Tel Aviv -
Komite Pemilu Pusat Israel telah merilis hasil penghitungan suara sementara untuk pemilu legislatif yang digelar Selasa (27/10) waktu setempat. Hasil sementara menunjukkan koalisi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berbalik mengungguli kubu oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot.
Exit poll yang sebelumnya dirilis jaringan televisi utama Israel awalnya menunjukkan kubu oposisi unggul tipis atas koalisi Netanyahu, sebelum pembaruan data menunjukkan kedua kubu sama kuat.
Hasil sementara yang dirilis Komite Pemilu Pusat Israel, seperti dilansir The Times of Israel, Rabu (28/10/2026), menyebutkan bahwa sebanyak 41,9 persen kota suara telah dihitung hingga Rabu (28/10) pagi, sekitar pukul 05.58 waktu setempat.
Dalam posisi tersebut, menurut Komite Pemilu Pusat Israel, koalisi pro-Netanyahu memperoleh total 57 kursi parlemen dan kubu oposisi atau kubu anti-Netanyahu meraup total 47 kursi parlemen. Sementara faksi partai-partai Arab -- Joint List dan Ra'am -- bersama-sama meraup 16 kursi sisanya.
Dengan total 120 kursi parlemen atau Knesset diperebutkan dalam pemilu legislatif ini, maka diperlukan setidaknya 61 kursi parlemen untuk bisa meraup mayoritas dan membentuk pemerintahan baru.
Berdasarkan hasil sementara yang dirilis Komite Pemilu Pusat Israel per pukul 05.58 waktu setempat, seperti dikutip The Times of Israel, Partai Likud yang menaungi Netanyahu berada di posisi pertama dengan perolehan 28 kursi, disusul Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot di posisi kedua dengan 21 kursi.
Di peringkat ketiga ada Joint List dengan 12 kursi; kemudian koalisi oposisi B'Yachad, yang dipimpin mantan PM Naftali Bennett dan Yair Lapid, dengan 11 kursi; selanjutnya ada Yisrael Beytenu, yang dipimpin mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman, dengan delapan kursi.
Kemudian disusul Partai United Torah Judaism dengan delapan kursi, Partai Shas dengan tujuh kursi; lalu Partai Demokrat, yang dipimpin mantan jenderal Yair Golan, dengan tujuh kursi; Otzma Yehudit, yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dengan tujuh kursi; Partai Religius Zionism, yang dipimpin Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, dengan tujuh kursi; dan Partai Ra'am dengan empat kursi.
Untuk bisa mendapatkan kursi, setiap partai harus memperoleh setidaknya 3,25 persen dari total suara sah agar dapat masuk ke parlemen. Partai-partai lainnya yang saat ini berada di bawah ambang batas tersebut adalah Reservists (2,7 persen), Partai Rakyat Israel (1,8 persen), dan Charedi Public (0,3 persen).
Hasil ini bersifat sementara dan akan terus berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara. Suara yang diberikan melalui amplop ganda, termasuk suara dari para tentara Israel, akan dihitung kemudian.
Diperkirakan hasil akhir resmi untuk pemilu Israel akan diumumkan paling lambat 4 November mendatang.
Pemungutan suara yang digelar pada Selasa (27/10) waktu setempat digelar dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, yang mencetak rekor tertinggi sejak tahun 1999 silam. Angka itu tercatat naik 7,1 persen dibandingkan pemilu tahun 2022 lalu.
Sepanjang sejarah politik Israel, belum pernah ada satu partai pun yang berhasil meraih mayoritas mutlak di Knesset. Negosiasi koalisi menjadi faktor penentu dalam menentukan siapa yang akan menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) selanjutnya.
(nvc/dhn)