Kota Bogor -
Seorang pria lanjut usia (lansia) berusia 83 tahun tewas tertemper comutter line di perlintasan kereta api (KA) Kebon Pedes, Tanahsareal, Kota Bogor, Jawa Barat (Jabar). Korban diduga mengalami gangguan pendengaran dan tertemper saat berjalan kaki di pinggir rel KA.
"Telah terjadi kecelakaan, seorang warga yang terserempet kereta api di Pondok Rumput Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor," kata Kapolsek Tanah Sareal Kompol Sonson Sudarsono, Selasa (3/11/2026).
Sonson mengatakan kecelakaan terjadi saat korban berjalan kaki di pinggir rel KA sekitar pukul 09.45 WIB pagi tadi. Korban diduga mengalami gangguan pendengaran, sehingga tidak menyadari ada kereta rel listrik (KRL) datang dari belakangnya.
"Untuk kronologis dari pihak saksi di lokasi bahwa yang bersangkutan sedang berjalan di bantaran rel kereta, kemudian tiba-tiba ada kereta yang dari arah Bogor menuju Jakarta, kemudian korban tersebut terserempet. Jadi bukan tertabrak, jadi informasinya di lapangan itu terserempet kereta api yang menuju ke Jakarta," kata Sonson.
"Korban bernama MRS, memang asli warga Kampung Pondok Rumput dan usianya juga kelahiran dari 1943, berarti sudah sepuh. Menurut informasi tetangganya dan keluarga, ada gangguan pendengarannya," imbuhnya.
Sonson menyebut, tim Inafis Polresta Bogor Kota datang ke lokasi, melakukan olah TKP dan mengevakuasi korban. Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka dan pihak keluarga menyatakan menolak dilakukan autopsi.
"Untuk selanjutnya korban atas koordinasi dan keinginan pihak keluarga, kemudian dibawa juga untuk dilakukan pemakaman," kata Sonson.
Ketua RW setempat bernama Sumardi mengatakan, comutter line sempat berhenti dan masini memberitahu warga ada korban tertemper KA. Oleh warga, jasad korban sempat digeser karena berada di tengah rel KA.
"Kereta tadi sempat berhenti, tapi posisi di ekor (melewati posisi korban). Masinis di sana ngasih tahu bahwa tadi ada yang tertabrak gitu. Sempat berhenti, ngasih tahu ke warga, karena memang tadi kondisinya sepi di sini," Sumardi.
Sumardi menyebut korban diketahui mengalami gangguan ingatan atau pikun dan pendengaran. Korban dikenal sering berjalan kaki sendirian di sekitar tempat tinggalnya.
"Ya memang (korban) sudah pikun, kesehariannya memang sering mondar-mandir gitu. Kalau di sini sih jarang, biasanya di sebelah sana, jarang sampai nyebrang rel biasanya," kata Sumardi.
(sol/jbr)