JawaPos.com – Dewan Pers menegaskan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produksi karya jurnalistik harus tetap melibatkan manusia dari awal hingga akhir. Teknologi AI hanya boleh digunakan sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran wartawan dalam menghasilkan berita.
Anggota Dewan Pers sekaligus Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Organisasi periode 2025–2028, Rosarita Niken Widiastuti mengatakan, penggunaan AI dalam kerja jurnalistik telah memiliki pedoman melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 1/PERATURAN-DP/I/2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Karya Jurnalistik.
"Apabila menggunakan AI, tetap dari awal sampai akhir itu harus ada keterlibatan manusia. Harus ada betul-betul dikerjakan oleh manusia. Jadi AI itu hanya membantu saja untuk apa misalnya, riset," kata Niken usai kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Aula Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).
Dia menjelaskan, wartawan tetap harus melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI. Sebab, jawaban yang diberikan teknologi tersebut belum tentu benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kita harus kembali check and recheck, apakah berita dari informasi dari AI ini benar atau tidak," jelas wanita yang telah 32 tahun berkarier di Industri media tersebut.
Niken juga menyoroti penggunaan AI untuk membantu menyempurnakan tulisan wartawan. Menurutnya, hasil olahan AI tetap harus melalui sentuhan manusia agar tulisan memiliki karakter dan empati yang tidak dimiliki teknologi tersebut.
Wartawan, lanjut Niken, perlu mengolah kembali hasil tulisan AI agar tidak sepenuhnya bergantung pada bahasa mekanis yang dihasilkan teknologi. "Jadi nggak nggak semata-mata oleh AI," paparnya.
Pentingnya Kode Etik Jurnalistik
Selain persoalan AI, Niken juga mengingatkan pentingnya etika jurnalistik di tengah maraknya hoaks, malinformasi, dan disinformasi. Menurutnya, media arus utama memiliki peran sebagai pemeriksa fakta bagi masyarakat yang membutuhkan informasi terpercaya.
Karena itu, wartawan tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis. Pemahaman dan penerapan etika jurnalistik menjadi hal yang lebih penting dalam menghasilkan pemberitaan.