Berbagai program strategis terus diakselerasi, mulai dari pemagangan dan pelatihan vokasi untuk menjembatani kebutuhan industri, penguatan sektor pariwisata, guna mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi jutaan UMKM agar siap naik kelas.
Penguatan SDM Berdaya Saing
Dalam pengembangan SDM, Pemerintah telah meluncurkan Program Pemagangan Nasional bagi Lulusan Perguruan Tinggi pada Oktober 2025 dengan target awal 100.000 peserta. Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja melalui pengalaman langsung di dunia usaha, industri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta instansi Pemerintah. Peserta juga memperoleh uang saku setara upah minimum dan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Program tersebut menjawab salah satu tantangan lulusan baru ketika memasuki pasar kerja, yakni kebutuhan akan pengalaman profesional. Melalui pemagangan, lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat membangun keterampilan teknis, etos kerja, dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri.
"Karena biasanya lowongan pekerjaan ini diisi oleh lulusan yang tidak kerja atau secondary. Lulusan primary atau yang baru lulus pertama, jika melamar pekerjaan pasti pertanyaan pertamanya adalah mengenai pengalaman kerja. Nah, inilah yang dijembatani dengan program magang," ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).
Penguatan kesiapan tenaga kerja berlanjut pada 2026 melalui perluasan program pemagangan dan pelatihan vokasi. Program Magang Nasional tahap II ditargetkan menjangkau 150.000 lulusan baru dengan dukungan anggaran Rp4,14 triliun. Sementara itu, program pelatihan vokasi memperoleh alokasi Rp2,12 triliun, dengan sasaran prioritas 220.000 lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 50.000 pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Secara keseluruhan, Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 menargetkan sekitar 340.000 peserta, yang terdiri atas 70.000 peserta serta tambahan 270.000 peserta melalui stimulus ekonomi semester II 2026. Hingga Agustus 2026, sebanyak 89.337 peserta telah mengikuti pelatihan vokasi.
"Ke depan kita harus memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, tetapi juga kalangan industri," tegas Jubir Haryo.
Pariwisata Andalan Pertumbuhan
Selain meningkatkan kesiapan tenaga kerja, pengembangan sektor pariwisata menjadi bagian penting dalam memperluas aktivitas ekonomi dan membuka peluang usaha di berbagai daerah. Pariwisata memiliki keterkaitan dengan beragam sektor, mulai dari transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, ekonomi kreatif, hingga usaha mikro dan kecil yang tumbuh di sekitar destinasi wisata.
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Sektor pariwisata menghasilkan devisa sebesar USD18,28 miliar, mendukung 25,91 juta lapangan kerja, serta berkontribusi langsung sebesar 3,97% terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilai investasi sektor pariwisata pada tahun tersebut mencapai hingga Rp73,55 triliun.
Momentum positif berlanjut pada 2026. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta, tumbuh 4,29%. Devisa pariwisata pada semester I 2026 tercatat sebesar USD8,43 miliar, sementara investasi sektor pariwisata tumbuh 16,64%.
"Kita harus kejar pariwisata itu sebagai low hanging fruit. Dan itu juga penghasil devisa yang besar. Jadi seperti untuk mendukung pembelian di dalam negeri mari kita dorong juga sektor pariwisata," ungkap Jubir Haryo.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pengembangan pariwisata terus diiringi dengan peningkatan kualitas destinasi, konektivitas, kompetensi SDM, dan keterlibatan masyarakat lokal. Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya tercermin dari pergerakan wisatawan dan penerimaan devisa, tetapi juga membuka ruang bagi usaha lokal untuk berkembang serta memperluas manfaat ekonomi di daerah.
Keberpihakan dan Pemberdayaan Masyarakat melalui KUR
Sejalan dengan upaya memperluas kesempatan kerja dan usaha, Pemerintah juga terus memperkuat akses pembiayaan bagi UMKM melalui KUR. Program ini menjadi instrumen untuk mendukung pelaku usaha memperoleh modal dengan skema kredit yang didukung kebijakan Pemerintah, sekaligus mendorong pembiayaan ke sektor-sektor produktif.
"KUR tidak hanya memberikan akses pembiayaan, tapi benar-benar mendorong usaha produktif untuk tumbuh dan naik kelas," tegas Jubir Haryo.
Memasuki 2026, Pemerintah terus memperkuat penyaluran KUR dengan mengarahkan pembiayaan pada sektor produksi. Hingga 23 September 2026, penyaluran KUR telah mencapai Rp232,66 triliun dan menjangkau 3,61 juta debitur, sekaligus mendukung sekitar 10,83 juta tenaga kerja. Perkembangan ini mencerminkan keberlanjutan upaya memperluas akses permodalan bagi UMKM serta memperkuat kapasitas usaha, daya saing, dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Penguatan SDM melalui pemagangan dan vokasi, pengembangan pariwisata, serta perluasan pembiayaan UMKM mencerminkan keterkaitan antara peningkatan kompetensi, penciptaan aktivitas ekonomi, dan pengembangan usaha masyarakat.
Selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berbagai inovasi dan program di bidang penguatan SDM melalui pemagangan dan vokasi, pengembangan sektor pariwisata, serta pemberdayaan UMKM melalui KUR menunjukkan capaian positif dan menjadi modal optimisme bagi pertumbuhan ekonomi yang semakin inklusif dan produktif.
Ke depan, kesinambungan dan penguatan berbagai program tersebut diharapkan dapat semakin memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha, serta memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin dirasakan oleh masyarakat luas.
(akd/ega)