Jakarta -
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bergerak cepat menangani kejadian longsoran material batu berukuran besar yang terjadi di ruas jalan Takengon-Isaq, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, pada Minggu (1/11) sekitar pukul 06.50 WIB.
Kejadian tersebut mengakibatkan badan jalan pada ruas Takengon-Ise Ise tertutup material longsoran sehingga mengganggu akses lalu lintas dari arah Takengon menuju Isaq maupun sebaliknya.
Longsoran dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut sejak Jumat (30/10), sehingga mengakibatkan terjadinya pergerakan tanah dan material batuan di sekitar badan jalan. Akibat kejadian tersebut, akses lalu lintas kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan berat dari arah Takengon menuju Isaq maupun sebaliknya sempat terputus sehingga tidak dapat dilalui.
Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan bahwa menjaga konektivitas menjadi prioritas utama pemerintah dalam situasi darurat bencana, mengingat peran strategis jalan dan jembatan dalam mendukung aktivitas masyarakat serta distribusi logistik.
"Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti," kata Dody dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Zulkarnaini mengatakan sebagai langkah penanganan darurat, tim dari BPJN Aceh langsung melakukan pembersihan material longsoran dengan mengerahkan 1 unit alat berat jenis backhoe loader yang telah berada di lokasi. Selain itu, 1 unit excavator juga sedang dalam proses mobilisasi untuk mempercepat proses penanganan.
Untuk menjamin keselamatan pengguna jalan selama proses penanganan berlangsung, petugas telah memasang rambu-rambu peringatan serta menempatkan petugas pengatur lalu lintas (flagman) pada kedua sisi jalan, baik dari arah Takengon maupun Isaq.
Kementerian PU juga terus berkoordinasi dengan pihak Kepolisian, khususnya Polsek Kecamatan Linge, serta melakukan pemantauan terhadap kondisi ruas jalan dan infrastruktur jalan maupun jembatan di sekitar lokasi terdampak.
Zulkarnaini menambahkan, berdasarkan pemantauan pada Senin (2/11/2026) lalu lintas telah kembali dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat/enam. Meskipun akses jalan telah kembali terbuka, BPJN Aceh tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi ruas jalan dan lingkungan sekitar lokasi terdampak. Hal ini mengingat potensi longsor susulan masih dapat terjadi, terutama apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
"Kementerian PU berkomitmen untuk terus melakukan penanganan dan pemantauan kondisi lapangan guna memastikan keselamatan pengguna jalan serta menjaga konektivitas antarwilayah, khususnya akses dari Takengon menuju Blangkejeren," ujar Zulkarnaini.
Masyarakat dan pengguna jalan diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintasi kawasan terdampak, mematuhi arahan petugas di lapangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
Penanganan Darurat Kerusakan Tanggul Akibat Banjir di Pidie Jaya
Hujan dengan intensitas tinggi juga mengguyur wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Sabtu (31/10) sejak pukul 19.00 hingga 22.30 WIB sehingga mengakibatkan banjir genangan di sejumlah kawasan permukiman, khususnya di Desa Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua.
Berdasarkan laporan kejadian, tingginya intensitas hujan menyebabkan debit air di beberapa sungai meningkat sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga. Ketinggian genangan dilaporkan bervariasi antara 20 hingga 100 sentimeter. Selain mengakibatkan genangan di kawasan permukiman, kejadian tersebut juga menyebabkan kerusakan pada tebing sungai di Desa Dayah Usen, Kabupaten Pidie Jaya.
Sebagai langkah penanganan darurat, Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I melakukan upaya perbaikan dan pengamanan sementara pada tanggul sungai dengan menggunakan timbunan tanah untuk membentuk tanggul baru. Penanganan ini bertujuan untuk mengurangi risiko limpasan air sungai serta melindungi kawasan di sekitar lokasi terdampak.
Dalam mendukung pelaksanaan pekerjaan tersebut, kebutuhan alat berat yang tercatat meliputi 1 unit Excavator Long Arm dan 1 unit Excavator Standard. Kementerian PU berkomitmen untuk mendukung percepatan penanganan infrastruktur terdampak bencana melalui koordinasi dan langkah penanganan sesuai kebutuhan di lapangan
(prf/ega)