Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

MUI Dorong Perempuan jadi Penggerak Perdamaian Global dan Solidaritas untuk Palestina

Ketua MUI Siti Ma'rifah menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun perdamaian dan solidaritas untuk Palestina.

Jawa Pos 2 menit baca 0 komentar
MUI Dorong Perempuan jadi Penggerak Perdamaian Global dan Solidaritas untuk Palestina
Foto: Jawa Pos

JawaPos.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Siti Ma’rifah menegaskan bahwa perempuan mempunyai posisi penting dalam membangun perdamaian. Menurutnya, kontribusi perempuan tidak semestinya dipandang sebagai pelengkap, sebab mereka dapat berperan sebagai pendidik, mediator, penggerak, hingga pemimpin.

Pernyataan itu disampaikan dalam Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bersama Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI dalam forum bertajuk 'Perempuan, Kemanusiaan dan Solidaritas Global untuk Palestina' di Gedung MUI, Jakarta, Rabu (21/10).

Forum tersebut menjadi wadah dialog sekaligus konsolidasi untuk memperkuat keterlibatan perempuan dalam gerakan kemanusiaan dan solidaritas internasional bagi rakyat Palestina. 

"Peran strategis perempuan dalam membangun solidaritas kemanusiaan dan perdamaian global bukan hanya pelengkap, tetapi merupakan kekuatan utama perdamaian. Karena ibu adalah sebagai pendidik, mediator, penggerak, sekaligus pemimpin," kata Siti Ma'rifah.

Siti Ma’rifah menjelaskan, upaya membangun perdamaian dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian berkembang melalui pendidikan dan komunitas hingga ke ranah pengambilan keputusan global. 

Ia menekankan, penanaman nilai toleransi, empati, serta penolakan terhadap kekerasan sejak usia dini dinilai penting untuk membentuk generasi yang menghargai perdamaian.

Meski demikian, ia menilai keterlibatan perempuan dalam perundingan dan penentuan kebijakan perdamaian masih perlu ditingkatkan. Perempuan tidak boleh hanya menjadi kelompok yang menanggung dampak konflik, tetapi juga harus mendapatkan ruang untuk terlibat dalam penyusunan solusi.

"Perdamaian global tidak akan pernah tercapai jika perempuan hanya dijadikan penonton. Kita perlu mendorong penguatan keterlibatan perempuan, termasuk dalam penetapan kuota kebijakan minimal 30% keterlibatan perempuan dalam proses-proses perdamaian dunia," tegasnya.

Dalam kaitannya dengan situasi Palestina, Siti Ma’rifah mengajak perempuan Indonesia memperluas kepedulian terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban konflik. Ia menekankan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh jarak geografis maupun perbedaan kewarganegaraan.

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.