Jakarta -
Puluhan rumah tangga nelayan di Kampung Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, kini mampu meningkatkan pendapatan dengan mengolah hasil tangkapan ikan menjadi berbagai produk makanan. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas), hasil tangkapan yang sebelumnya hanya dijual segar kini diolah menjadi bakso, nugget, abon, hingga kerupuk dengan pendapatan mencapai Rp 400 ribu-Rp 800 ribu per hari.
"Selain peluang, kami juga mencatat sejumlah tantangan, mulai dari kurangnya kemampuan pengolahan pascapanen, minimnya teknologi tepat guna, hingga terbatasnya akses pemasaran. Akibatnya, nelayan tidak berani menangkap ikan dalam jumlah banyak karena takut membusuk, dan penghasilan mereka menjadi tidak menentu," kata anggota TEP Unhas Adnan, dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Pendampingan tersebut berawal dari temuan lapangan mengenai besarnya potensi perikanan di Distrik Weri-Saharey, terutama ikan pelagis kecil dan ikan demersal. Potensi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Pelatihan ini diikuti 20 rumah tangga nelayan dari kelompok Seir Saharey. Materi yang diberikan mencakup teknik pengolahan ikan, pengemasan dan pelabelan produk, sanitasi, pengelolaan usaha, hingga pemasaran.
Para istri nelayan mendapatkan pelatihan memproduksi berbagai olahan ikan tanpa bahan pengawet. Mereka juga diperkenalkan dengan penggunaan peralatan produksi, seperti alat pengasapan dan vacuum sealer.
Sementara itu, para nelayan mempelajari penanganan hasil tangkapan setelah panen melalui penggunaan cold storage. Fasilitas tersebut dapat membantu menyimpan ikan selama 5-7 hari sehingga kualitas hasil tangkapan tetap terjaga sebelum diolah atau dipasarkan.
Dengan modal produksi sekitar Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per hari, kelompok nelayan Seir Saharey dapat memperoleh pendapatan Rp 400 ribu-Rp 800 ribu. Pengolahan hasil tangkapan ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi dibandingkan hanya menjual ikan dalam kondisi segar.
Salah satu peserta pendampingan, Mama Nayu Ohoibor, mengaku merasakan perubahan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia bersama warga kini mampu mengolah ikan menjadi sejumlah produk makanan yang memiliki nilai jual.
"Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa kelola abon, bakso, nugget, sama keripik yang terbuat dari ikan. Tadinya yang kita hanya makan dan jual dengan murah. Dengan adanya kegiatan ini kami bisa berubah dari penghasilan yang tadinya mungkin sedikit, bisa menambah ekonomi dalam hidup kami ke depan," ujarnya pada 26 Oktober 2026.
Pengembangan usaha olahan ikan di Weri-Saharey juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong swasembada pangan. Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya kemandirian pangan dan energi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
"Di tengah dunia sekarang, yang penuh dengan konflik dan perang-perang di mana-mana, kita harus swasembada pangan dan energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain," ujar Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), 19 September 2026.
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga berpesan agar Tim Ekspedisi Patriot memetakan persoalan yang dihadapi masyarakat dan mencari solusi sesuai kebutuhan daerah.
"Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal. Jadi kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Pada akhirnya lokal," ujar AHY dalam dialog makan malam dengan Tim Ekspedisi Patriot di Jayapura pada 17 September 2026.
Senada, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya membangun kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi melalui transformasi yang berkelanjutan.
"Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut," ujarnya pada 27 April 2026.
(ega/akn)