Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Fadli Zon Dorong Aksara Nusantara Hadir di Ruang Digital Global

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya melestarikan tradisi lisan dan tulisan Nusantara melalui digitalisasi.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Fadli Zon Dorong Aksara Nusantara Hadir di Ruang Digital Global
Foto: Detik

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan tradisi lisan dan sistem tulisan tradisional merupakan kekayaan Nusantara yang harus dilestarikan melalui ruang digital global.

Dia menyampaikan Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat tinggi (mega cultural diversity), dengan sekitar 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta belasan sistem tulisan tradisional atau aksara Nusantara.

Aksara Bali, Jawa, Sunda, Batak, Lontara, hingga Pegon dinilai bukan sekadar karakter visual, melainkan juga identitas, sarana penyimpanan ilmu pengetahuan, dan penghubung peradaban antargenerasi.

"Kemajuan teknologi harus merangkul pemajuan kebudayaan. Seiring dengan peresmian peluncuran Nama Domain Internasional untuk aksara Nusantara, kita mengambil langkah penting menuju terwujudnya visi agar warisan budaya tetap menjadi bagian yang hidup dari masa depan digital kita," tegas Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Hal tersebut disampaikan Fadli Zon dalam acara gala dinner Pertemuan Umum Tahunan ke-87 Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) yang berlangsung di Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (19/10).

Penyelenggaraan ICANN87 menjadi momentum bersejarah karena merupakan pertemuan publik ICANN pertama yang diadakan di Indonesia. Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional Indonesia dan Hari Internasional Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga menyambut peluncuran Nama Domain Internasional atau Internationalized Domain Names (IDN) berbasis aksara Nusantara, yakni aksara Bali, Jawa, dan Pegon.

Fadli turut menjelaskan bahwa digitalisasi bahasa merupakan langkah konkret untuk melestarikan bahasa yang terancam punah. UNESCO mencatat, dari sekitar 7.000 bahasa di dunia, baru sekitar 1.000 bahasa yang terwakili secara daring.

Menghadapi tantangan era digital tersebut, pihaknya mendorong integrasi aksara tradisional ke dalam infrastruktur internet global agar keberadaannya tetap terjaga.

"Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Kebudayaan harus tetap hidup, relevan, dan secara aktif digunakan oleh masyarakat, termasuk di dunia digital. Pengakuan teknis terhadap aksara kita melalui Nama Domain Internasional adalah bukti nyata bahwa teknologi bisa menjadi instrumen ampuh melestarikan warisan budaya," jelasnya.

Fadli Zon juga mengapresiasi Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) atas riset dan kerja kerasnya membawa aksara Bali, Jawa, dan Pegon ke ekosistem internet global, serta upaya berkelanjutan untuk mengembangkan dukungan bagi aksara Sunda, Batak, dan Bugis.

Selain itu, Fadli menggarisbawahi empat pilar strategis untuk meminimalkan risiko kepunahan bahasa dan aksara. Untuk memastikan upaya tersebut berdampak nyata bagi masyarakat, dia menyebut sejumlah langkah konkret, yakni dokumentasi dan penelitian budaya, pendidikan dan partisipasi publik, aksesibilitas dan interoperabilitas teknologi, serta sinergi lintas sektor.

"Pengakuan teknis terhadap aksara kita merupakan tonggak penting. Namun, ambisi kita yang lebih besar adalah memastikan bahwa tradisi penulisan ini dapat dipelajari, diakses, dan digunakan secara aktif oleh masyarakat. Hal ini memerlukan kerja sama berkelanjutan dalam beberapa bidang, seperti perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan para pemangku pengetahuan tradisional," ungkapnya.

Menutup sambutannya, Fadli Zon berharap peluncuran Nama Domain Internasional bagi aksara Bali, Jawa, dan Pegon dapat menginspirasi inovasi berkelanjutan, memperkuat literasi budaya, dan membuka berbagai kemungkinan baru bagi tradisi penulisan lainnya di Indonesia dan seluruh dunia.

"Mari kita bangun masa depan digital di mana setiap budaya dapat menemukan tempatnya, setiap bahasa dapat didengar, dan warisan budaya kita terus berkembang," pungkas Fadli Zon.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Bali I Wayan Koster; Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Isnawan Aslam; delegasi dan perwakilan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN); serta perwakilan pemerintah, organisasi internasional, akademisi, pakar teknologi, pelaku budaya, dan komunitas budaya.

Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan serta Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda.

(prf/ega)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.