Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Job Fair: Agar Berjubel Cari Kerja Tak Pulang dengan Tangan Hampa

Ribuan orang berburu kerja di job fair, tetapi peluang mendapat pekerjaan tak selalu mudah.

Liputan 6 8 menit baca 0 komentar
Job Fair: Agar Berjubel Cari Kerja Tak Pulang dengan Tangan Hampa
Foto: Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Hampir tiap bulan selalu ada gelaran job fair di Jakarta, baik yang digelar pemda maupun pihak swasta. Ratusan lowongan pekerjaan ditawarkan, tapi yang datang ribuan orang. Kenyataan pahit di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan ekstrem yang mengikis optimisme para pencari kerja. Ribuan orang datang dengan pakaian terbaik mereka harus menghadapi hukum rimba di bursa kerja: satu posisi kosong diperebutkan ratusan orang.

Bagi sebagian besar pencari kerja, job fair tidak lebih dari sekadar arena pengumpulan berkas massal yang menguras energi dan biaya. Alih-alih membawa pulang kepastian kerja atau jadwal wawancara lanjutan, mereka justru pulang dengan tangan hampa. Gempita bursa kerja ini tak ayal hanya memperpanjang rantai penantian, memaksa mereka, -para pencari kerja- kembali terjebak dalam ruang bernama ketidakpastian.

Ketidakseimbangan antara jumlah lowongan kerja dan para pencari kerja di job fair bukan hisapan jempol belaka. Profil Ketenagakerjaan Umum Indonesia per Februari 2026 yang dirilis Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) merinci, Penduduk Usia Kerja mencapai 219,54 juta orang.

 

Angkatan Kerja sebanyak 154,91 juta orang atau 70,56% dari total penduduk usia kerja aktif di pasar tenaga kerja. Dengan rincian yang Bekerja sebanyak 147,67 juta orang atau 95,32% dari angkatan kerja. Sedangkan Pengangguran Terbuka (TPT) sebanyak 7,24 juta orang atau 4,68% dari angkatan kerja.

Sementara Bukan Angkatan Kerja ada sebanyak 64,63 juta orang atau 29,44% seperti pelajar, mahasiswa, atau ibu rumah tangga.

Dari Kategori Penduduk yang Bekerja, tercatat total 147,67 juta orang yang bekerja, kondisinya dibagi menjadi: Bekerja Penuh + Sementara Tidak Bekerja (>34 jam/minggu) sebanyak 98,59 juta orang (66,77%). Dan Bekerja Tidak Penuh (<35 jam/minggu) ada sebanyak 49,08 juta orang (33,23%).

Dari Angkatan Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), memperlihatkan proporsi jumlah angkatan kerja sekaligus persentase pengangguran pada tiap tingkat pendidikan:

  • ≤ SD: 53,65 juta orang (34,64%) | TPT: 2,32%
  • SMP: 27,18 juta orang (17,54%) | TPT: 4,19%
  • SMA: 32,56 juta orang (21,02%) | TPT: 6,23%
  • SMK: 20,92 juta orang (13,50%) | TPT: 7,74% (Tertinggi)
  • Diploma I/II/III: 3,74 juta orang (2,41%) | TPT: 4,80%
  • Sarjana (DIV/S1/S2/S3): 16,86 juta orang (10,89%) | TPT: 6,13%

Lulusan SMK menjadi tingkat pendidikan yang memiliki jumlah pengangguran tertinggi (7,74%), diikuti lulusan SMA (6,23%), dan S1 (6,13%).

Kemnaker juga mencatat, ada tiga sektor lapangan usaha terbesar yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia, antara lain sektor A (Pertanian, Kehutanan, Perikanan): 42,49 juta orang (28,78%). Sektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak. Kemudian disusul Sektor G (Perdagangan Besar dan Eceran), yakni 26,51 juta orang (17,95%). Lalu ada Sektor C (Industri Pengolahan), angkanya 20,03 juta orang (13,57%).

Data Profil Ketenagakerjaan yang dirilis Kemnaker itu sedikit banyak menggambarkan mengapa job fair selalu dibanjiri para pencari kerja. Data tersebut mengungkap, pencari kerja saat ini didominasi lulusan SMK dan SMA. Tak heran jika di setiap job fair, antrean biasanya didominasi anak-anak muda atau fresh graduate. Hal ini linier dengan data grafik bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi berasal dari lulusan SMK (7,74%) dan SMA (6,23%). Besarnya angka pengangguran di sektor pendidikan ini membuat bursa kerja selalu diserbu lulusan tingkat menengah.

Yang menarik dari data tersebut adalah angka pengangguran dari lulusan SMK ternyata tinggi, padahal SMK merupakan sekolah vokasi yang lulusannya merupak orang-orang yang memang sudah siap kerja. Fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara keahlian yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri di pasar kerja. Imbasnya lulusan SMK harus bersaing di ceruk kecil untuk memperebutkan posisi formal yang terbatas.

Persaingan ketat mencari pekerjaan juga terjadi di tingkat lulusan Sarjana (DIV/S1/S2/S3). Data menyebut, pengangguran di tingkat Sarjana cukup tinggi, yakni berada di angka 6,13%. Angka ini setara dengan ratusan ribu hingga jutaan sarjana yang belum terserap lapangan kerja. Kehadiran para lulusan Sarjana di job fair selain makin memperketat persaingan, juga memicu adanya fenomena underemployment, yakni saat lulusan Sarjana terpaksa melamar di posisi yang sebenarnya ditujukan untuk lulusan sekolah menengah (SMA/SMK), demi satu cita-cita: yang penting bisa kerja.

Data tersebut juga memotret, sektor utama penyerapan tenaga kerja justru datang dari sektor Pertanian (28,78%), disusul sektor Perdagangan (17,95%). Padahal, mayoritas perusahaan yang membuka stan lowongan formal di job fair perkotaan berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan, dan teknologi. Terbatasnya pertumbuhan lapangan kerja formal dibanding ledakan jumlah angkatan kerja yang mencapai 154,91 juta orang, memicu penumpukan pencari kerja di satu waktu dan tempat secara bersamaan.

 

Bukan Sekadar Bursa Kerja, Seberapa Efektif Job Fair?

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta Syaripudin, dalam wawancara khusus dengan tim Journal Kaum Tengah Liputan6.com mengungkapkan, angka pengangguran yang tinggi bukan semata karena kelangkaan lowongan pekerjaan. Dirinya menilai, kesenjangan keterampilan (skills gap), juga menjadi faktor yang memengaruhi tingginya angka pengangguran, khususnya di kota-kota besar.

Sebagai solusinya, kata Syaripudin, job fair yang digelar Disnakertransgi DKI Jakarta misalnya, selalu dikolaborasikan dengan layanan-layanan untuk pengembangan kualitas SDM yang dilakukan secara simultan.

“Makanya dalam penyelenggaraan Job Fair tingkat Provinsi, kami juga bikin kegiatan pendukung, seperti pameran pelatihan kerja dari pusat pelatihan kerja, pameran kewirausahaan dari UMKM binaan Disnaker, career talk dan seminar ketenagakerjaan yang menghadirkan narasumber, termasuk influencer yang relevan, untuk membahas persiapan memasuki dunia kerja, pengembangan karier, dan pengembangan UMKM,” katanya.

Bukan cuma itu, beragam program upskilling juga ditawarkan untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini, seperti basic Microsoft Excel, public speaking, dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI. Pencari kerja juga dapat mengikuti pelatihan praktik secara langsung melalui Mobil Training Unit (MTU), seperti pelatihan barista misalnya.

“Disnaker turut memfasilitasi konseling karier melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk membantu pencari kerja mengenali potensi diri dan mempersiapkan langkah karier yang sesuai. Bahkan kegiatan ini juga dilengkapi dengan layanan cek kesehatan gratis dari Puskesmas,” ungkap Syaripudin.

Bahkan, kata Syaripudin, kegiatan-kegiatan pendukung yang kerap digelar dalam job fair itu juga dilengkapi dengan kesempatan rekrutmen secara langsung oleh Perusahaan peserta. Dengan begitu, job fair di Jakarta bukan cuma jadi ajang transaksi bertemunya lowongan kerja dan pencari kerja, tapi lebih dari itu menjadi wadah yang menghubungkan peningkatan keterampilan, persiapan karier, kewirausahaan, dan proses rekrutmen dalam satu rangkaian kegiatan.

Syaripudin juga membantah jika CV dan Surat Lamaran Pekerjaan para pencari kerja di job fair yang digelar Disnakertransgi DKI Jakarta hanya berakhir di ‘tong sampah’. Dirinya blak-blakan, menurut data internal pihaknya, rencana pelaksanaan job fair tahun 2026 oleh Disnakertransgi ada sebanyak 13 kali, meliputi antara lain 11 job fair wilayah Kabupaten/Kota, 1 job fair provinsi, dan 1 job fair penyandang disabilitas.

Hingga akhir Oktober ini, telah diselenggarakan 11 job fair wilayah Kabupaten/Kota, dari rangkaian 11 job fair wilayah yang dilaksanakan, progres job fair yang dilaksanakan sebagai berikut, total partisipan perusahaan sebanyak 358 perusahaan.

“Progresnya dari 11 job fair itu, penempatan job fair 750 orang, dalam proses seleksi 6.342 lamaran, dalam proses tes 3.015 lamaran, dan dalam proses wawancara 1.102 lamaran. Tentunya, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena proses seleksi masih berlangsung hingga 2–3 bulan ke depan,” ungkap Syaripudin.

Dirinya juga menyebut, pelaksanan job fair yang digelar Disnakertransgi DKI Jakarta tidak main-main, karena perusahaan yang diikutsertakan tidak dipilih sembarangan.

“Ada proses seleksi terlebih dahulu, di mana perusahaan harus memenuhi sejumlah kriteria, termasuk ketersediaan lowongan kerja yang riil, kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan, dan kesiapan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan rekrutmen,” katanya, kepada tim Journal Kaum Tengah Liputan6.com.

Sebelum pelaksanaan, terdapat tahap technical meeting antara penyelenggara dan perusahaan peserta yang membahas secara rinci terkait teknis pelaksanaan kegiatan, posisi yang dibuka, mekanisme rekrutmen, hingga kesiapan untuk menerima lamaran dan melakukan wawancara langsung di lokasi. Disnakertransgi DKI Jakarta secara berkala juga mengaku melakukan follow up terhadap penyerapan pencari kerja dari job fair, sebagai bentuk pelaporan kinerja ‘Keterserapan tenaga kerja dari Job Fair’.

Lalu bagaimana dengan perusahaan yang tidak transparan terkait penerimaan pegawai? Usai job fair selalu ada yang namanya evaluasi dan pemantauan terhadap perusahaan peserta job fair melalui sistem Karir Jakarta. Sistem ini dilengkapi fitur ‘Perusahaan Dalam Pengawasan’ yang dapat menampilkan perusahaan yang belum melaporkan atau belum memproses lamaran pencari kerja dalam jangka waktu 30 hari. Informasi tersebut memudahkan petugas untuk mengidentifikasi perusahaan yang belum menindaklanjuti lamaran dan melakukan koordinasi serta tindak lanjut kepada perusahaan terkait.

Selain itu, perusahaan yang tidak melaporkan atau tidak memproses lamaran pencari kerja akan menjadi bahan evaluasi dalam penentuan keikutsertaan pada kegiatan berikutnya. Perusahaan tersebut menjadi tidak diprioritaskan untuk mengikuti Job Fair maupun kegiatan ketenagakerjaan lainnya yang diselenggarakan oleh Disnaker.

“Tapi faktor paling besar mempengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah dari pencari kerja itu sendiri,” ungkap Syaripudin.

 

 

 

 

 

Pencari Kerja Perlu Persiapan

Lalu pencari kerja sebenarnya harus bagaimana agar job fair tidak jadi kegiatan sia-sia belaka? Seperti dikutip dari laman Thejobfairs, setidaknya ada beberapa hal yang perlu di perhatian saat seseorang ingin mengikuti job fair, yakni persiapan, saat pelaksanaan, dan setelah mengikuti job fair.

Langkah utama yang bisa dilakukan sebelum mengikuti jobfair adalah dengan riset perusahaan yang berpartisipasi. Di tengah era keterbukaan informasi, semua orang bisa mendapatkan sebanyak mungkin informasi terkait erusahaan-perusahaan di job fair. Dan jangan lupa cari berita terbaru terkait Perusahaan tersebut, misalnya dengan kepoin akun media sosialnya.

Persiapan CV yang menjadi langkah persiapan selanjutnya. Pastikan CV memiliki ringkasan karier, pengalaman kerja, pendidikan, serta keahlian. Siapkan juga portofolio dan contoh kerja yang pernah dilakukan.

Berlatih wawancara juga menjadi penting dilakukan sebelum mengikuti job fair. Beberapa perusahaan biasanya mengadakan walk-in interview saat job fair, sehingga berlatih wawancara juga menjadi persiapan penting. Satu hal lagi yang cukup penting dalam tahap persiapan, yakni penampilan. Penampilan bukan cuma pakaian yang dikenakan tapi juga gaya bicara dan gestur.

Setelah persiapan matang, langkah-langkah yang perlu dilakukan saat mengikuti job fair adalah, lebih awal datang lebih baik. Jangan lupa membawa dokumen penting, seperti CV terbaru, surat lamaran, fotokopi ijazah, fotokopi KTP, dan portofolio. Siapkan 10-20 copy untuk masing-masing dokumen. Gunakan folder atau map untuk menyimpan semua dokumen tersebut. Bawa juga dokumen dalam bentuk soft file.

Agar tak sia-sia ikut job fair, hadiri juga seminar dan workshop maupun pelatihan. Selain mendapat ilmu, para pencari kerja juga bisa membangun jaringan dengan perusahaan-perusahaan yang dilamar dengan ikut di acara tersebut.

Setelah mengikuti job fair, hal yang perlu dilakukan adalah dengan menindaklanjuti lamaran kerja dengan follow up ke perusahaan atau tim rekruter. Lalu terakhir, evaluasi, apa saja yang perlu diperbaiki dan dirasa masih kurang.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.