Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad

Gunung mengajarkan tidak semua ketinggian perlu diteriakkan. Semakin jauh seseorang mendaki, semakin ia memahami betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.

iNews 1 menit baca 0 komentar
Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad
Foto: iNews

Egy Massadiah
Jurnalis Senior, Aktif di Teater Mandiri

GUNUNG mengajarkan satu hal: tidak semua ketinggian perlu diteriakkan. Semakin jauh seseorang mendaki, semakin ia memahami betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.

Filosofi itu mengingatkan saya pada Letjen TNI Iwan Setiawan. Pada awal Oktober 2026, Iwan mengemban amanat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Ia meninggalkan jabatan Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif).

Mendengar nama Iwan, ingatan saya melayang ke masa ketika bintang belum menempel di pundaknya, bahkan ketika pangkatnya masih letnan.

Iwan bersama beberapa teman seangkatannya di Akmil 1992—antara lain Maruli Simanjuntak, Richard Tampubolon, Windyatno, dan Drajad Brima Yoga—sesekali mampir ke tempat saya di Cinere, Depok. Mereka baru saja keluar dari kawah candradimuka pendidikan komando: anak-anak muda yang dipenuhi tenaga, tawa, mimpi, dan semangat menjadi prajurit.

Perkenalan itu tidak lepas dari “Aju factor”. Aju adalah almarhum Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda, sahabat yang sudah seperti keluarga sejak kami duduk di taman kanak-kanak di Tempe, Sengkang, Wajo. Ia prajurit baret merah lulusan Akmil 1991, satu angkatan di atas Iwan dan kawan-kawannya.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.