Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Dirut Telkom di DTIIF 2026: Infrastruktur dan Keamanan Digital Jadi Fondasi Industri AI Masa Depan

Penguatan konektivitas, komputasi dan ekosistem AI menjadi kunci menangkap peluang industri global melalui pengembangan Sovereign Digital Technology TelkomGroup

iNews 2 menit baca 0 komentar
Dirut Telkom di DTIIF 2026: Infrastruktur dan Keamanan Digital Jadi Fondasi Industri AI Masa Depan
Foto: iNews

JAKARTA, iNews.id - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang lahirnya industri baru yang dapat mengubah cara bisnis dan layanan publik beroperasi. Namun demikian, adopsi teknologi saja tidak cukup untuk menangkap peluang tersebut.

Dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan teknologi, kebutuhan pengguna, dan investasi agar inovasi dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan. Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Nanang Hendarno, dalam plenary session “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10).

Dalam sesi ini, Nanang berdialog bersama Teddy Liu, Executive Director sekaligus Chief Executive Officer JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited, serta Sara Supaamornkul, Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis. Diskusi yang dipandu oleh Irwan Rei, ManagingDirector of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia tersebut membahas teknologi yang berpotensi membentuk industri global berikutnya dari perspektif digital, bisnis, dan pengembangan infrastruktur.

TelkomGroup di DTIIF 2026. (Foto: Istimewa)TelkomGroup di DTIIF 2026. (Foto: Istimewa)

Nanang menjelaskan bahwa AI berpotensi menjadi layanan yang digunakan secara luas, sehingga peluang bisnisnya tidak hanya terletak pada penjualan teknologi, tetapi juga pada infrastruktur yang menopang penggunaannya. Sejak 2022, biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun. Penurunan biaya ini membuka peluang peningkatan konsumsi sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung.

"Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas," ujar Nanang.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.