Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Demokrat Menang Pemilu Sela AS, RI Pantau Dampaknya ke Ekonomi-Harga Energi Global

Demokrat Menang Pemilu Sela AS, RI Pantau Dampaknya ke Ekonomi-Harga Energi Global #bisnisupdate #update #bisnis #text

Kumparan 2 menit baca 0 komentar
Demokrat Menang Pemilu Sela AS, RI Pantau Dampaknya ke Ekonomi-Harga Energi Global
Foto: Kumparan

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, buka suara terkait hasil pemilihan paruh waktu atau pemilu sela Amerika Serikat (AS) yang digelar 3 November 2026. Baik pemilihan Senat maupun Kongres dimenangi oleh Partai Demokrat.

Airlangga mengatakan, harga minyak mentah global sempat menembus USD 117 per barel pada akhir Oktober 2026. Namun, saat ini berhasil terkoreksi kembali di kisaran USD 94,6 per barel.

"Di antara ketidakpastian ini tentu kita juga memonitor mid term election di Amerika. Kita lihat bahwa Kongres maupun Senat dikuasai oleh Demokrat, dan tentu ini akan berakibat terhadap kebijakan-kebijakan perekonomian maupun geopolitik global," ungkapnya saat konferensi pers, Kamis (5/11).

Dia menuturkan realisasi harga energi tersebut hingga saat ini masih di bawah proyeksi terburuk pemerintah, yakni USD 100 per barel. Meski demikian, realisasinya sudah jauh di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.

"Kami melihat bahwa untuk energi relatif harga pembelian kita di sektor energi di bawah USD 100, sekitar USD 93 jadi sampai dengan akhir tahun relatif gejolak energi itu terserap oleh APBN," tegas Airlangga.

Terlepas dari berbagai gejolak tersebut, Airlangga menilai perekonomian Indonesia masih stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen (yoy) pada kuartal III 2026.

Menurutnya, capaian tersebut lebih tinggi dari negara anggota G20 lain, seperti China 4,5 persen (yoy), Korea Selatan 3,4 persen (yoy), Jerman 1,2 persen (yoy), bahkan Jepang di angka 0,7 persen (yoy). Indonesia hanya kalah dari India yang tumbuh lebih tinggi, 7,8 persen (yoy).

"Kita melihat juga situasi ketidakpastian ini, ekonomi global masih sekitar 3,1 persen dan tahun depan diperkirakan meningkat ke 3,4 persen, dan perdagangan 4,6-4,7 persen, inflasi tahun ini global 4,7 persen dan diperkirakan turun ke 4,1 persen. Kalau kita lihat PMI global juga di angka 52,6 dan keyakinan konsumer di angka 47,3," tegas Airlangga.

Indonesia, kata Airlangga, juga terdampak fenomena El-Niño yang mencakupi sekitar 61 persen dari wilayah. Selain itu, masih ada tekanan lain seperti kenaikan suku bunga The Fed sebesar 3,75-4 persen, dan Imbal Hasil US Treasury 10 tahun sekitar 4,86 persen.

Kendati begitu, dia tetap optimistis Indonesia bisa memertahankan momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2026, setidaknya sama seperti capaian saat ini di kisaran 5,4 persen.

"Untuk Q4 pemerintah tetap menargetkan secara year to date 5,4, jadi kira-kira targetnya hampir sama dengan apa yang dicapai di Q3," ungkap Airlangga.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.