2e yang tersebar di 14 area, termasuk Padang Sidempuan, Muara Enim, dan Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Badan Geologi berencana memperluas pemetaan wilayah potensial penyimpanan karbon secara bertahap. Pada 2026, kajian lapangan difokuskan di Bali hingga Nusa Tenggara, kemudian diperluas ke Sulawesi hingga Papua pada periode 2027–2028.

"Bali hingga Nusa Tenggara pada 2026. Selanjutnya, pada tahun 2027-2028 kajian akan diperluas ke wilayah Sulawesi hingga Papua," kata Lana.

Menurut dia, penyediaan basis data geologi untuk penyimpanan CO2 menjadi fondasi dalam mendukung pengembangan proyek CCS di Indonesia. Teknologi ini diharapkan berkontribusi terhadap upaya penurunan emisi karbon dan pencapaian komitmen nasional untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius, sejalan dengan tujuan dalam kerangka kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim (UNFCCC).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.