JawaPos.com - Isu mengenai kemungkinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memunculkan pertanyaan mengenai strategi yang akan ditempuh partai tersebut menuju Pemilu 2029.Â
Kehadiran Jokowi di pucuk pimpinan PSI dinilai berpotensi memperkuat daya tarik partai, tetapi belum tentu menjamin keberhasilan dalam pemilihan legislatif (pileg).
Pengamat politik Adi Prayitno menilai, peluang PSI untuk menembus parlemen pada Pemilu 2029 tidak bisa hanya bergantung pada figur Jokowi.
Menurut dia, kekuatan struktur partai dan kualitas calon anggota legislatif (caleg) yang diusung di setiap daerah pemilihan (dapil) justru menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pileg.
"Tergantung kerja keras struktur PSI dan caleg yang diusung di setiap dapil. Karena anatomi politik di pileg itu sebenarnya ada di caleg," kata Adi Prayitno kepada JawaPos.com, Minggu (25/10).
Ia menjelaskan, PSI perlu memastikan mesin partai bekerja secara efektif sekaligus menyiapkan kandidat yang mampu bersaing dengan caleg dari partai lain.
Popularitas tokoh nasional memang dapat memberikan keuntungan politik, tetapi kekuatan tersebut harus diterjemahkan menjadi dukungan nyata di tingkat pemilih.
Adi menilai, peluang PSI untuk lolos ke parlemen akan lebih terbuka apabila partai tersebut mampu mengusung caleg yang kompetitif di setiap dapil.
Bahkan, menurut dia, kemampuan mengamankan setidaknya satu kursi di masing-masing dapil dapat menjadi gambaran penting mengenai kekuatan elektoral partai.