Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

HUT ke-62 Golkar, Idrus Marham Minta Kader Beringin Tak Berdiam Diri Atas Prestasi Sejarah

Idrus Marham optimis Partai Golkar dapat bertransformasi menjadi partai masa depan di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia dan Muhammad Sarmuji.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
HUT ke-62 Golkar, Idrus Marham Minta Kader Beringin Tak Berdiam Diri Atas Prestasi Sejarah
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com - Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, optimistis Partai Golkar dapat bertransformasi menjadi partai masa depan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Bahlil Lahadalia bersama Sekretaris Jenderal Muhammad Sarmuji. Optimisme tersebut disampaikan Idrus dalam refleksinya menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar pada Selasa (20/10).

Ia menilai, Golkar perlu melangkah lebih jauh dengan tidak sekadar mengandalkan rekam jejak sejarah, tetapi juga menghadirkan gagasan dan karya nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam tulisan berjudul Golkar Harus Menjadi Partai Masa Depan, Idrus mengakui bahwa partai berlambang pohon beringin itu memiliki perjalanan panjang dan kontribusi dalam pembangunan nasional. Meski demikian, kebanggaan atas pencapaian masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi.

“Golkar sudah lama menjadi partai masa lalu. Kita pernah dibuat bangga karena peran-peran besarnya dalam arus pembangunan bangsa. Tapi sampai kapan kita akan berdiam dalam sejarah?” kata Idrus kepada wartawan, Selasa (20/10).

Idrus menilai, kepemimpinan Bahlil Lahadalia dan Muhammad Sarmuji menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pembaruan di tubuh Golkar. Ia berharap keduanya mampu membawa partai tersebut tampil dengan gagasan yang relevan sekaligus memberikan jawaban atas tantangan bangsa ke depan.

"Duet Kepimpinan Bahlil dan Sarmuji mampu merubah wajah Golkar menjadi partai masa depan" tegas Idrus.

Menurut Idrus, keberhasilan partai politik dalam sistem demokrasi tidak semestinya hanya diukur dari perolehan suara dalam pemilihan umum maupun jumlah kursi di parlemen. Lebih dari itu, partai harus memiliki kapasitas intelektual dan gagasan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan serta arah pembangunan nasional.

“Partai yang hanya dihitung suaranya tetapi tidak diperhitungkan pemikirannya, hanya akan dibutuhkan untuk meraih kekuasaan, namun tak pernah dilibatkan dalam menentukan arah dan masa depan bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan demokrasi menuntut partai politik untuk memperkuat kualitas pemikiran, menyampaikan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta menawarkan solusi atas berbagai persoalan publik. Dengan cara itu, peran partai tidak berhenti setelah pemilu selesai, tetapi terus berlanjut dalam proses penyusunan kebijakan.

Idrus juga mengingatkan bahwa besarnya kekuatan politik di parlemen tidak serta-merta menjamin suatu partai memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah pembangunan. Tanpa sumbangan pemikiran yang kuat dan relevan, partai berisiko kehilangan peran strategisnya dalam menjawab persoalan masyarakat.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.