Lewati ke konten utama
tvbangsa.id

Lanjutkan dari posisi terakhir

Penumpang Cerita Horornya Serangan Houthi di Bandara Riyadh: Darahku Membeku

Serangan Houthi mengguncang bandara Riyadh, menyebabkan kepanikan dan banyak korban. Penumpang berlarian mencari tempat aman di tengah kekacauan.

Detik 4 menit baca 0 komentar
Penumpang Cerita Horornya Serangan Houthi di Bandara Riyadh: Darahku Membeku
Foto: Detik

Jakarta -

Ledakan diikuti guncangan hebat menggetarkan bandara di Riyadh akibat serangan kelompok Houthi dari Yaman. Horornya serangan itu membuat penumpang yang ketakutan berlarian mencari tempat aman saat kepanikan dan kekacauan melanda terminal bandara.

"Saya mendengar suara yang sangat keras, begitu keras hingga saya merasakan bandara berguncang," ujar seorang warga Riyadh berusia 32 tahun dilansir AFP, sehari setelah serangan mematikan yang dituduhkan Arab Saudi sebagai ulah Houthi yang didukung Iran di Yaman, Senin (12/10/2026).

"Sirene peringatan bandara berbunyi, dan saat itulah kepanikan bermula," ujarnya.

Mereka berbicara kepada AFP dengan syarat anonimitas karena adanya ancaman tindakan keras dari otoritas Saudi terhadap siapa pun yang angkat bicara mengenai serangan-serangan tersebut.

"Orang-orang yang berada di terminal 3 mulai berlari ke arah kami. Wajah sebagian dari mereka berlumuran darah," tutur warga berusia 32 tahun itu.

"Ada yang kehilangan tangan atau lengan. Orang-orang berlarian sambil menggendong korban luka yang berlumuran darah," ungkap warga tersebut.

"Darahku terasa membeku. Saya tidak tahu harus ke mana atau apa yang harus dilakukan," tuturnya.

Petugas keamanan mengawal dia dan penumpang lainnya ke lantai bawah, mereka menunggu selama satu jam sebelum diizinkan meninggalkan lokasi kejadian. Seorang juru bicara militer Saudi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang.

Serangan mematikan ini merupakan yang kedua dalam kurun waktu tiga hari, menyusul serangkaian serangan Houthi yang menyasar bandara, instalasi energi, dan kapal tanker minyak Saudi setelah gencatan senjata bertahun-tahun antara kedua belah pihak kandas pada bulan Juli.

Di sejumlah rumah sakit Riyadh, kementerian kesehatan mengaktifkan protokol darurat untuk menangani insiden dengan banyak korban, di mana para dokter diperintahkan untuk melapor ke fasilitas medis di seluruh Riyadh.

"Jumlah korbannya jauh lebih banyak daripada yang pernah saya lihat di sini sebelumnya," ujar seorang dokter di Riyadh kepada AFP, seraya menambahkan bahwa beberapa jemaah yang hendak menuju Mekkah tiba dengan kain ihram putih mereka yang telah ternoda darah.

"Para pasien mengalami cedera parah pada anggota tubuh serta pecahan kaca yang tertanam di wajah dan mata mereka," tambahnya.

"Setidaknya empat orang mengalami gangguan saraf yang parah," imbuhnya.

Rekaman CCTV memperlihatkan kepulan asap dan api saat terjadinya serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, 10 Oktober 2026. Gambar ini diambil dari sebuah video yang dirilis untuk publik.Rekaman CCTV memperlihatkan kepulan asap dan api saat terjadinya serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, 10 Oktober 2026. Gambar ini diambil dari sebuah video yang dirilis untuk publik. (via REUTERS/Saudi Ministry of Media)

Otoritas Arab Saudi sebagian besar tetap bungkam mengenai skala dan cakupan serangan Houthi selama tiga bulan terakhir, sehingga membuat sebagian warga khawatir akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Pesan teks peringatan yang sebelumnya memberi tahu warga tentang adanya rentetan serangan kini tidak lagi muncul dalam beberapa minggu terakhir. "Saya ingin pergi dari sini," ujar seorang warga Riyadh yang merasa frustrasi kepada AFP.

"Saya mengerti mereka tidak ingin menimbulkan kepanikan, tetapi bicaralah kepada kami. Adanya saluran komunikasi akan membuat kami merasa lebih tenang," ungkapnya.

Warga lain memutuskan untuk tidak lagi bepergian melintasi kerajaan tersebut setelah terjebak di tengah situasi serangan. "Saya tidak akan pernah lagi terbang melintasi Arab Saudi," kata seorang warga negara India yang penerbangan transitnya menuju Riyadh dialihkan dan terpaksa mendarat di Dammam.

Di sana, ia bersama istri dan anaknya yang masih kecil tidur di terminal, mereka mengaku tidak mendapatkan informasi apa pun dari maskapai penerbangan dan kehilangan bagasi mereka.

"Kami menghabiskan malam di bandara, tidur di lantai dan kursi," tambahnya. "Bukan hanya kami, ada setidaknya belasan orang lain dari penerbangan yang sama di sekitar saya yang terus menunggu sepanjang malam."

Seorang pelancong lainnya sedang dalam perjalanan udara menuju Riyadh ketika pesawat tiba-tiba berbalik arah kembali ke Jeddah, memicu ketakutan di kalangan sebagian penumpang. "Kami panik," ujar wanita berusia 39 tahun itu.

Saat ditanya apakah ia bersedia kembali bepergian menggunakan pesawat di wilayah Saudi selama perang masih berkecamuk, jawabannya tegas.

"Tidak akan pernah. Saya tidak ingin lagi mengalami pengalaman mengerikan seperti ini," imbuhnya.

(rfs/yld)



Komentar (0)

Memuat komentar…

Komentar gagal dimuat.