Beijing -
China meningkatkan upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah, yang dipicu oleh perang yang dikobarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Otoritas Beijing menyerukan semua pihak yang berkonflik untuk kembali ke meja perundingan.
Seruan ini disampaikan China setelah melakukan serangkaian pertemuan berturut-turut dengan para pejabat Iran, Oman, dan Arab Saudi di Beijing pekan ini.
Pertemuan itu berlangsung beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman perang baru, di tengah konflik yang berlangsung lebih dari delapan bulan terakhir. Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel itu telah meluas hingga ke negara-negara tetangga di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi, seperti dilansir AFP, Selasa (3/11/2026), menyampaikan kepada Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri Kani, bahwa Beijing mendukung Teheran dalam "menjaga kedaulatan dan keamanannya sendiri".
Dalam pertemuan terpisah dengan Penasihat Keamanan Nasional Saudi, Musaad bin Mohammad al-Aiban, di Beijing, Wang juga menyerukan dialog untuk mengakhiri konflik, sembari menekankan pentingnya "menjaga keamanan energi regional dan keselamatan jalur pelayaran".
China, yang merupakan mitra ekonomi utama Iran, telah sejak lama berupaya meredakan ketegangan dalam konflik yang berkecamuk selama berbulan-bulan tersebut, yang telah mengganggu jalur pelayaran global.
Pada Sabtu (31/10), Trump menyatakan bahwa AS telah melumpuhkan sebagian besar kekuatan militer Iran, namun masih harus "mengurusi" satu atau dua target lainnya. Sementara itu, Teheran telah memperingatkan akan adanya pembalasan jika mereka diserang.
"Semua pihak harus... dengan semangat rasionalitas dan pragmatisme, berfokus pada solusi politik, bukannya kembali ke konflik bersenjata," cetus Wang kepada Bagheri Kani dalam pertemuan di Beijing.
Kementerian Luar Negeri China sebelumnya tidak mengumumkan kunjungan Bagheri Kani ke ibu kota China
Pada Senin (2/11), Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan dengan Sultan Oman, Haitham bin Tariq, di Beijing. Ini menjadi kunjungan pertama bagi kepala negara dari negara Teluk tersebut ke China sejak hubungan diplomatik kedua negara terjalin.
Xi mengatakan kepada Haitham bahwa China siap untuk "berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan tersebut".
Laporan kantor berita China, Xinhua, menyebutkan bahwa Xi menegaskan agar Timur Tengah tidak seharusnya menjadi "arena pergulatan bagi persaingan antarnegara besar maupun konflik geopolitik".
Akhir bulan ini, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Beijing akan mengirimkan utusan khusus untuk Timur Tengah ke Iran, Oman, dan Saudi sebagai bagian dari "diplomasi ulang-alik... yang bertujuan untuk mendorong perundingan damai dan meredakan ketegangan".
(nvc/dhn)