Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis dampak tak langsung dari Siklon Tropis Champi di Indonesia. Badai ini dikenal juga sebagai Topan Champi atau Typhoon No.30 di Jepang.
BMKG pada Kamis (22/10) menjelaskan dampak tidak langsung Siklon Tropis Champi terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia (24 jam ke depan hingga 23 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB), yaitu:
Hujan dengan Intensitas Sedang hingga Lebat:
Kalimantan Utara (Kaltara)
Kalimantan Barat bagian utara
Kepulauan Riau (Kepri) bagian utara
Gelombang Laut Tinggi:
1.25 - 2.5 m (Moderate Sea):
Perairan Kep. Sangihe - Kep. Talaud
Perairan utara Papua Barat Daya hingga Papua
Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua
2.5 - 4.0 m (Rough Sea):
Keluar dari Monitoring TCWC Jakarta
BMKG menjelaskan, Siklon Tropis Champi berkembang dari Bibit Siklon Tropis 96W yang mencapai intensitas siklon tropis pada 15 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB di luar wilayah Monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.
Sistem cuaca ini mulai memasuki wilayah Monitoring TCWC Jakarta pada 19 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB. Saat ini posisi berada di Laut Filipina sebelah timur laut Filipina. Di Filipina, badai super ini dinamai Rosal.
Kecepatan angin maksimum dalam 24 jam ke depan diprakirakan menurun, dan intensitasnya berada pada kategori empat dengan pergerakan ke arah barat-barat laut.
"Informasi ini merupakan informasi terakhir dari TCWC Jakarta untuk Siklon Tropis Champi karena saat ini telah keluar dari wilayah Monitoring TCWC Jakarta," pungkas BMKG.
Saat ini, Champi berada dalam wilayah pemantauan Filipina dan Jepang.
Per pukul 11.00 waktu Filipina atau pukul 10.00 WIB hari ini, intensitas badai mulai perlahan melemah saat bergerak ke arah barat-barat laut di Laut Filipina (400 km sebelah timur Basco, Batanes).
Badai ini diperkirakan bergerak menuju wilayah Jepang dan akan keluar dari area pemantauan Filipina pada Jumat malam atau Sabtu pagi.