Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Dari Khotbah Jumat Kapolri: Sebuah Harapan Polisi Dekat dengan Rakyat

Kapolri Suyudi Ario Seto tampil sebagai khatib Jumat, menekankan pentingnya kerendahan hati dan tanggung jawab.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Dari Khotbah Jumat Kapolri: Sebuah Harapan Polisi Dekat dengan Rakyat
Foto: Detik

Jakarta -

Terus terang, saya cukup terkejut sekaligus mengapresiasi ketika mengetahui Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto tampil sebagai khatib salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Mabes Polri, Jumat (9/10/2026). Di tengah besarnya tanggung jawab memimpin institusi kepolisian, kehadirannya di mimbar Jumat membawa pesan moral yang penting: agar setiap orang senantiasa rendah hati, tidak sombong, serta menyadari bahwa jabatan, pangkat, dan kekuasaan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Bagi saya, pesan tersebut bukan sekadar nasihat keagamaan, melainkan juga refleksi penting bagi kepemimpinan dan masa depan Polri. Ketika seorang Kapolri mengingatkan tentang kerendahan hati, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab, muncul harapan bahwa nilai-nilai itu benar-benar menjadi teladan bagi seluruh anggota kepolisian, dari tingkat pusat hingga ke pelosok daerah.

Saya mengapresiasi pesan tersebut karena salah satu tantangan penting Polri ke depan adalah terus memperkuat kepercayaan masyarakat. Citra institusi kepolisian tidak cukup dibangun melalui slogan dan publikasi keberhasilan, tetapi harus tumbuh dari pengalaman nyata warga ketika memperoleh pelayanan, mencari perlindungan, dan memperjuangkan keadilan.

Harapan saya kepada Kapolri sederhana: jadikan semangat "Polisi Bersama Masyarakat" sebagai gerakan nyata untuk memulihkan citra Polri, membangun kembali kepercayaan publik, dan mendekatkan polisi dengan kehidupan rakyat.

Memulihkan Kepercayaan Melalui Tindakan Nyata

Citra kepolisian tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan mengungkap kasus atau ketegasan menegakkan hukum. Citra juga dibentuk oleh cara anggota menerima laporan, memperlakukan korban, merespons pengaduan, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Masyarakat membutuhkan polisi yang mudah ditemui, bersedia mendengar, dan memberikan kepastian dalam penanganan persoalan. Mereka tidak selalu menuntut semua masalah selesai seketika, tetapi berhak mendapatkan pelayanan yang ramah, proses yang jelas, dan perlakuan yang adil tanpa membedakan status sosial, kekayaan, jabatan, maupun koneksi.

Karena itu, pemulihan citra Polri harus dimulai dari perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Polisi harus hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan, bukan justru menciptakan jarak atau membuat warga merasa takut ketika membutuhkan pertolongan.

Enam program prioritas transformasi Polri yang dipaparkan Kapolri dapat menjadi landasan untuk mewujudkan perubahan tersebut. Penguatan kelembagaan harus membuat pelayanan semakin dekat dan mudah dijangkau. Pembinaan sumber daya manusia dan rekrutmen perlu mengutamakan kompetensi serta integritas. Pelayanan publik harus cepat, transparan, dan bebas dari pungutan liar.

Di sisi lain, penegakan hukum mesti profesional dan berkeadilan. Pengawasan harus memastikan setiap pengaduan ditindaklanjuti secara bertanggung jawab, sedangkan penggunaan anggaran harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.

Seluruh program tersebut akan bermakna apabila keberhasilannya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan pengalaman warga. Apakah laporan lebih mudah disampaikan? Apakah pengaduan ditangani secara transparan? Apakah dugaan pelanggaran oleh anggota diperiksa secara objektif? Apakah masyarakat merasa lebih aman dan dihormati?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang semestinya menjadi ukuran keberhasilan transformasi dan pemulihan citra Polri.

Rendah Hati, Tegas, dan Terbuka terhadap Kritik

Pesan Kapolri dalam khotbah Jumatnya mengingatkan bahwa kerendahan hati tidak mengurangi kewibawaan. Sebaliknya, sikap tersebut menunjukkan bahwa kewenangan dijalankan dengan kesadaran akan tanggung jawab, bukan untuk menunjukkan superioritas.

Polisi harus tetap tegas terhadap pelanggaran hukum, tetapi ketegasan perlu berjalan seiring dengan sikap humanis dan penghormatan terhadap hak setiap orang. Masyarakat juga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan kritik secara bertanggung jawab tanpa langsung dipandang sebagai pihak yang berseberangan dengan institusi.

Apabila terdapat dugaan pelanggaran oleh anggota, pemeriksaan harus dilakukan secara objektif dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum. Transparansi dan kesediaan memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari upaya membangun kepercayaan.

Kepercayaan publik tidak tumbuh hanya karena institusi menyatakan dirinya baik, melainkan karena masyarakat melihat kesungguhan untuk memperbaiki kekurangan.

Polisi Harus Hadir Sebelum Masyarakat Memanggil

Kedekatan polisi dengan rakyat juga perlu dibangun melalui langkah pencegahan. Polisi jangan hanya hadir ketika kejahatan terjadi, konflik membesar, atau persoalan menjadi perhatian publik.

Melalui Bhabinkamtibmas dan jajaran kewilayahan, Polri dapat memperkuat dialog dengan warga, mendengarkan persoalan lingkungan, mencegah konflik, serta membangun kerja sama dalam menjaga keamanan.

Polisi perlu dikenal bukan hanya karena kewenangannya menindak, tetapi juga karena kesediaannya membantu dan melindungi. Kehadiran yang konsisten di tengah masyarakat dapat membuat warga lebih nyaman menyampaikan persoalan sejak dini, sebelum masalah berkembang menjadi lebih besar.

Namun, kedekatan itu tidak boleh membuat penegakan hukum menjadi pilih kasih. Polisi harus tetap profesional, menjaga integritas, dan memperlakukan semua warga secara setara.

Polisi Bersama Masyarakat, Bukan Sekadar Tagline

Pemulihan citra Polri membutuhkan konsistensi, keteladanan pimpinan, dan perubahan budaya kerja hingga ke tingkat paling bawah. Tidak cukup hanya mengandalkan kampanye komunikasi. Perubahan harus terlihat dalam perilaku anggota, kualitas pelayanan, transparansi penegakan hukum, dan kesungguhan menindak pelanggaran.

Kapolri memiliki peran penting untuk memastikan nilai-nilai tersebut menjadi standar bagi seluruh jajaran. Pimpinan harus memberikan teladan, membuka ruang evaluasi, dan memastikan setiap anggota memahami bahwa seragam kepolisian merupakan simbol pengabdian kepada masyarakat.

Saya berharap keberhasilan transformasi Polri dinilai bukan semata-mata dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan juga dari tumbuhnya rasa aman, kemudahan pelayanan, kepastian penanganan laporan, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat.

Tentu, pemulihan citra tidak dapat berlangsung dalam semalam. Namun, perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten: menyambut warga dengan baik, mendengarkan keluhan dengan sungguh-sungguh, menjelaskan proses hukum secara terbuka, dan berani memperbaiki kesalahan.

Pada akhirnya, pesan kerendahan hati yang disampaikan Kapolri di mimbar Jumat hendaknya tidak berhenti sebagai nasihat moral. Pesan itu perlu diterjemahkan menjadi budaya pelayanan dan kepemimpinan yang nyata.

"Polisi Bersama Masyarakat" harus menjadi komitmen nyata: dekat dalam pelayanan, rendah hati dalam pengabdian, tegas dalam penegakan hukum, dan adil kepada semua.

Harapan saya, masyarakat ke depan tidak lagi diliputi keraguan ketika membutuhkan pertolongan polisi. Sebaliknya, mereka merasakan kehadiran aparat yang siap mendengar, melindungi, dan membantu mereka mendapatkan keadilan.

Sebab, citra polisi tidak dipulihkan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan yang membuktikan bahwa setiap warga layak dihormati, dilindungi, dan mendapatkan keadilan.

Polisi yang kuat bukanlah polisi yang berjarak dari rakyat, melainkan polisi yang mampu membangun kepercayaan bersama rakyat. Di situlah makna sesungguhnya dari Polisi Bersama Masyarakat dan jalan menuju Polri yang semakin dipercaya di masa depan.

(hri/fas)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.