Florida -
Otoritas Amerika Serikat (AS) sedang menyelidiki penyebab jatuhnya jet pribadi Learjet 60 di Palm Beach County, Florida, yang menewaskan sedikitnya sembilan orang. Kondisi cuaca buruk saat kecelakaan maut itu terjadi, menjadi fokus penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas AS.
Rekaman video yang beredar menunjukkan momen ketika pesawat menukik tajam dalam kecepatan tinggi dan menghantam daratan, hingga meledak memicu bola api besar di tepi jalanan setempat. Dampak dari hantaman jet pribadi itu memicu lubang menyerupai kawah besar di aspal.
Tom Chapman dari Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), seperti dilansir AFP, Selasa (3/11/2026), memaparkan kembali perjalanan nahas pesawat Learjet 60 tersebut, yang lepas landas dari Austin, Texas, pada Minggu (1/11), sekitar pukul 15.37 GMT, dengan tujuan North Eleuthera di Bahama.
Pesawat itu jatuh di kawasan permukiman di Palm Beach County, Florida bagian selatan, yang menewaskan semua orang di dalamnya.
Para penyelidik transportasi AS mengatakan bahwa kondisi cuaca menjadi fokus "utama" dalam penyelidikan.
Sebelumnya, laporan CNN menyebutkan bahwa saat kecelakaan terjadi, terdapat badai yang tersebar di wilayah tersebut dan jet pribadi itu sempat melewati sel badai yang lebih kuat beberapa menit sebelum mengalami penurunan ketinggian.
Media AS mengidentifikasi kopilot pesawat sebagai Nathalia Gadelha Filgeiras, yang baru berusia 20 tahun, namun telah memperoleh lisensi pilot pada usia 17 tahun, bahkan sebelum dia memiliki surat izin mengemudi kendaraan darat.
Filgeiras yang telah mengumpulkan 1.300 jam terbang, mulai bekerja untuk perusahaan charter pesawat yang berbasis di Fort Lauderdale, Florida, sekitar sembilan bulan lalu. Identitas pilot pesawat yang mendampingi Filgeiras dalam penerbangan itu belum diungkap ke publik.
Para penyelidik belum dapat memastikan siapa yang mengendalikan pesawat saat insiden itu terjadi.
Dalam rekaman audio yang diunggah ke situs lalu lintas udara liveatc.net, terdengar seseorang di dalam kokpit melaporkan adanya "turbulensi tingkat sedang" dan menyatakan bahwa para awak berupaya "menangani es".
Suara dari kokpit itu mengatakan bahwa pesawat terkena "curahan presipitasi" dan perlu "menaikkan ketinggian", namun sesaat kemudian mengatakan: "Mayday, mayday, kami mengalami penurunan ketinggian 10.000 kaki per menit."
Chapman, dalam konferensi pers, mengonfirmasi bahwa pernyataan-pernyataan dalam rekaman audio itu memang disampaikan kepada operator lalu lintas udara (ATC) setempat.
Catatan pemeliharaan pesawat menunjukkan bahwa sebelumnya terdapat alat perekam di dalam kokpit (cockpit recorder), namun NTSB belum mengetahui apakah alat tersebut berada di dalam pesawat saat kecelakaan terjadi, atau apakah pihaknya akan dapat menemukannya.
Salah satu penyelidik NTSB, Tim Monville, mengatakan bahwa terdapat seorang pengemudi kendaraan di dekat lokasi kecelakaan yang mengalami cedera.
Para pejabat NTSB menyebutkan bahwa pesawat itu dioperasikan oleh Aurora Aviation, yang beroperasi dengan nama Upper Jets. Pihak perusahaan belum merilis pernyataan atas kecelakaan nahas tersebut.
Menurut situs charter jet pribadi Jettly, pesawat jenis Bombardier Learjet 60 itu mulai beroperasi tahun 2004 dan menjalani renovasi tahun 2018. Berdasarkan situs Otoritas Penerbangan Federal AS (FAA), pemilik pesawat itu tercatat sebagai perusahaan yang berbasis di Delaware bernama LR60271 LLC.
(nvc/dhn)