Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Karhutla Gunung Ciremai Padam, Edelweis Ditemukan Layu dan Mengering

Karhutla Gunung Ciremai mengganggu habitat flora dan fauna setelah relawan menemukan tiga tanaman edelweis mengering dan bayi surili dalam kondisi lemas.

iNews 2 menit baca 0 komentar
Karhutla Gunung Ciremai Padam, Edelweis Ditemukan Layu dan Mengering
Foto: iNews

KUNINGAN, iNews.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ciremai, Jawa Barat, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengganggu habitat flora dan fauna. Dampaknya terlihat saat relawan menemukan tiga tanaman edelweis dalam kondisi layu dan mengering di kawasan Benteng Ciremai.

Relawan menemukan tanaman edelweis yang layu dan mengering di sela bebatuan kawasan Gunung Ciremai setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: iNews).Relawan menemukan tanaman edelweis yang layu dan mengering di sela bebatuan kawasan Gunung Ciremai setelah karhutla. (Foto: iNews).

Tanaman tersebut ditemukan saat relawan menyisir sisa bara api pada Senin malam. Ketiganya berada di sela-sela bebatuan yang dikelilingi abu dan material bekas terbakar.

"Pohon edelweis keagungan yang maha kuasa, tumbuh di atas batu tanpa tanah sekarang kekeringan kurang air," kata Ujang, salah satu relawan.

Penemuan ini menunjukkan bahwa api sempat menjalar hingga kawasan tempat edelweis tumbuh di ketinggian Gunung Ciremai. Tanaman yang menjadi salah satu kekhasan ekosistem pegunungan itu turut terdampak kebakaran.

Meski kebakaran dilaporkan telah padam, relawan masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada sisa bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Sebelumnya, relawan juga menemukan seekor bayi surili yang terpisah dari kelompoknya. Satwa yang mulai langka dan memiliki bulu berwarna putih tersebut ditemukan dalam kondisi lemas dan kehausan.

Temuan edelweis yang mengering dan bayi surili yang terpisah dari kawanannya menjadi gambaran dampak karhutla terhadap kehidupan satwa dan tumbuhan di kawasan Gunung Ciremai.

Editor: Kurnia Illahi

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.