Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Menang Sebut RI Jadi Episentrum Baru Peradaban Islam yang Ramah-Progresif

Menag Nasaruddin Umar menegaskan Indonesia sebagai episentrum peradaban Islam modern di Forum Internasional di Italia, usung pluralisme progresif dan ekoteologi

Detik 4 menit baca 0 komentar
Menang Sebut RI Jadi Episentrum Baru Peradaban Islam yang Ramah-Progresif
Foto: Detik

Jakarta -

Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menegaskan Indonesia kini menjadi episentrum baru peradaban Islam modern yang ramah, progresif, dan inklusif. Hal ini ditegaskan saat menjadi pembicara kunci dalam "Forum 16 - Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi" di Casa Leonori, Assisi, Italia.

Forum tersebut merupakan rangkaian Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant'Egidio bertajuk "Unarmed and Disarming Peace". Di hadapan tokoh agama dunia, Nasaruddin juga menyampaikan dua pokok pemikiran, yaitu pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara, sebagai peta jalan baru bagi harmoni global.

Terkait pluralisme progresif atau beyond tolerance, Nasaruddin menegaskan kerukunan sejati di Kepulauan Nusantara tidak dibangun di atas ego mayoritas-minoritas atau sekadar toleransi pasif. Pluralisme progresif menuntut penghormatan tulus atas perbedaan nilai universal tanpa memaksa penyeragaman.

"Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Sementara terkait ekoteologi nusantara atau beyond domination, Nasaruddin mengidentifikasi krisis iklim global berakar dari cara pandang teologi yang terlalu maskulin, condong pada dominasi dan eksploitasi alam sebagai objek.

Melalui perspektif sufistik Islam, Nasaruddin mengajak dunia beralih ke aspek feminin ilahi (Asma'ul Husna didominasi sifat rahmah/kasih sayang) untuk membaca alam sebagai tajalli (manifestasi) keindahan Tuhan.

"Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak," tegasnya.

Sebagai potret praktik baik dalam penerapan ekoteologi di Tanah Air, Nasaruddin berbagi pengalaman dalam pengelolaan Masjid Istiqlal Jakarta. Saat ini, Masjid Istiqlal tercatat sebagai tempat ibadah pertama di dunia yang menerima sertifikasi bangunan hijau final Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC).

"Melalui peremajaan ramah lingkungan yang mencakup penggunaan panel surya pintar serta pengelolaan air wudu yang efisien, Istiqlal berhasil membuktikan penghematan energi sebesar 23% dan air hingga 36%, menjadikannya teladan nyata bagaimana spiritualitas mampu menjawab tantangan perubahan iklim dunia," paparnya.

Nasaruddin juga mengajak para pemimpin dunia untuk menempatkan "bahasa agama" sebagai instrumen utama diplomasi internasional untuk membantu menyelesaikan krisis kemanusiaan dan memulihkan ekosistem bumi yang rusak.

Menurutnya, pendekatan spiritual jauh lebih efektif melucuti ego permusuhan dibanding manuver politik garis keras yang sering menemui jalan buntu. Sebagai bukti nyata, Nasaruddin menawarkan potret keberagaman dan stabilitas Indonesia sebagai model pluralisme global yang sukses dikelola dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Validasi dan Sambutan Delegasi Global

Tawaran Indonesia yang disampaikan Nasaruddin dalam forum internasional ini mendapatkan respons positif dari berbagai tokoh dunia yang hadir sebagai panelis dan pengamat.

Penasihat Khusus Abrahamic Family House, UEA, David Rosen pun mengapresiasi penekanan Nasaruddin mengenai pentingnya melampaui formalitas. Menurut Rosen, semangat assisi harus diwujudkan dalam aksi persaudaraan konkret di tingkat lokal demi meredam polarisasi ekstrem global.

Senada, Tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai, Jepang, Megumi Hirota Wada menyetujui pilar ekoteologi yang disampaikan Nasaruddin. Menurutnya, menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab spiritual bersama, di mana harmoni manusia dengan alam merupakan kunci dari perdamaian sejati.

Dukungan juga disampaikan Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Takhta Suci, Kardinal George Jacob Koovakad. Ia menilai model kerukunan Indonesia serta Deklarasi Istiqlal 2024 merupakan inspirasi nyata bagaimana dialog teologis mampu melahirkan tindakan kemanusiaan bersama yang konkret.

Tokoh lainnya, Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association, Kamboja, Touch Sarith menyoroti poin pluralisme progresif. Sarith memuji pendekatan Nusantara yang menolak dominasi mayoritas atas minoritas, menilainya sebagai fondasi kokoh untuk stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Pakar Hukum dan Kebebasan Beragama Internasional, Prof. W. Cole Durham menilai makalah Nasaruddin memberikan landasan teoritis-praktis yang kuat bagi pengembangan kebijakan hukum dan kebebasan beragama berbasis pelestarian lingkungan (eco-justice).

Sementara itu, Delegasi Sipil dan Pengamat Perdamaian, Mohammed Esslimani & Valerie Reginer menyatakan seruan Nasaruddin untuk menggunakan bahasa agama sebagai instrumen formal diplomasi internasional merupakan terobosan krusial untuk melucuti permusuhan psikologis di wilayah-wilayah konflik. Apresiasi ini pun semakin memantapkan posisi Indonesia sebagai pelopor gerakan Islam moderat dunia (Wasatiyyah Islam).

Sebagai informasi, turut mendampingi Menag di Italia, Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt. Dirjen Bimas Katolik Adiyarto Sumardjono. Agenda Menag dijadwalkan berlanjut menuju Vatikan untuk menemui Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan guna membahas penguatan kemitraan strategis, serta penjajakan kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d'Islamistica (PISAI).

(akn/ega)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.