Jakarta -
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meluncurkan program Duta Antihoaks Jakarta 2026. Program ini melibatkan 356 pelajar SMA dari berbagai sekolah di Jakarta untuk ikut memerangi penyebaran informasi bohong atau hoaks.
Pramono mengatakan program Duta Antihoaks Jakarta merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Dia berharap keterlibatan generasi muda dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah informasi yang beredar di ruang digital.
"Saya terus terang gembira dengan acara ini karena ini adalah mungkin yang pertama kali ada Duta Antihoaks di Republik Indonesia ini. Apalagi sebagai dutanya adalah pelajar-pelajar kita," kata Pramono dalam acara penganugerahan Duta Antihoaks Jakarta 2026 di Balai Kota Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurut Pramono, persoalan hoaks bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tantangan di berbagai negara. Karena itu, dia menilai generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah percaya maupun ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pemprov DKI Jakarta, kata dia, sebenarnya telah memiliki program Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik). Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup tanpa keterlibatan aktif anak-anak muda.
"Maka untuk itu Pemerintah DKI Jakarta ingin melibatkan Saudara-saudari sekalian secara proaktif," ujarnya.
Pramono juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi dan transparansi pemerintah untuk mencegah munculnya informasi yang bias. Dia mencontohkan kebiasaannya yang tidak pernah bersedia melakukan wawancara secara off the record.
Menurutnya, informasi yang disampaikan secara terbuka dapat meminimalkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Dia juga menyebut Pemprov DKI secara rutin menyampaikan laporan APBD kepada publik setiap semester.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan program Duta Antihoaks Jakarta 2026 diikuti 356 pelajar yang mendaftar sejak Juli 2026. Para peserta berasal dari 110 SMA di Jakarta.
"Pesertanya 356 dari 110 SMA yang ada di Jakarta," kata Marulina.
Marulina menjelaskan proses seleksi dilakukan selama empat bulan. Dari ratusan peserta tersebut, sebanyak 50 pelajar terpilih mengikuti pelatihan atau in-house training. Seleksi kemudian dilanjutkan hingga menyisakan 10 finalis.
Sepuluh finalis tersebut mendapatkan pembekalan dan diminta menyusun proyek kampanye literasi digital. Proyek itu kemudian dipresentasikan di hadapan dewan juri yang terdiri dari unsur Pemprov DKI, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta praktisi dan pegiat konten.
Dari proses tersebut, terpilih dua pelajar sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026, yakni Winda dan Ibrahim.
Marulina mengatakan kedua duta tersebut akan menjalankan sejumlah program selama satu tahun ke depan. Di antaranya kegiatan edukasi antihoaks ke sekolah-sekolah, kampanye digital bulanan, hingga pembentukan agen antihoaks di lingkungan sekolah.
"Nanti mereka akan pergi juga ke sekolah-sekolah, mengunjungi sekolah untuk memberikan edukasi interaktif bersama Diskominfotik dan juga Komdigi RI," ujarnya.
Selain itu, para duta akan mengembangkan kampanye edukasi berbasis isu-isu Jakarta. Pemprov DKI juga akan mengukur perubahan perilaku masyarakat setelah program tersebut berjalan.
(bel/jbr)