Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Merawat Rasa di Tengah Kuasa Algoritma

Tulisan ini mengajak kita merawat empati melalui budaya, kegiatan warga, dan konten sehat agar kebebasan digital tumbuh bersama tanggung jawab.

Detik 5 menit baca 0 komentar
Merawat Rasa di Tengah Kuasa Algoritma
Foto: Detik

Jakarta -

Kita mengajari anak mencuci tangan sebelum makan. Tetapi sudahkah kita membiasakannya memeriksa informasi sebelum membagikan? Kita mengingatkan pentingnya menjaga tubuh. Seberapa sering kita membicarakan apa yang setiap hari masuk ke dalam pikiran melalui layar telepon?

Pertanyaan itu menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan kita. Ada keluarga yang duduk semeja, tetapi masing-masing sibuk dengan dunianya. Ada orang yang begitu fasih menanggapi persoalan jauh, tetapi tidak mengetahui kesulitan tetangganya. Hubungan digital meluas, sementara kesempatan untuk saling mendengar justru menyempit.

Ruang digital tentu memberi banyak manfaat. Pengetahuan terbuka, kreativitas menemukan penonton, dan warga memperoleh saluran untuk mengoreksi kekuasaan. Namun, kebebasan itu membutuhkan kemampuan mengendalikan diri dan menghargai orang lain. Keduanya perlu dipelajari melalui pengalaman sehari-hari.

Karena itu, pembicaraan tentang etika digital patut bergerak menuju langkah yang lebih konkret. Kita memerlukan kegiatan yang melatih kepekaan, menyediakan ruang perjumpaan, dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Yogyakarta memiliki bekal untuk mengerjakannya.

Dalam publikasi Taman Budaya Yogyakarta mengenai pertemuan kepala taman budaya pada September 2026, program Art for Children disebut sebagai salah satu sarana mengajarkan olah rasa dan budi pekerti sejak dini. Pendidikan seni ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan karakter, melampaui tujuan melahirkan seniman.

Gagasan tersebut layak diperluas. Sanggar, sekolah, perpustakaan, dan balai warga dapat menyediakan kegiatan rutin yang mempertemukan anak dengan seni serta kehidupan bersama. Mendongeng, bermain teater, menari, menggambar, atau berlatih musik memberi kesempatan untuk belajar menunggu giliran, menerima koreksi, dan memperhatikan orang lain.

Dalam latihan gamelan, misalnya, seseorang perlu mendengarkan keseluruhan permainan. Ia belajar kapan harus masuk, seberapa kuat membunyikan instrumen, dan bagaimana menjaga keselarasan. Pengalaman semacam ini dapat menjadi bahan pendidikan etika digital: kebebasan bersuara berjalan bersama kesediaan mendengar.

Pelajaran itu perlu dijembatani secara sadar. Seusai latihan seni, pendamping dapat mengajak peserta membicarakan pengalaman mereka. Bagaimana rasanya ketika pendapat diabaikan? Apa akibatnya jika seseorang terus mendominasi? Bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan?

Dengan cara tersebut, kebudayaan hadir sebagai latihan menghadapi persoalan hari ini.

Olah rasa juga perlu mendapat tempat bersama kegiatan menjaga raga. Ruang bermain, olahraga bersama, jalan kaki, dan kerja bakti memberi kesempatan kepada warga untuk berjumpa di luar layar. Perjumpaan itu penting karena seseorang lebih mudah dipahami ketika kita mengenal kehidupan yang dijalaninya.

Contoh yang menarik pernah diperkenalkan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui kegiatan Sapa Aruh pada 2024. Konsepnya memadukan kegiatan pada car free day dengan ruang aspirasi warga, melalui semangat nyehatke, ngrungoke, nguwongke: menyehatkan, mendengarkan, dan memanusiakan.

Pendekatan tersebut dapat dikembangkan di tingkat kampung dan kalurahan. Kegiatan olahraga pagi bisa diikuti percakapan terbuka mengenai persoalan lingkungan. Kerja bakti dapat disambung dengan pembahasan pengelolaan sampah. Pertunjukan seni warga dapat menyediakan ruang bagi anak muda untuk menyampaikan gagasan.

Syaratnya, percakapan tersebut harus memiliki tindak lanjut. Keluhan perlu dicatat, pihak yang bertanggung jawab ditentukan, dan perkembangannya disampaikan kembali. Warga membutuhkan pengalaman bahwa berbicara secara baik-baik menghasilkan sesuatu.

Di sinilah hubungan antara pelayanan publik dan kesehatan ruang digital menjadi jelas. Ketika aspirasi memperoleh jawaban melalui pertemuan langsung, warga memiliki pilihan selain membuat kegaduhan. Sebaliknya, forum yang hanya menampung keluhan tanpa penyelesaian akan menambah kekecewaan.

Langkah berikutnya adalah membawa pengalaman baik itu ke ruang digital melalui konten yang menarik dan dapat dipercaya.

Arah ini memiliki rujukan. Dalam siaran pers Oktober 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital menghubungkan literasi digital, produksi konten positif, serta kerja sama dengan lembaga budaya sebagai bagian dari penguatan karakter dan identitas budaya.

Penerapannya perlu dekat dengan keseharian. Anak muda dapat dilibatkan membuat video tentang sejarah kampung, mendokumentasikan permainan tradisional, mewawancarai perajin, atau menjelaskan persoalan lingkungan. Cerita mengenai petugas kebersihan, pengelola perpustakaan kampung, dan warga yang merawat sungai juga layak mendapatkan perhatian.

Produksi konten tersebut membutuhkan pendampingan. Kampus, komunitas kreatif, seniman, dan pemerintah daerah dapat membuka kelas kecil tentang penulisan cerita, pengambilan gambar, pemeriksaan fakta, serta izin penggunaan foto. Peserta sebaiknya menghasilkan karya yang benar-benar diterbitkan dan dibahas bersama.

Konten sehat pun perlu dimaknai secara luas. Kritik berbasis data terhadap pelayanan publik termasuk di dalamnya. Begitu pula penjelasan mengenai cara mengajukan pengaduan, mengenali penipuan, atau memeriksa kebenaran sebuah kabar. Mutunya terletak pada ketepatan informasi, penghormatan terhadap martabat manusia, dan manfaatnya bagi pembaca.

Humor tetap mendapat tempat. Bahasa sehari-hari tetap diperlukan. Kreativitas justru harus diberi ruang agar pesan yang berguna tidak tenggelam dalam penyampaian yang kaku.

Bagi intelijen penegakan hukum, pendekatan kebudayaan ini dapat menjadi bahan pemikiran dalam membaca dan mencegah berkembangnya kerawanan sosial. Ruang dialog membantu memperjelas sumber keresahan. Literasi membantu masyarakat menilai informasi. Pelayanan yang responsif memberi jalan penyelesaian sebelum persoalan membesar.

Kegiatan budaya tetap harus menjadi ruang yang aman bagi ekspresi warga. Perbedaan pendapat perlu didengar secara wajar. Ketelitian membaca konteks, memverifikasi informasi, dan bekerja sesuai kewenangan menjadi penting agar upaya menjaga ketenteraman sekaligus memelihara kepercayaan.

Keberhasilan seluruh langkah tersebut perlu dinilai dari perubahan yang nyata. Apakah kegiatan berlangsung rutin? Apakah anak muda memperoleh ruang berkarya? Apakah pengaduan warga ditindaklanjuti? Apakah konten yang dihasilkan membantu orang memahami persoalan?

Jumlah penonton dapat dihitung. Tumbuhnya kepedulian memerlukan perhatian yang lebih sabar.

Pada akhirnya, merawat ruang digital dimulai dari kebiasaan yang kita bangun di rumah, sekolah, sanggar, dan kampung. Di tempat-tempat itulah orang belajar memperhatikan, bekerja sama, serta mengakui bahwa orang lain memiliki perasaan dan kepentingan yang sama berharganya.

Kita membutuhkan raga yang terawat, pikiran yang jernih, dan rasa yang terus dilatih. Dengan bekal itulah kebebasan digital dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya kehidupan bersama.

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili sikap atau kebijakan institusi Kejaksaan Republik Indonesia.

Alfa Dera. Kepala Seksi Ideologi, Politik, Pertahanan, dan Keamanan pada Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta.

(rdp/imk)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.