Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Dampak MBG: BGN Klaim Tinggal 14 Persen Siswa yang Datang ke Sekolah dalam Kondisi Lapar

Program Makan Bergizi Gratis bantu siswa datang ke sekolah tanpa lapar, tingkatkan konsumsi protein, dan edukasi gizi.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
Dampak MBG: BGN Klaim Tinggal 14 Persen Siswa yang Datang ke Sekolah dalam Kondisi Lapar
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu mengurangi jumlah siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Saat ini persentase siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi tersebut berada di angka 14 persen.

Meski demikian, kata Sudaryono, kondisi tersebut perlu dipahami dalam konteks nasional, mengingat kebutuhan gizi anak di setiap daerah tidak sama. Karena itu, evaluasi program perlu mempertimbangkan kondisi peserta didik di berbagai wilayah, termasuk daerah yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi.

“Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia,” ungkap Sudaryono usai meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10).

Selain itu, dirinya juga mengeklaim MBG meningkatkan konsumsi protein anak menjadi hampir 80 persen.

"Konsumsi protein itu kemudian dengan MBG ini konsumsi protein anak-anak itu kemudian juga naik dari kalau nggak salah dari 30 atau 40, 30-an persen itu kemudian naik menjadi hampir 80 persen,” ujar Sudaryono 

Lebih dari sekadar menyediakan makanan, Sudaryono bilang MBG juga diharapkan menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang.

Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menilai bahwa pemahaman mengenai gizi belum merata di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan guru dalam pelaksanaan program dinilai penting untuk memperkuat edukasi gizi kepada peserta didik.

“Bukan kok kita ngasih makan gurunya bukan, tapi gurunya diberikan untuk dalam rangka edukasi gizi. Kenapa mesti ada serat, sayur, buah, kenapa mesti makan sayur, anak-anak kenapa nggak suka sayur harus suka sayur dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ia berharap edukasi melalui lingkungan sekolah dapat membantu anak memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang. Kebiasaan tersebut juga berpotensi terbawa hingga ke lingkungan keluarga.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.