JawaPos.com - Apa yang akan dilakukan Raden Ajeng Kartini jika ia hidup di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang? Pertanyaan itu menjadi menarik ketika perjuangan emansipasi perempuan yang diwariskannya dihubungkan dengan peluang dan tantangan generasi masa kini.
Joddy Mulyasetya Putra selaku Ketua Yayasan Kartini Heritage Center yang juga merupakan keturunan (canggah) R.A. Kartini, meyakini bahwa Kartini akan memanfaatkan teknologi modern untuk memperluas pengaruh dengan menyebarkan gagasannya seluas mungkin.
Menurut Joddy, media sosial dan AI berpotensi menjadi sarana bagi Kartini untuk memperluas perjuangannya, terutama dalam memperluas akses pendidikan dan mendorong kesetaraan perempuan.
“Kalau Kartini hidup di era sekarang, pasti dia memanfaatkan media sosial dan memanfaatkan AI untuk memperbesar pengaruhnya,” ujar Joddy dalam sebuah diskusi bertajuk The Legacy Relay 2026 di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Rabu (21/10).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa semangat Kartini tidak harus berhenti sebagai bagian dari sejarah. Nilai-nilai yang diperjuangkannya justru dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk gerakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Memperluas Perjuangan Perempuan Lewat Media Sosial
Di era digital, media sosial memungkinkan gagasan menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat. Hal yang dulu membutuhkan surat, penerbitan tulisan, dan jaringan komunikasi terbatas, kini gagasan dapat disampaikan melalui berbagai platform digital yang bisa menjangkau ribuan bahkan puluhan ribu pengguna media sosial hanya dalam hitungan detik.
Jika Kartini hidup pada masa sekarang, media sosial bisa menjadi ruang untuk menyuarakan pentingnya pendidikan, kesetaraan kesempatan, serta pemberdayaan perempuan.
Gagasan tentang akses pendidikan bagi perempuan, misalnya, dapat disebarluaskan melalui video edukasi, diskusi daring, hingga kampanye sosial yang melibatkan komunitas dari berbagai daerah.
Namun, memperluas pengaruh bukan sekadar mengejar jumlah pengikut atau membuat sebuah isu menjadi viral. Semangat perjuangan Kartini dapat menjadi pengingat bahwa komunikasi digital perlu diarahkan pada perubahan yang nyata dan bermanfaat. Mulai dari membuka akses pengetahuan hingga mendorong masyarakat lebih peduli terhadap persoalan sekitar.