JawaPos.com - Kekeringan parah dan ketiadaan sumber air bersih membuat relawan kesulitan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatra. Sejumlah warga terpaksa pasrah menunggu api mendekati kebun mereka karena tidak memiliki sarana memadai untuk melakukan pemadaman.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belqis Habiba mengatakan, kondisi karhutla tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak ia terlibat dalam penanganan kebakaran pada 2019.
Selain kebakaran, ia menyebut khususnya masyarakat di Kalimantan Barat hingga wilayah Kalimantan lainnya juga menghadapi kekeringan ekstrem.
”Bahkan satu bulan saya di Kalimantan Barat itu air bersih nggak ada. Air yang ada itu adalah air asin, bahkan PDAM-nya pun asin,” ujar Belqis saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (14/10).
Ia menjelaskan, ketersediaan air menjadi kendala utama karena kebakaran di lahan gambut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Sementara itu, fungsi gambut sebagai penyimpan air terganggu akibat pengeringan lahan melalui pembangunan kanal, termasuk untuk kepentingan perkebunan.
Air yang dialirkan keluar dari kawasan gambut membuat lahan semakin kering dan rentan terbakar. Ketika api muncul, relawan kesulitan mendapatkan sumber air untuk memadamkannya.
”Relawannya ada yang mau memadamkan, tapi sumber airnya nggak ada. Bagaimana mereka bisa memadamkan?” katanya.
Belqis menyebut, pemadaman dengan cara memukul api hanya memungkinkan dilakukan pada titik kebakaran kecil. Ketika api membesar, relawan tidak memiliki banyak pilihan karena keterbatasan air dan sarana pemadaman.
Kondisi tersebut juga membuat upaya water bombing menghadapi tantangan. Menurutnya, gambut yang sudah sangat kering membutuhkan air dalam jumlah besar agar dapat menyerapnya kembali.
”Makanya kemudian banyak relawan yang menyerah karena sumber air nggak ada,” ungkapnya.