Jakarta, CNN Indonesia --
Petugas mengevakuasi dua orang utan--induk dan anak--dari lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (23/10) dini hari.
Induk orang utan yang bernama Gadis--diperkirakan usia 25--diselamatkan dari lokasi karhutla dalam kondisi memprihatinkan. Gadis bertahan menjaga anaknya, Garis (usia 10 bulan), dari karhutla meskipun dirinya terjebak dalam jerat.
Saat dievakuasi petugas, induk orang utan itu mengalami luka cukup parah akibat jerat yang melilit kedua pergelangan tangannya.
Dalam catatan BKSDA Pos Sampit, Gadis dan Garis menjadi individu orang utan kelima dan keenam yang diselamatkan di Kotim selama masa tanggap darurat bencana karhutla.
Petugas BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan informasi awal mengenai keberadaan dua individu orang utan tersebut diterima dari aktivis lingkungan Sampit bernama Awil pada Kamis (22/10) sekitar pukul 16.49 WIB.
Muri menjelaskan induk dan anak orang utan itu sebenarnya telah dicari saat petugas melakukan observasi pada 12 Oktober lalu. Namun, saat itu keberadaan satwa dilindungi tersebut belum berhasil ditemukan.
"Setelah menerima informasi terbaru, kami berkoordinasi dengan warga setempat bernama Karyadi untuk memastikan keberadaan dan pergerakan keduanya. Pemantauan kemudian dilakukan agar tim penyelamat dapat segera menuju lokasi," ujar Muri, Sabtu (24/10) dikutip dari detikKalimantan.
Informasi terbaru tersebut kemudian diteruskan kepada pimpinan BKSDA di Pangkalan Bun. Sekitar pukul 19.00 WIB pada Kamis malam, tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II bersama tim Orangutan Foundation International (OFI) bergerak dari Pangkalan Bun menuju Sampit.
"Tim tiba di lokasi sekitar pukul 01.00 WIB pada Jumat dini hari. Proses evakuasi dilakukan hingga Gadis dan Garis berhasil diamankan dari kawasan yang terdampak karhutla.
Namun, proses penyelamatan mengungkap kondisi Gadis yang memprihatinkan. Petugas menemukan tali melilit pergelangan tangan kiri dan kanannya.
"Tali tersebut kemudian dipotong, tetapi bekas lilitannya meninggalkan luka cukup parah," katanya.
Petugas menduga tali tersebut merupakan jerat yang biasa digunakan untuk menangkap babi. Luka pada kedua pergelangan tangan Gadis selanjutnya mendapat penanganan medis dari dokter tim penyelamat.
"Kondisi tersebut menambah keprihatinan terhadap ancaman yang dihadapi satwa liar di tengah kebakaran hutan dan lahan. Saat habitat di sekitarnya terbakar, Gadis harus bertahan bersama anaknya dalam kondisi terluka," ujarnya.
Berdasarkan informasi warga, kebakaran terjadi di sejumlah titik di sekitar lokasi kemunculan kedua orang utan tersebut. Bahkan, sebagian kebun karet milik warga ikut terdampak.
Kebun yang masih bertahan diduga menjadi salah satu tempat berlindung bagi satwa liar yang berusaha mencari kawasan lebih aman. Warga setempat juga harus berjaga di kebun untuk melindungi tanaman karet mereka dari ancaman api.
"Di tengah situasi tersebut, kemunculan Gadis dan Garis memperlihatkan bagaimana kebakaran dapat mempersempit ruang hidup satwa liar sekaligus meningkatkan risiko perjumpaan dengan manusia," ujarnya.
Penyelamatan ini melibatkan BKSDA Kalimantan Tengah Seksi KSDA Wilayah II, OFI, aktivis lingkungan Sampit, serta bantuan anggota Polda Kalimantan Tengah dan Polres Kotim. Proses tersebut juga disaksikan Direktur Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto.
Setelah proses evakuasi dan penanganan medis selesai dilakukan, tim meninggalkan lokasi sekitar pukul 03.00 WIB untuk kembali ke Pangkalan Bun.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelamatan ini. Kami mengimbau kepada masyarakat agar segera melapor apabila menemukan satwa liar dilindungi, seperti orang utan atau beruang madu. Jangan mencoba menangkap atau menangani satwa tersebut karena tindakan itu berbahaya," kata dia.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)