Surabaya, CNN Indonesia --
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur menghanguskan 7.363,30 hektare lahan sepanjang Agustus hingga September 2026. Dari luasan itu, hampir seluruhnya berada di kawasan konservasi.
Hal itu diungkap Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak. Ia menyebut berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, karhutla itu terjadi di tiga wilayah pengelolaan kawasan yang berbeda.
"Jadi 3/4 api, ini, 79 persen ada di kawasan konservasi. 14 persen di Perum Perhutani, 7 persen ini di Tahura Raden Soerjo," kata Emil di Surabaya, Selasa (20/10).
Emil kemudian menunjukkan data, kawasan konservasi tercatat mengalami kebakaran terbesar, yakni 5.814,90 hektare. Angka itu mencakup empat taman nasional dan wilayah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim. Taman Nasional Baluran paling terdampak seluas 2.970,05 hektare.
Sedangkan, hutan produksi dan hutan lindung di bawah kewenangan Perum Perhutani Divre Jatim yang terdampak seluas 1.031,95 hektare atau 14 persen dari total karhutla di Jatim.
Emil menyebut kewenangan penanganan hukum di dua kawasan ini berada di tangan pemerintah pusat melalui kementerian terkait; data yang ia tunjukkan mencatat penyidikan ada di UPT Kementerian Kehutanan, wilayah kerja Balai Gakkum Jabalnusra.
"Nah di dua wilayah ini kita berkoordinasi dengan instansi yang berwenang di masing-masing lokasi yaitu Taman Nasional di Kementerian Kehutanan dan juga Perhutani," ucapnya.
Sementara itu, kebakaran juga melanda Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, di sana tercatat 516,45 hektare lahan terbakar atau 7 persen dari total karhutla di Jatim dalam dua bulan terakhir. Kawasan ini, kata Emil menjadi satu-satunya kawasan yang kewenangannya penuh di tangan Pemprov Jatim.
"Yang langsung menjadi kewenangan dari Pemprov ini adalah Tahura Raden Soerjo. Kebakaran terjadi di ketinggian yang luar biasa itu," tutur Emil.
Emil kemudian mengatakan lokasi karhutla di Jatim secara umum terbagi dua jenis, dan strategi penanganannya pun berbeda untuk masing-masing peristiwa.
"Dan ada dua, ada lokasi kebakaran yang bisa dijangkau, ada yang tidak bisa dijangkau. Nah, yang tidak bisa dijangkau itu artinya memang fokus kita adalah antisipasi, membuat sekat bakar. Jangan sampai dia melebar ke permukiman," katanya.
Di lokasi yang tidak terjangkau, Emil mengatakan, petugas tidak memadamkan api secara langsung. Mereka menahannya di titik terjauh yang bisa dicapai lewat jalur darat, lalu personel gabungan bekerja memadamkan atau menyekat api dari sana.
"Kebakaran terjadi di ketinggian yang luar biasa itu, dan memang tidak bisa dijangkau oleh petugas. Maka pertanyaannya dari mana apinya kan? Kalau petugas enggak bisa jangkau, siapa manusia menjangkau, dibakar atau bagaimana? Nah, sekarang fokus kita adalah bagaimana kemudian membuat perimeter agar dia tidak melebar," ucap Emil.
Emil mengatakan, Pemprov Jatim melalui Dinas Kehutanan selama ini telah memiliki 53 personil Manggala Agni dan Polisi Hutan. Mereka bertugas menangani kebakaran di Tahura Raden Soerjo lewat patroli rutin dan penyekatan.
"Nah kami tentu harus menjaga yang menjadi kewenangan Pemprov ini kita harus memaksimalkan, gitu. Ya, ada sekitar 53 Manggala Agni yang dimiliki oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, itu yang kemudian dan ada Polhut-nya juga, gitu. Nah ini yang kemudian semuanya harus diintensifkan, tapi ingat satu kata kuncinya adalah tidak boleh ada petugas yang kemudian menjadi korban," pungkasnya.
(frd/dal)