Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Gempa M7,0 Guncang Tibet Tewaskan 16 Orang, Ahli Ingatkan Potensi Sesar Aktif Indonesia

Sedikitnya 16 orang meninggal dunia, puluhan warga luka-luka, dan 339 rumah roboh, akibat bencana gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Dataran Tinggi Tibet,

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
Gempa M7,0 Guncang Tibet Tewaskan 16 Orang, Ahli Ingatkan Potensi Sesar Aktif Indonesia
Foto: Jawa Pos

Ilustrasi gempa M 7 guncang Tibet pada Jumat (23/10). (NBC News)

JawaPos.com - Sedikitnya 16 orang meninggal dunia, puluhan warga luka-luka, dan 339 rumah roboh, akibat bencana gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok, pada Kamis (22/10) pukul 21.33 WIB atau 22.33 waktu setempat.

Dosen Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia (UI) sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengatakan peristiwa di Tibet menjadi pengingat serius bagi Indonesia. Negara kepulauan ini memiliki lebih dari 400 segmen sumber gempa kerak dangkal yang sewaktu-waktu dapat memicu guncangan merusak.

Beberapa jalur sesar aktif yang perlu diwaspadai di antaranya Sesar Besar Sumatra, Sesar Palu-Koro, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Naik Flores, hingga Sesar Sorong.

Gempa dangkal yang berlokasi dekat kawasan pemukiman padat berpotensi menimbulkan kerusakan masif meskipun magnitudonya terbilang sedang.

Pelajaran krusial lainnya terletak pada kualitas konstruksi bangunan. Kerusakan fatal dan jatuhnya korban jiwa umumnya bukan disebabkan langsung oleh guncangan tanah, melainkan akibat tertimpa struktur bangunan yang roboh.

Selain faktor bangunan, fenomena di Tibet yang terisolasi di area pegunungan menunjukkan tingginya tantangan penanganan darurat di wilayah terpencil.

Kondisi serupa kerap dihadapi Indonesia, di mana akses darat yang terbatas dan risiko longsor dapat menghambat distribusi logistik serta penanganan medis.

Mengingat fenomena pergerakan lempeng tektonik tidak bisa dicegah maupun diprediksi waktu terjadinya, fokus utama keselamatan terletak pada penerapan standar bangunan tahan gempa, penataan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat.

 "Tumbukan kedua lempeng yang berlangsung selama puluhan juta tahun telah membentuk Pegunungan Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet. Proses tersebut menyebabkan kerak bumi mengalami pemendekan, penebalan, pengangkatan, sekaligus pergeseran dan peregangan pada sejumlah bagian wilayah Tibet," ungkap Dr. Daryono, Sabtu (24/10).

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.