JawaPos.com — Jawa Pos Learning Hub menghadirkan kelas khusus bersama Glenn Karela, CPM (Asia). Glenn untuk mengupas dinamika pergantian jabatan, relasi kekuasaan, hingga proses pengambilan keputusan strategis dalam organisasi. Kelas bertajuk Seni Membaca Jabatan dan Dinamika Organisasi: Dari Pergantian Pimpinan hingga Pengambilan Keputusan Strategis itu dijadwalkan berlangsung Jumat (30/10) pukul 19.00 WIB.
Kelas tingkat pemula tersebut mengajak peserta memahami alasan di balik seseorang mendapatkan promosi, mengalami pergeseran posisi, atau bahkan dicopot dari jabatannya. Glenn Karela yang berprofesi sebagai Corporate Political Architect akan membedah berbagai faktor yang memengaruhi keputusan organisasi, baik di lingkungan pemerintahan maupun korporasi.
Selama ini, pergantian pimpinan kerap dipahami sebagai konsekuensi langsung dari kompetensi, pencapaian target, dan penilaian kinerja individu. Namun, Glenn menilai proses tersebut jauh lebih kompleks karena melibatkan kepercayaan, kepentingan, hubungan kekuasaan, serta perubahan prioritas organisasi.
"Kita sering melihat seseorang naik jabatan, digeser, atau bahkan dicopot, lalu langsung mengaitkannya dengan kompetensi dan kinerja,” ujar Glenn kepada JawaPos.com, Rabu (21/10). “Padahal, dalam organisasi, kompetensi bukan satu-satunya faktor. Ada kepercayaan, kepentingan, relasi kekuasaan, akses informasi, dan perubahan prioritas yang juga dapat memengaruhi sebuah keputusan,” tanbah Glenn.
Mengapa Pergantian Jabatan Tidak Selalu Ditentukan Kompetensi?
Pergantian jabatan dalam organisasi tidak selalu mencerminkan keberhasilan ataupun kegagalan seseorang menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Menurut Glenn, keputusan tersebut juga dapat dipengaruhi hubungan antaraktor, perubahan kepentingan, dan tingkat kepercayaan terhadap individu yang menduduki posisi tertentu.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika seseorang memiliki kemampuan profesional yang baik, tetapi menghadapi penolakan dari lingkungan organisasinya. Situasi tersebut menunjukkan pentingnya memahami bagaimana kekuasaan dan kepentingan bekerja di balik struktur formal sebuah institusi.
“Orang yang kompeten belum tentu selalu diterima oleh lingkungan kekuasaan di sekitarnya,” ungkapnya. “Ketika seseorang membawa perubahan yang memengaruhi kepentingan, kewenangan, atau posisi pihak lain, resistensi bisa muncul. Masalahnya, resistensi dalam organisasi tidak selalu datang melalui penolakan terbuka,” tambah Glenn.
Melalui pembahasan tersebut, peserta Jawa Pos Learning Hub akan diajak mengenali kemungkinan munculnya resistensi ketika sebuah kebijakan mengubah keseimbangan kepentingan. Pemahaman ini penting agar profesional tidak hanya menilai dinamika jabatan berdasarkan keputusan akhir, tetapi juga memperhatikan proses yang mendahuluinya.