Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Netanyahu Unggul Tanpa Mayoritas Mutlak, Negosiasi Koalisi Bakal Alot

Setelah seluruh suara dihitung, koalisi Netanyahu unggul atas oposisi. Namun, tak ada yang meraih mayoritas, negosiasi koalisi diperkirakan berlangsung alot.

Detik 3 menit baca 0 komentar
Netanyahu Unggul Tanpa Mayoritas Mutlak, Negosiasi Koalisi Bakal Alot
Foto: Detik

Tel Aviv -

Hasil akhir penghitungan suara:

Komite Pemilihan Pusat Israel telah merilis hasil akhir penghitungan surat suara dari pemilu yang digelar pada Selasa (27/10).

Blok Netanyahu Raih Total 53 Kursi

  • Likud: 27 kursi
  • United Torah Judaism (UTJ): 7 kursi
  • Otzma Yehudit: 7 kursi
  • Shas: 6 kursi
  • Religious Zionist Party (RZP): 6 kursi

Blok Eisenkot Raih Total 48 Kursi

  • Yashar: 21 kursi
  • B'Yachad: 12 kursi
  • The Democrats: 8 kursi
  • Yisrael Beytenu: 7 kursi

Partai Arab Israel Raih Total 19 Kursi

  • Joint List: 11 kursi
  • Ra'am: 8 kursi

Proses rumit membentuk koalisi pemerintahan

Menjelang pemilu, terdapat dua blok politik yang sudah terlihat jelas. Di satu sisi, ada koalisi pemerintahan yang terdiri dari partai-partai sayap kanan, kanan-jauh, dan kelompok religius yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan partainya, Likud.

Di sisi lain terdapat blok anti-Netanyahu, yang beranggotakan gabungan partai-partai sayap kanan, tengah, dan liberal dengan tujuan utama menyingkirkan sang petahana dari kekuasaan.

Namun, tidak satu pun dari kedua blok tersebut berhasil meraih mayoritas kursi parlemen. Kondisi ini membuat jalan menuju pembentukan pemerintahan baru menjadi jauh lebih rumit.

Kini, proses mencari koalisi pemerintahan yang dapat memperoleh dukungan mayoritas mulai dilakukan. Salah satu pertanyaan utama adalah apakah dua partai Arab-Israel, yang secara bersama-sama meraih rekor 19 kursi, akan dilibatkan dalam pemerintahan mendatang atau setidaknya memberikan dukungan dari luar koalisi.

Ketua Partai Demokrat yang berhaluan liberal-kiri, Yair Golan, mengatakan dirinya telah bertemu dengan pemimpin oposisi Gadi Eisenkot, mantan Perdana Menteri Yair Lapid, serta Mansour Abbas, pemimpin partai Arab Ra'am.

Golan juga menyerukan dialog dengan partai-partai yang dipimpin komunitas Arab. Setelah pertemuannya dengan Eisenkot, ia menulis di platform X bahwa "masa depan Israel sedang dipertaruhkan."

Masih belum jelas apakah faksi-faksi sayap kanan dalam blok anti-Netanyahu yang dipimpin Eisenkot akan bersedia bekerja sama dengan partai-partai Arab tersebut.

Opsi lain yang juga mulai dibicarakan adalah pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan Netanyahu dan Eisenkot. Namun, langkah semacam itu berpotensi kurang diterima oleh pemilih moderat.

Situasi politik menjelang pengumuman

Menjelang pengumuman hasil akhir pemilu parlemen Israel yang pada Kamis (29/10) malam, perhatian tertuju pada tuduhan kecurangan yang memanaskan suasana politik negara tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan partainya, Likud, kembali menegaskan tuduhan bahwa hasil pemilu telah dicurangi oleh partai-partai Arab. Netanyahu mengatakan bukti yang dimiliki akan diserahkan kepada kepolisian, badan keamanan dalam negeri Shin Bet, dan Komite Pemilihan Umum Pusat.

Ia juga menyinggung dugaan keterlibatan pihak asing yang disebut melakukan intervensi dan menyuap pemilih demi menguntungkan partai-partai Arab. Menurut Netanyahu, hal tersebut merupakan "guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.'

Namun, rival utamanya, Gadi Eisenkot, mengingatkan agar para aktor politik tidak memanfaatkan informasi yang belum terverifikasi untuk meragukan hasil resmi pemilu.

Sementara itu, Qatar membantah keras segala tuduhan keterlibatan dalam pemilu Israel, termasuk tuduhan soal pendanaan untuk memengaruhi hasil pemilu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari kampanye disinformasi yang dilancarkan sejumlah politikus Israel untuk menyeret Qatar ke dalam sengketa politik domestik Israel.

Di pihak lain, Sami Abu Shehadeh, ketua salah satu partai dalam aliansi Arab Joint List, menyebut tuduhan tersebut sebagai bentuk hasutan baru terhadap kelompok politik Arab.

Ketua partai Arab Ra'am, Mansour Abbas, menyatakan mendukung penyelidikan atas dugaan campur tangan dalam pemilu. Namun, ia menegaskan partainya tidak memiliki keterlibatan apa pun.

Komite Pemilihan Umum Pusat Israel turut merespons tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada dasar yang mendukung klaim kecurangan sistematis.

"Pemilu Knesset diselenggarakan sesuai hukum. Integritas pemungutan suara di seluruh TPS dijaga secara ketat dan sejauh pengetahuan kami tidak ada dasar untuk tuduhan pelanggaran sistematis terhadap integritas pemilu," tulis Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Komite Pemilu Pusat, Dean Livne, dalam surat yang dikutip The Times of Israel.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Yuniman Farid

(nvc/nvc)

Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.