Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Komitmen Kapolri Dukung Visi Presiden, 2 Kasus Besar Narkoba Terungkap

Kapolri Suyudi Ario Seto menegaskan komitmen memberantas narkoba dengan pengungkapan 1,16 ton ketamin dan lab narkotika di Aceh. Sinergi aparat jadi kunci.

Detik 4 menit baca 0 komentar
Komitmen Kapolri Dukung Visi Presiden, 2 Kasus Besar Narkoba Terungkap
Foto: Detik

Jakarta -

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menegaskan komitmen aparat memberantas peredaran narkoba dan penyelundupan barang terlarang ke Indonesia. Hal itu ditunjukkan lewat dua pengungkapan besar yang dilakukan aparat gabungan dalam waktu berdekatan.

Pertama, aparat menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin HCl senilai Rp 3,48 triliun dari kapal MT Global 168 di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.

Tak lama setelah memimpin konferensi pers pengungkapan kasus tersebut, Suyudi bertolak ke Pidie, Aceh. Di sana, dia mengecek langsung clandestine lab atau laboratorium rahasia narkotika terbesar di Indonesia yang baru dibongkar.

Dari dua pengungkapan tersebut, aparat mengamankan narkotika dalam jumlah besar sekaligus membongkar jaringan yang diduga melibatkan sindikat lintas negara.

Suyudi mengatakan pengungkapan itu tak lepas dari kerja sama TNI, Polri, BNN, dan Bea Cukai. Dia meminta seluruh jajaran terus jeli dalam membaca pergerakan barang maupun jaringan narkotika.

"Ini butuh kejelian, kesabaran, keuletan kita semua, BNN, Polri, Bea Cukai, TNI, harus terus bahu-membahu, kita jangan pernah lelah sebagaimana diamanatkan Presiden Republik Indonesia," kata Suyudi saat rilis kasus ketamin di Belawan, Jumat (23/10/2026).

Pesan Prabowo untuk Aparat

Suyudi juga menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran penegak hukum agar tidak berhenti memburu sindikat narkoba.

Dia mengatakan Prabowo berulang kali meminta aparat memperkuat sinergi untuk mencegah barang-barang terlarang masuk ke Indonesia.

"Pada kesempatan-kesempatan beliau sampaikan pidatonya selalu berpesan kepada saya, kepada Pak Dirjen Bea Cukai, dan juga segenap pimpinan, kita harus selalu kuat bersatu-padu untuk bisa mengungkap kejahatan para pelaku yang ingin menyelundupkan barang terlarang ke Indonesia," ujarnya.
Suyudi pun menyebut keberhasilan menggagalkan penyelundupan ketamin sebagai kado untuk dua tahun pemerintahan Prabowo.

"Ini tentu menjadi kado terindah untuk 2 tahun pemerintahan Bapak Prabowo Presiden kita," kata Suyudi.

1,16 Ton Ketamin Digagalkan

Pengungkapan kasus di Belawan bermula dari informasi intelijen mengenai anomali rute kapal MT Global 168. Kapal tersebut diketahui bergerak di perairan Selat Malaka hingga melintasi Laut Andaman.

Anomali pergerakan kapal itu kemudian direspons tim gabungan BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri.

Pada Senin (19/10), aparat bersiap melakukan intersepsi dari Kuala Tanjung. Kapal patroli Bea Cukai BC 20006 dan KP Murai 4018 dikerahkan untuk mengejar kapal tersebut.

MT Global 168 akhirnya berhasil dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Kapal kemudian dikawal menuju Dermaga Pelabuhan Belawan untuk dilakukan pemeriksaan.

Hasil penggeledahan mengungkap muatan mencurigakan berupa 58 karung ketamin HCl dengan berat total 1,16 ton.

Selain ketamin, petugas turut mengamankan kapal MT Global 168 dan 14 ponsel milik para tersangka. Delapan awak kapal juga ditangkap. Mereka terdiri dari tujuh WNI dan satu WNA asal Taiwan.

Kedelapan tersangka memiliki peran masing-masing di atas kapal, mulai dari nakhoda, chief officer, chief engineer, masinis, oiler, hingga able seaman atau juru mudi.

Suyudi Lanjut ke Pidie

Usai memimpin pengungkapan di Belawan, Suyudi kemudian bertolak ke Aceh. Tujuannya adalah mengecek langsung clandestine lab narkotika yang baru dibongkar aparat gabungan di Kabupaten Pidie.

Laboratorium tersebut sebelumnya digerebek tim gabungan Bareskrim Polri, BNN, dan Ditjen Bea Cukai.

Lokasi yang digunakan sebagai laboratorium rahasia itu berada di dua toko yang disulap menjadi tempat produksi narkotika.

Dari lokasi tersebut, petugas menemukan sekitar 1 ton metamfetamin cair dan sabu kristal. Jika ditotal, barang bukti yang diamankan mencapai sekitar 1,2 ton bruto.

Polisi juga mengamankan sejumlah tersangka dalam penggerebekan tersebut.

Berdasarkan penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie diduga terhubung dengan jaringan narkoba internasional yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.

Kasus ini juga telah dipantau aparat selama berbulan-bulan. Jejak jaringan pertama kali terdeteksi sejak Februari 2026, ketika ratusan kilogram metamfetamin cair terpantau bergerak dari Myanmar utara melalui Laos dan Thailand menuju Banda Aceh.

Dari penelusuran itu, polisi kemudian membongkar pergerakan dua WN China yang diduga berperan sebagai ahli kimia jaringan hingga akhirnya menemukan lokasi produksi sabu di Pidie.

'Bukan Sekadar Angka'

Suyudi menegaskan dua pengungkapan besar tersebut menjadi bukti keseriusan aparat dalam menghadapi jaringan narkoba transnasional.

Menurut dia, jumlah barang bukti yang disita tidak semata-mata menjadi ukuran keberhasilan operasi. Lebih dari itu, pengungkapan tersebut disebut sebagai upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba.

"Sejumlah barang bukti yang hari ini kita sita bukanlah sekadar angka pencapaian semata, melainkan jutaan nyawa generasi muda bangsa yang berhasil kita selamatkan," ujar Suyudi.

"Untuk itu mari kita rapatkan barisan, bersama kita wujudkan Indonesia aman, tangguh, dan bersih dari narkoba," sambungnya.

(azh/knv)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.