Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Komentari Demo Rusuh, Netanyahu Sebut Prancis Dilanda Invasi Ekstremis Islam

Netanyahu menyebut Prancis telah dilanda "invasi ekstremis Islam" menyusul unjuk rasa besar-besaran yang berujung kerusuhan beberapa hari terakhir.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Komentari Demo Rusuh, Netanyahu Sebut Prancis Dilanda Invasi Ekstremis Islam
Foto: Detik

Tel Aviv -

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut Prancis telah dilanda "invasi ekstremis Islam" menyusul unjuk rasa besar-besaran yang berujung kerusuhan beberapa hari terakhir.

Pernyataan provokatif Netanyahu itu disampaikan untuk mengkritik Prancis, yang pada akhir pekan kemarin dilanda unjuk rasa besar-besaran secara nasional di berbagai kota, yang dipicu oleh lonjakan harga dan kenaikan biaya hidup.

Unjuk rasa itu berujung kerusuhan yang diwarnai aksi pembakaran dan penjarahan massal, dan tercatat sebagai salah satu aksi kekerasan jalanan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Nyaris 2.400 orang ditangkap, dengan sekitar 1.000 personel kepolisian luka-luka dalam kerusuhan itu.

Komentar Netanyahu itu senada dengan narasi yang kerap dilontarkan oleh para politisi dan komentator sayap kanan di dunia Barat. Kalangan tersebut sering melontarkan klaim-klaim tidak berdasar bahwa sejumlah wilayah di Eropa, seperti Inggris, telah berada di bawah hukum Islam akibat imigrasi. Pandangan semacam itu memicu tuduhan Islamofobia.

Dalam wawancara, menggunakan penerjemah, dengan televisi berita berbahasa Prancis, i24News, seperti dilansir AFP, Rabu (21/10/2026), Netanyahu menyebut para pemimpin Prancis gagal dalam mengantisipasi kerusuhan.

Netanyahu mengklaim bahwa kerusuhan dipicu oleh kelompok ekstremis Muslim, meskipun faktanya masyarakat Prancis yang turun ke jalanan di berbagai kota besar, termasuk ibu kota Paris, dalam aksi protes pada akhir pekan berasal dari berbagai latar belakang yang beragam.

"Mereka (pemimpin Prancis-red) tidak bersiap tepat waktu, mereka justru menyerah begitu saja. Mereka tunduk pada invasi ekstremis Islam," kata Netanyahu dalam wawancara tersebut, dengan komentarnya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.

Saat ditanya lebih lanjut soal saran apa yang akan dia berikan kepada Prancis, Netanyahu menjawab: "Lawan balik, jangan menerapkan kebijakan kompromi -- lawanlah para ekstremis tersebut."

Dia menambahkan bahwa dirinya sempat memberikan wanti-wanti secara khusus kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron, usai serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

"Jika kita tidak melenyapkan mereka di sini, mereka akan muncul di Prancis -- dan itulah yang kini benar-benar terjadi," ucap Netanyahu, tanpa menyertakan bukti apa pun untuk mendukung klaimnya tersebut.

Prancis merupakan salah satu dari sejumlah negara Eropa yang telah mengakui negara Palestina tahun lalu, sebuah langkah yang memicu kemarahan Israel.

Komentar provokatif semacam itu pernah dilontarkan Netanyahu pada Agustus lalu, ketika mengkritik sikap Inggris yang kini keras terhadap Israel. Pada saat itu, Netanyahu mengejek Inggris sebagai "Republik Islam", yang langsung memicu kecaman otoritas London yang menyebut komentar itu "sama sekali tidak dapat diterima".

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga melontarkan pernyataan kontroversial saat mengomentari demo rusuh di Prancis. Dia menyalahkan imigrasi sebagai pemicu demo rusuh itu, dan memperingatkan bahwa Paris, ibu kota Prancis, akan menjadi "kota Muslim", jika Presiden Emmanuel Macron tidak menutup perbatasan.

"Sudah sejak lama saya katakan kepadanya (Macron-red), Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan siapa pun dari seluruh dunia masuk. Seluruh dunia berdatangan masuk," ucapnya.

"Dan, seperti yang Anda tahu, Paris akan segera menjadi kota Muslim," sebut Trump.

"Saya mengatakan kepada Emmanuel (Macron), Anda harus menutup perbatasan Anda," ujarnya.

(nvc/idh)



Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.