Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

MagangHub hingga SMK Go Global, Buka Peluang Kerja bagi Lulusan Baru

Program MagangHub dan SMK Go Global bantu lulusan persiapkan diri masuki dunia kerja dengan pengalaman langsung dan pelatihan keterampilan.

Detik 10 menit baca 0 komentar
MagangHub hingga SMK Go Global, Buka Peluang Kerja bagi Lulusan Baru
Foto: Detik

Jakarta -

Bagi lulusan baru, mendapatkan pekerjaan bukan hal mudah. Selain bersaing dengan pelamar lain, mereka kerap menghadapi persyaratan pengalaman kerja yang belum dimiliki.

Di sisi lain, kesempatan bekerja di luar negeri juga membutuhkan keterampilan khusus dan kemampuan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan di negara tujuan. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menghadirkan program MagangHub melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan SMK Go Global melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).

Kedua program ini dirancang untuk membantu calon tenaga kerja mempersiapkan diri memasuki dunia kerja melalui jalur yang berbeda. MagangHub memberikan kesempatan kepada lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja langsung di perusahaan, sedangkan SMK Go Global menyiapkan calon pekerja migran melalui pelatihan bahasa dan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja internasional.

Melalui kedua program tersebut, pemerintah menyediakan sejumlah fasilitas untuk mendukung proses persiapan kerja. Peserta MagangHub mendapat uang saku dan perlindungan jaminan sosial, sementara peserta SMK Go Global dapat mengikuti pelatihan tanpa biaya sesuai ketentuan program.

MagangHub, Kesempatan Kerja Langsung Selama 6 Bulan

MagangHub merupakan program pemagangan nasional yang dijalankan Kemnaker untuk membantu lulusan baru meningkatkan keterampilan dan memperoleh pengalaman kerja. Program ini menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri melalui pemagangan langsung di perusahaan.

Peserta dapat mengikuti pemagangan selama enam bulan di perusahaan penyelenggara, termasuk BUMN dan perusahaan swasta. Selama periode tersebut, mereka berkesempatan mengerjakan tugas sesuai bidang yang dipilih, mengenal lingkungan kerja, dan belajar langsung dari mentor perusahaan.

Pada 2026, pemerintah menargetkan 150.000 peserta mengikuti program ini dalam tiga batch. Batch I diikuti 46.160 peserta, sedangkan Batch II diikuti 40.962 peserta. Dengan demikian, jumlah peserta dari kedua batch mencapai 87.122 orang.

Pendaftaran peserta Batch III dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2026. Calon peserta dapat memantau portal resmi MagangHub untuk memastikan jadwal dan tahapan seleksi terbaru.

Salah satu fasilitas yang diberikan adalah uang saku bulanan setara Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sesuai wilayah penempatan. Uang saku tersebut ditanggung pemerintah selama peserta menjalani pemagangan, sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan selama mengikuti program.

Selain itu, peserta mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Setelah menyelesaikan program sesuai ketentuan, peserta memperoleh sertifikat pemagangan resmi dari Kemnaker.

Peserta juga memiliki akses terhadap sertifikasi kompetensi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sesuai ketentuan yang berlaku. Sertifikat pemagangan dan sertifikasi kompetensi merupakan dua hal berbeda yang dapat mendukung pengakuan atas pengalaman serta kemampuan peserta.

Siapa Saja yang Bisa Mengikuti MagangHub?

Adapun program ini ditujukan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan merupakan lulusan diploma, sarjana, atau pendidikan profesi dari perguruan tinggi yang terdaftar di kementerian terkait.

Masa kelulusan maksimal satu tahun saat mendaftar menjadi salah satu syarat utama. Batas tersebut dihitung sejak tanggal ijazah diterbitkan. Khusus lulusan pendidikan profesi, terdapat ketentuan tambahan mengenai waktu penerbitan sertifikat profesi.

Calon peserta perlu menyiapkan dokumen, antara lain KTP, ijazah, dan transkrip nilai. Pendaftaran dilakukan secara daring melalui portal resmi MagangHub Kemnaker dengan membuat akun SIAPkerja terlebih dahulu.

Setelah melengkapi data, pelamar dapat memilih lowongan yang sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan. Perusahaan kemudian melakukan seleksi, misalnya melalui pemeriksaan administrasi dan wawancara, sebelum peserta ditetapkan untuk mengikuti program.

Kemnaker tidak menetapkan IPK minimal secara umum untuk pendaftaran. Namun, perusahaan penyelenggara dapat memiliki kriteria tambahan sesuai lowongan yang dibuka.

Melalui skema tersebut, lulusan baru mendapat kesempatan mempraktikkan ilmu yang dipelajari, memahami tuntutan pekerjaan, dan membangun pengalaman yang dapat digunakan saat melamar pekerjaan berikutnya.

Pengalaman Magang Jadi Bekal Mencari Kerja

Kesempatan belajar langsung di perusahaan menjadi salah satu manfaat yang dirasakan peserta MagangHub. Mereka dapat mempraktikkan ilmu yang sebelumnya dipelajari sekaligus memahami tanggung jawab dan ritme kerja di lingkungan profesional.

Hal tersebut dirasakan Rafif Hidayat Inzaghi, lulusan Ilmu Komunikasi tahun 2025 yang saat ini mengikuti MagangHub Batch I 2026. Selama pemagangan, Inzaghi terlibat dalam sejumlah pekerjaan, mulai dari menangani media sosial, membuat laporan kampanye, hingga menghadiri acara dan konferensi pers. Ia juga belajar memahami proses kampanye, mulai dari pelaksanaan hingga pelaporan hasil kepada klien.

"Manfaat terbesarnya itu aku ngerti alur campaign dari awal sampai report ke klien. Tapi jujur, hampir semua pembelajaran itu datang dari perusahaan dan tim tempat aku magang, bukan dari program MagangHub-nya sendiri," ujar Inzaghi kepada detikcom belum lama ini.

Dari pekerjaannya, Inzaghi belajar menyusun laporan dan presentasi, berkomunikasi dengan tim, serta mengatur waktu. Ia juga mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana pekerjaan profesional dijalankan sehari-hari.

Pengalaman Inzaghi menunjukkan bahwa proses belajar selama pemagangan turut dipengaruhi oleh tugas yang diberikan perusahaan dan pendampingan tim di tempat peserta menjalani program. Karena itu, pengalaman peserta dapat berbeda sesuai bidang pekerjaan dan lingkungan tempat mereka magang.

Pengalaman serupa dirasakan Dhafin Armia, alumni MagangHub Batch II 2025 yang kini bekerja di salah satu media nasional. Saat mengikuti program tersebut, Dhafin menjalani pemagangan sebagai jurnalis. Tugasnya meliputi penulisan artikel berita dan peliputan di lapangan. Ia pun mendapat kesempatan menerapkan ilmu yang sebelumnya dipelajari saat kuliah.

Menurut Dhafin, tantangan selama magang terutama berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan dan dinamika kerja. Arahan dari mentor serta rekan kerja membantunya melewati proses tersebut.

Selain pengalaman kerja, uang saku yang diterima selama program turut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantunya berbagi dengan orang-orang di sekitarnya.

Setelah menyelesaikan MagangHub, Dhafin melamar pekerjaan di perusahaan lain dan diterima bekerja di salah satu media nasional. Pengalaman selama magang menjadi bekal saat menjalani proses rekrutmen, terutama ketika menjelaskan pengalaman yang relevan dengan pekerjaan yang dilamar.

"Iya membantu. Jadi pada saat tahap interview user/hr saya bisa kasih pengalaman yg relevan," ujar Dhafin.

Pengalaman tersebut juga membuatnya tidak terlalu asing dengan dinamika kerja jurnalistik ketika mulai bekerja di tempat baru.

Cerita Inzaghi dan Dhafin memperlihatkan bagaimana pemagangan dapat membantu lulusan baru mengenal pekerjaan secara langsung dan membangun pengalaman yang relevan. Meski demikian, hasil rekrutmen tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan dan kemampuan masing-masing pelamar.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli sebelumnya menegaskan bahwa pemagangan dalam MagangHub ditujukan untuk meningkatkan kompetensi peserta, bukan menggantikan tenaga kerja reguler di perusahaan.

"Kita terus ngawal perusahaan-perusahaan bahwa kalau mereka magang, ya mereka magang bukan bekerja dan konteks magang sekali lagi adalah mereka untuk meningkatkan kompetensi," ujar Yassierli, dikutip dari detikFinance.

SMK Go Global, Pelatihan untuk Menjangkau Pasar Kerja Luar Negeri

Jika MagangHub berfokus pada pengalaman kerja di dalam negeri, SMK Go Global diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.

Program yang dijalankan KP2MI ini menyediakan pelatihan bahasa dan keterampilan teknis sesuai bidang pekerjaan yang dituju. Sasarannya bukan hanya lulusan SMK, tetapi juga masyarakat umum, termasuk lulusan perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan.

Pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran hingga 2029. Jumlah tersebut terdiri dari 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.

Dari total target tersebut, 300.000 orang berasal dari lulusan SMK dan 200.000 orang dari masyarakat umum. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

Bidang pekerjaan yang disasar antara lain perawat, caregiver atau pendamping lansia, pengelasan, pengemudi bus dan truk, serta sektor perhotelan. Negara tujuan yang disebut KP2MI meliputi Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, Turki, Taiwan, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Peserta yang lolos dapat mengikuti pelatihan tanpa dipungut biaya karena pembiayaannya ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah melalui proses verifikasi.

Pelatihan tidak hanya berisi pembelajaran bahasa asing, tetapi juga keterampilan teknis sesuai kebutuhan pekerjaan. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta mendapat pendampingan kesiapan kerja, informasi peluang kerja, dan fasilitasi pencocokan pekerjaan atau job matching dengan mitra industri serta Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Melalui tahapan tersebut, peserta dipersiapkan untuk mengikuti proses rekrutmen dan penempatan kerja sesuai kebutuhan pemberi kerja. Pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan sejak tahap persiapan agar calon pekerja migran dapat menempuh jalur yang resmi dan aman.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KP2MI Sukarman menjelaskan program ini terbuka bagi masyarakat umum, tidak terbatas pada lulusan SMK.

"SMK Go Global bukan hanya untuk SMK, tapi bisa untuk umum. Bahkan kalau ada lulusan D3, S1 maupun S2 mau mendaftar, silakan mendaftar," ujar Sukarman dalam keterangan resmi KP2MI.

Meski menyediakan pelatihan dan fasilitasi pencocokan kerja, program ini tidak otomatis menjamin peserta memperoleh pekerjaan atau langsung berangkat ke negara tujuan. Peserta tetap perlu memenuhi persyaratan dan mengikuti proses seleksi serta penempatan yang berlaku.

Belajar Keterampilan Baru Lewat SMK Go Global

Manfaat pelatihan SMK Go Global salah satunya dirasakan Tiara, lulusan SMK Negeri 1 Garut yang mengikuti pelatihan barista. Dilansir dari laman resmi KP2MI, Tiara menceritakan keinginannya untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman bekerja di lingkungan internasional.

"Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional," kata Tiara.

Peserta lainnya, Muhammad Zaki, mengikuti pelatihan barista dengan harapan dapat bekerja sebagai barista profesional di Turki.

Selama pelatihan, Zaki mempelajari keterampilan meracik kopi, termasuk membuat latte art atau pola pada permukaan minuman kopi menggunakan susu. Baginya, kemampuan tersebut menjadi salah satu hasil belajar yang berkesan.

"Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika pertama kali mempelajari latte art. Saya benar-benar dari nol, tidak bisa apa-apa, hingga sampai saat ini saya bisa membuat latte art," kata Zaki.

Pengalaman Tiara dan Zaki memberi gambaran tentang keterampilan yang dapat dipelajari peserta melalui pelatihan. Selain mengembangkan kemampuan teknis, peserta juga berkesempatan mempersiapkan diri untuk mengikuti proses rekrutmen sesuai bidang yang diminati.

Meski begitu, pelatihan merupakan salah satu tahapan persiapan. Peserta tetap perlu memenuhi kualifikasi yang diminta pemberi kerja dan menjalani proses penempatan sesuai ketentuan di negara tujuan.

Evaluasi untuk Memperkuat Keberlanjutan Program

Pengalaman peserta memberikan gambaran mengenai manfaat pemagangan dan pelatihan dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Namun, agar manfaat tersebut semakin optimal, pelaksanaan program tetap perlu dievaluasi, mulai dari pendampingan peserta hingga keterhubungannya dengan kebutuhan industri dan peluang kerja yang tersedia.

Inzaghi menilai pembekalan sebelum penempatan, penjelasan hak dan kewajiban, serta evaluasi keterampilan peserta MagangHub masih dapat diperkuat. Menurutnya, informasi yang jelas sejak awal dapat membantu peserta memahami apa yang perlu dipersiapkan sebelum mulai magang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai program pemagangan dapat membantu pencari kerja muda, tetapi perlu didukung kebijakan lain agar dampaknya lebih luas.

"Terkait dampaknya terhadap pengangguran muda, program ini semestinya bisa membantu. Tetapi jangan dianggap sebagai solusi one-size-fits-all yang bisa menyelesaikan permasalahan ini sendirian. Program ini harus diperkuat dengan program-program dan kebijakan-kebijakan yang lain, jadi tidak berdiri sendiri," kata Faisal, dikutip dari Antara.

Masukan tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman magang dan pelatihan perlu diikuti dengan persiapan menuju tahap berikutnya. Pendampingan yang baik, keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, dan informasi lowongan yang jelas dapat membantu peserta memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Di sisi lain, perluasan kesempatan kerja juga penting agar lulusan memiliki lebih banyak pilihan setelah menyelesaikan program.

Membuka Kesempatan, Mempersiapkan Masa Depan Karier

MagangHub dan SMK Go Global menawarkan jalur persiapan kerja yang berbeda. MagangHub memberikan kesempatan kepada lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman langsung di perusahaan, disertai uang saku dan perlindungan jaminan sosial. Sementara itu, SMK Go Global menyediakan pelatihan bahasa dan keterampilan teknis bagi masyarakat yang ingin menjajaki peluang kerja di luar negeri.

Pengalaman Inzaghi dan Dhafin memperlihatkan bagaimana pemagangan dapat membantu peserta memahami pekerjaan dan membangun portofolio. Sementara itu, Tiara dan Zaki menunjukkan bagaimana pelatihan memberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru sesuai bidang yang ingin ditekuni.

Kedua program tersebut membuka kesempatan bagi lulusan untuk belajar, menambah pengalaman, dan mempersiapkan langkah menuju dunia kerja. Dengan pendampingan yang baik, pelaksanaan yang terus diperbaiki, serta dukungan terhadap perluasan lapangan kerja, kesempatan itu diharapkan dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi peserta.

(akn/ega)



Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.