Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

MBG Prasmanan Dianggap Lebih Efisien, Bisa Tekan Jumlah Sampah Sisa Makanan

Analisis tentang pentingnya inovasi skema prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter siswa.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
MBG Prasmanan Dianggap Lebih Efisien, Bisa Tekan Jumlah Sampah Sisa Makanan
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com - Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto harus ditingkatkan kualitasnya. Menurut analis politik dari Digdaya Indonesia, Fadhil Abdurrahim, skema prasmanan bisa menjadi salah satu opsi. 

Menurut Fadhil, skema prasmanan bisa menjadi inovasi dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG. Tidak hanya itu, skema tersebut diyakini akan memperkuat pendidikan karakter dan kepedulian para siswa penerima manfaat lingkungan di sekolah.

Setelah berjalan lebih kurang 2 tahun, Fadhil melihat MBG bukan hanya program pemenuhan kebutuhan gizi anak, melainkan juga sebagai investasi sosial yang bisa diandalkan untuk membangun kebiasaan hidup sehat, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan sejak dini.

”Program MBG memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar distribusi makanan. Jika dikelola dengan tepat, ruang makan sekolah dapat menjadi tempat anak-anak belajar berbagi, meng-antre, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan,” kata dia pada Selasa (20/10).

Skema prasmanan, lanjut Fadhil, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan. Pendekatan itu berpotensi mengurangi sisa makanan yang hingga saat ini masih menjadi persoalan dalam pelaksanaan program MBG. 

Dalam naskah berjudul MBG Prasmanan: Republik di Balik Piring Seng karya pengamat kebijakan publik Rais Kaharuddin, disebutkan bahwa sisa makanan berkurang dari rata-rata 14,2 persen pada model kotak menjadi 3,7 persen pada model prasmanan. 

”Efisiensi program pemerintah tidak cukup dihitung dari besarnya anggaran yang terserap atau jumlah porsi yang dibagikan. Kita juga perlu mengukur berapa banyak makanan yang benar-benar dikonsumsi, berapa banyak limbah yang dihasilkan, dan seberapa baik kualitas layanan yang diterima siswa,” jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Fadhil  menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono atas upaya mendorong penguatan kualitas pelaksanaan program MBG. Menurut dia, penyempurnaan tata kelola MBG melalui inovasi pelayanan merupakan langkah penting.

”Tantangannya bukan hanya memastikan makanan sampai kepada penerima manfaat, tetapi juga membangun sistem yang efisien, aman, berkualitas, dan mampu mendukung pendidikan karakter,” ujarnya. 

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.